Galeri

Pengaruh Globalisasi dan Modernisasi pada Pergeseran Nilai Budaya

Identitas Budaya Terancam

Oleh Rikard Bagun
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0607/31/nasional/2844199.htm

Orientasi dan strategi kebudayaan bangsa Indonesia yang tidak jelas
telah melahirkan kegamangan dan kebingungan di tengah gelombang
perubahan yang berlangsung begitu cepat dan rumit.

Telah muncul kerisauan di kalangan pemikir sosial budaya dan kalangan
intelektual atas arah perkembangan budaya Indonesia yang terkesan
tidak jelas.

Kerisauan itu mengemuka dalam seminar “Meletakkan Posisi Kebudayaan
dalam Proses Menjadi Indonesia” awal bulan Juni lalu di Jakarta yang
diselenggarakan Lingkar Budaya dengan harian Kompas.

Kekuatan budaya sebagai daya ikat berbangsa dan bernegara cenderung
kedodoran. Daya tahan kebudayaan pun rapuh di tengah olengan dan
terjangan globalisasi.

Bahkan, muncul kecemasan tentang kemungkinan bangsa Indonesia
tercerabut dari akar budayanya sendiri dan terombang-ambing oleh
pengaruh budaya dari luar.

Tidak adanya pijakan dan pegangan kuat pada kebudayaan membuat bangsa
Indonesia menjadi gamang dan limbung kehilangan arah.

Identitas Indonesia secara kultural menjadi kabur di tengah benturan
kebudayaan global. Budaya Indonesia sedang mengalami disorientasi.

Padahal, dalam menghadapi guncangan perubahan yang begitu cepat dan
hebat, upaya memperkuat identitas budaya sebagai jati diri bangsa
seharusnya diperkuat. Agar tidak larut dan terbawa arus, sangat
diperlukan upaya terpadu untuk membangun pijakan budaya yang kuat.

Sesungguhnya para bapak pendiri Republik, seperti Bung Karno, sejak
awal sangat menekankan kekuatan budaya bangsa sebagai unsur tangguh
dalam pembangunan bangsa dan karakter, nation and character building.

Tuntutan penguatan budaya itu bahkan kini semakin relevan di tengah
olengan globalisasi. Identitas budaya Indonesia perlu diperkuat agar
tidak kehilangan jati diri di tengah proses perubahan yang berjalan
begitu cepat.

Tanpa penguatan kebudayaan, bangsa Indonesia akan kehilangan kekuatan
mempertahankan jati dirinya dalam menghadapi penetrasi budaya global
yang begitu ganas.

Hanya dalam kenyataannya, upaya macam itu justru melemah, yang lebih
merefleksikan kedangkalan visi generasi sekarang. Tidak ada lagi
pemimpin yang berbicara lantang dan terus-menerus tentang pentingnya
pengembangan budaya. Juga tidak muncul pemikiran kebudayaan yang
produktif, seperti generasi 1930-an sampai generasi 1945.

Lebih memprihatinkan lagi, setelah era reformasi, pengembangan
kebudayaan sebagai salah satu unsur penting dalam kehidupan berbangsa
justru disepelekan. Reformasi tidak dijadikan sebagai momentum untuk
kebangkitan kebudayaan. Tidak terjadi renaisans.

Sebaliknya, urusan kebudayaan cenderung diredusir. Masalah
kebudayaan, misalnya, tidak lagi dimasukkan dalam Kementerian
Pendidikan, tetapi dimasukkan ke dalam kegiatan Kementerian
Pariwisata. Kebijakan ini sama sekali tidak mendorong penguatan
pengembangan kebudayaan.

Muncul pula ancaman lain karena sebagian warga masyarakat Indonesia
lebih tertarik dan justru ngotot mengadopsi budaya dari luar. Sistem
nilai budaya dari luar bahkan dipakai sebagai ukuran untuk menggeser
budaya Indonesia yang merupakan warisan leluhur bangsa.

Pada sisi lain, upaya menggali dan menemukan kembali budaya Indonesia
sebagai warisan ribuan tahun dari para leluhur tidak begitu mencolok.
Proses kepunahan sejumlah perangkat budaya seperti dibiarkan saja.

Banyak kesenian dan bahasa Nusantara sebagai ekspresi kebudayaan
terancam mati. Sejumlah warisan budaya Indonesia yang sangat kaya dan
penuh variasi dengan sistem nilai yang tinggi, mulai terdesak.

Wacana tentang pengembangan budaya juga surut. Tidak muncul polemik
kebudayaan seperti tahun 1930-an atau perjuangan mendirikan Perikatan
Program Radio Ketimuran (PPRK) pada zaman penjajahan, yang mendorong
pengembangan budaya bangsa Indonesia.

Belakangan ini, polemik dan silang pendapat memang muncul, tetapi
menyangkut budaya dari negara atau kawasan lain, bukan kebudayaan
Indonesia sebagai warisan leluhur.

Sebaliknya, polemik atau silang pendapat dalam proses pemantapan
pijakan budaya bangsa Indonesia sendiri praktis tidak kedengaran,
atau hanya sayup-sayup.

Mulai muncul kekhawatiran tentang kemungkinan Indonesia tercerabut
dari akar budaya leluhurnya dengan meniru-niru budaya dari luar.

Ekspresinya, antara lain, dalam bidang penggunaan bahasa asing yang
tidak proporsional. Bahasa asing kini digunakan untuk nama-nama
perumahan atau program di radio dan televisi, yang menjuruskan budaya
Indonesia bersifat gado-gado (mestizo culture) yang tidak karuan.

Pembelaan terhadap penggunaan bahasa Indonesia sebagai salah satu
kekuatan budaya bangsa tidak begitu mencolok.

Tentu saja, budaya itu sendiri tidaklah statis, tapi dinamis dan
terbuka untuk perubahan sesuai dengan kebutuhan perkembangan zaman.
Nilai-nilai yang baik dari luar dapat saja dan perlu diadopsi sesuai
dengan sistem nilai budaya bangsa Indonesia, yang sudah teruji
melalui perjalanan waktu panjang dan turun-temurun.

Identitas dan karakter bangsa Indonesia yang unik justru ditemukan
dalam budayanya. Tanpa upaya mempertahankan nilai budaya sebagai jati
diri bangsa, godaan mengadopsi budaya dari luar menjadi meningkat.
Taruhannya tidaklah kecil karena budaya bangsa Indonesia sebagai jati
diri akhirnya hanya bersifat tiruan, imitasi, dan semu. Sungguh
celaka!

____________________________________________________

Menurut saya, artikel ini cukup menggambarkan bagaimana nilai-nilai moral bangsa yg terkenal dengan keluhurannya telah terkikis oleh globalisasi yang membentuk modernisasi dalam berpikir dan bertindak. Modernisasi bukanlah suatu hal yang saya nilai salah, namun harus bisa kita seimbangkan dengan penanaman nilai-nilai luhur budaya kita. Hal ini tentunya untuk mecegah masuknya efek negatif dari pola hidup yang kebarat-baratan yang pada dasarnya tak sesuai dengan pola hidup bangsa Indonesia.

Terkait dengan pemerintah, saya mengaharapkan agar kembalinya bidang kebudayaan kepada kementrian pendidikan. Mengapa demikian? Karena dari pendidikan, disanalah budaya dapat di terapkan serta diwariskan ke generasi selanjutnya tanpa kehilangan eksistensinya. Namun, jika pemerintah tetap pada pilihannya, menempatkan kebudayaan sebagai komoditas di kementrian budaya dan pariwisata. Kita akan melihat apa yang akan terjadi dengan nilai budaya yang telah terkenal seantero dunia, namun masyarakatnya telah kehilangan orientasi dalam menerapkan nilai-nilai moral oleh karena nilai moral yang ada pada budaya telah beralih fungsi menjadi sebuah komoditas perdagangan bernama pariwisata.


2 responses to “Pengaruh Globalisasi dan Modernisasi pada Pergeseran Nilai Budaya

  1. keren banget artikelnya, membantu saia menyelesaikan tugas kuliah saia. Nice post :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s