Galeri

Akomodasi Budaya Lokal Dalam Islam

Kita telah lama melihat sebuah fenomena Islam yang terbagi dua, yakni Islam yang modern dan Islam yang berbasiskan budaya. Tema yang saya angkat kali ini sangat perlu kita renungkan karena beragama tanpa melihat unsur budaya sering kali terasa kering. Mereka yang mengatasnamakan diri Islam yang kafah (benar), menganggap sebuah unsur budaya memudarkan essensi beragama yang murni. Namun pada realita praktiknya pun, agama Islam masuk ke Indonesia melalui proses akulturasi budaya yang menghasilkan sebuah asimilasi yang besar yang dinamakan masyarakat Islam Indonesia.

Mengapa dikatakan kita sebagai Islam Indonesia? sebuah pertanyaan menarik yang telah tentu tergambar jelas dalam sejarah. Nusantara, yang awalnya kepulauan yang bukan merupakan basis jajahan Islam. Kepulauan ini berdiri bebas dengan sebuah kepercayaan Hindu-Buddha yang juga masuk melalui proses asimilasi dengan peradaban animisme yang kala itu menjadi agama nenek moyang kita. Hal ini yang telah pula dicermati oleh para wali songo yang ingin meraih sebuah penyebaran yang damai dan maksimal. Dan agama yang berdamai dengan budaya itu meraup sukses dalam dakwahnya.

Wali songo, sebagai lambang kesuksesan penyebaran Islam di Indonesia, mengunakan tiga prinsip dalam berdakwah. Pertama adalah momong, yang berarti mengasuh. Dalam bahasa modern berarti persuasif. Mereka menggunakan sebuah perilaku persuasif dalam mengadopsi budaya lokal. Dan kedua adalah momor, yang berarti bergaul. Dalam bahasa modern dapat diartikan komunikatif. Prinsip terakhir adalah momot, yang artinya mengangkut dan membawa. Dalam bahasa modern yang berarti akomodatif

Akomodasi budaya lokal dalam Islam sama artinya dengan prinsip ketiga yang diajarkan oleh Sunan kalijaga dalam kidungnya. Jadi budaya lokal itu bisa dimuat dalam ajaran Islam yang prinsipnya mengasihi. Contohnya ketika pada zaman hindu kita mengenal wayang dengan kisah Mahabarata dan Ramayana yang penuh dengan konsep Hindu yakni trimurti (tiga dewa), pada masa wali songo, wayang tak serta merta diberangus dan digantikan oleh budaya Islam seperti gambus atau yang lainnya. Malah mereka mengkonsepsikan dewa sebagai aparatur Tuhan dan bukan lagi sebagai konsep Tuhan yang mereka buat dalam lakon Dewa Ruci.
Ada lagi yang unik, jika kita berziarah ke makam Sunan kudus, dan masuk ke dalam mesjid Kudus, kita akan melewati sebuah gapura dalam bentuk candi, ataupun atap mesjid yang berundak. Sunan Kudus tidak merusak candi yang telah terbangun, namun justru merefungsikan candi itu sebagai gapura menuju mesjid Kudus. Dengan demikian, warga kudus yang dulunya beragaman Hindu merasa tersanjung dengan kerendahan hati Sunan, dan memutuskan agama yang terkenal berbasiskan toleransi, yakni Islam. Adapun pada contoh lain, Sunan menghormati ajaran Hindu yang tidak membolehkan memakan sapi (karena dianggap sebagai kendaraan Bhatara Guru). Beliau malah sedikit memplesetkan dengan mengganti kerbau sebagai hewan yang boleh diternak untuk disembelih dan sapi hanyalah sebagai hewan perah. Dan hal ini pun terus berlanjut hingga kini. Masyarakat Kudus memliki kebiasaan yang dibuat oleh Sunan tadi.

Dan itulah contoh-contoh keindahan akulturasi budaya dengan agama Islam. Dengan tanpa meremehkan hakiki prinsip Islam, yakni tauhid, para Wali Songo telah berhasil meluluhkan para pemeluk agama Hindu pada zaman itu, untuk memeluk sebuah keyakinan yang didasari pada toleransi ber sosial-budaya. Ini merupakan pelajaran kecil yang kita dapat ambil dari kebijaksanaan para Sunan dalam menjaga budaya. Pelajaran ini nampaknya sederhana, namun bermakna luarbiasa. Semua ajaran Islam yang bagus ini telah dikemas secara apik dalam sebuah bentuk Islam berbudaya. Dan kini, saatnya kita memainkan peranan dalam mengakomodasi budaya lokal dengan Islam, menjadi sebuah tradisi yang baik. Dan janganlah kita sok menyuarakan modernitas dari sebuah bentuk hakiki Islam yang kita sendiri belum mengetahui pasti kekafahan Islam yang mereka gembar-gemborkan. Menjaga sebuah budaya berarti menghormati mereka yang telah meyerahkan diri kepada Islam (para pemeluk Islam terdahulu di msa awal peradaban Islam di Nusantara). Dengan demikian, beragama akan terasa sejuk, indah, bukan terasa keras, kaku, dan meyakitkan.

gambar: http://www.mediaindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s