Galeri

Menggagas Sebuah Multikulturalisme Di Bumi Indonesia

Multikulturalisme

Sebelum kita jauh membahas tentang sebuah multikulturalisme. Saya akan memberikan sebuah pengertian multikulturalisme. “Multikulturalismepada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007). Dalam hal ini, multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar).

Suatu masyrakat yang multikultur adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of [meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices”; Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007). Suatu masyarakat multikultural haruslah melaksanakan sebuah ideologi dasarnya, yaitu mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan, 2002, merangkum Fay 2006, Jari dan Jary 1991, Watson 2000). Jadi untuk menjadi suatu masyarakat yang majemuk yang menjujung tinggi semangat berkebangsaan, multikulturalisme adalah kunci yang akan menjaga eratnya rantai persatuan suatu bangsa.

Jenis- jenis multikulturalisme

Berbagai macam pengertian dan kecenderungan perkembangan konsep serta praktek multikulturalisme yang diungkapkan oleh para ahli, membuat seorang tokoh bernama Parekh (1997:183-185) membedakan lima macam multikulturalisme (Azra, 2007, meringkas uraian Parekh):

  1. Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.
  2. Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa.
  3. Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar.
  4. Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.
  5. Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.

Menggagas Sebuah Multikulturalisme Di Bumi Indonesia

Berbicara tentang Indonesia, sebuah negara dengan multi etnis, agama, dan golongan, menggagas sebuah multikulturalisme sejati bukanlah sesuatu hal yang dapat kita raih dengan mudah. Meskipun pada dasarnya Indonesia telah meraih suatu label negara multikultural oleh karena keberagamannya, namun pada kenyataannya masih terdapat berbagai permasalahan sosial-budaya yang kerap kali di karenakan permasalahan SARA (suku, ras, dan agama). Hal ini perlu kita sadari sejak dini tentang apa yang menjadi akar masalah sosial-budaya di lingkungan sekitar kita.

Pada dasarnya, multikulturalisme yang terbentuk di Indonesia merupakan akibat dari kondisi sosial-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Menurut kondisi geografis, Indonesia memiliki banyak pulau dimana setiap pulau tersebut dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat tersebut terbentuklah sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri. Tentu saja hal ini berimbas pada keberadaan kebudayaan yang sangat banyak dan beraneka ragam. Dalam konsep multikulturalisme, terdapat kaitan yang erat bagi pembentukan masyarakat yang berlandaskan bhineka tunggal ika serta mewujudkan suatu kebudayaan nasional yang menjadi pemersatu bagi bangsa Indonesia. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai hambatan yang menghalangi terbentuknya multikulturalisme di masyarakat.

Sikap yang terlalu egosentrisme yang selama ini mengakar pada tiap-tiap individu diyakini sebagai pangkal awal kurang sinergisnya kehidupan sosial-budaya dimasyarakat kita. Hal ini dapat kita lihat pada sendi-sendi kehidupan dimana suatu suku atau kelompok agama tertentu hanya akan membangun sebuah sistem berkehidupan yang bersifat homogen tanpa melihat kembali adanya kenyataan suku atau agama lain yang harus mereka gandeng bersama sebagai pengamalan sila ke 3, persatuan Indonesia.

Sebuah akar yang bernama egosentrisme ini kemudian berkembang lebih lajut menjadi sikap etnosentrisme, yakni pembenaran atas suku, agama, atau golongan sendiri dan menganggap yang lain sebagai musuh. Tentunya sikap ini memang tak pelak menyebabkan banyaknya konflik yang berbau SARA yang disebabkan oleh sikap etnosentrisme itu sendiri. Sebuah konflik yang dimulai atas nama pembenaran diri sendiri.

Ini menjadi sebuah keprihatinan bagi kita semua yang merasa menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Sikap hidup yang terlalu egosentris tentunya yang lambat laun akan mempercepat kehancuran bangsa Indonesia. Sikap individualistis dalam suatu kelompok dan kecurigaan terhadap kelompok masyarakat lain tentunya akan membawa kita menuju perpecahan. Hal ini tentunya akan menjadi sasaran yang jitu bagi para kaum-kaum berkepentingan untuk memecah persatuan negara kita. Sehingga kepulauan besar ini bukan tidak mungkin terpecah menjadi negara-negara kecil nantinya.

Hanya sebuah kunci, yakni dialog antar suku, ras, agama, ataupun golongan yang akan menyelesaikan permaslahan sosial-budaya yang selama ini nyata terlihat di sekitar kita. Antropologi menfasilitasi hal ini, guna mencapai kesepakatan bersama dan mencapai sebuah kedamaian atas suatu peraturan berkehidupan yang saling toleran. Pada akhirnya, sebuah kehidupan yang multikultural hanya dapat dicapai jika tiap-tiap masyarakat mengerti benar akan hakikat perbedaan yang nyata, dan meyikapi hal tersebut dengan sebuah kata kunci, yakni “toleransi” dan menerima kenyataan bahwa perbedaan memang nyata berada ditengah-tengah kita. Dari sana akan terwujud harmonisasi dan semangat berkebangsaan dalam sebuah kebhinekaan bangsa Indonesia.

gambar: http://mohkusnarto.files.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s