Galeri

Dari Penegakan Keadilan Menjadi Sebuah Lahan Jual Beli

Selama ini kita telah melihat bahwa hukum di Indonesia telah beralih fungsi, dari sebuah fungsi laten yakni, penegakan keadilan, menuju lahan jual beli. Faktor apakah dibalik pergeseran norma etika didalam penegegakan norma baku  tersebut. Sebuah kunci yang masih tersimpan rapat di kepalan tangan para penegaknya.

Hukum, sebenarnya telah kita kenal dari semenjak zaman purba, yakni sebagai tata aturan hidup masyarakat. Pada zaman pra sejarah, hukum yang berlaku dimanusia adalah hukum barbar, dimana yang kuat menjadi pemenang atas keadilan yang diperdebatkan. Dan pada masa itu, belum ada sistemik penulisan dalam hukum, yang artinya hukum hanya berlaku secara lisan dan ditaati secara turun temurun. Dalam kehidupan jaman sekarang kita kenal sebagai norma atau hukum adat.

Pada masa Theologis, dimana pada masa itu agama menjadi pedoman dalam penegakan keadilan, kitab suci menjadi sumber penegakan keadilan. Kita ambil contoh The ten Commandments, dimana umat yahudi diwajibkan menjalankan sepuluh perintah Tuhan. Dan pada masa ini, Agama menjadi sumber mutlak tentang baik-buruk moral dan hukuman bagi para pelanggar moral. Namun betapa sucinya kitab terbebut, hukum tetaplah menjadi lahan pelanggaran yang empuk bagi masyarakatnya.

Pada era modern, tepatnya masa kolonial, negara kita Indonesia yang pada saat itu dijajah Belanda, memakai kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) sebagai landasan hukum pemerintahan Hindia Belanda. Namun pada proses penegakannya, kembali terjadi penyimpangan didalamnya. Korupsi yang saat itu menjadi budaya negatif oleh bangsa Belanda, kini diadopsi pula oleh bangsa kita.

Sejak zaman kemerdekaan hingga kini, kita mengetahui bahwa penegakan hukum di Indonesia dilandaskan pada KUHP hasil adopsi masa kolonial, tak pernah menemui keadilannya. Contoh paling ekstrem ketika di zaman Orba, para mahasiswa mendapatkan tembakan ketika berdemo menuntut bobroknya presiden kita saat itu. Pembredelan pers serta tembak mati ala bung Harto bagi para seterunya menjadi bukti kuat pelanggaran hukum oleh para negarawan yang semestinya mereka tegakkan.

Kini diera reformasi, ketika kebebasan telah menjadi kunci utama bergeraknya negara ini, semakin bebas pula kasus mafia hukum di Indonesia. Hukum dibeli, dan diperuntukan bagi para kaum berkelas dengan modal uang luarbiasa. Sedangkan pada orang miskin, hukum berlaku sebagai langkah mempercepat kematian mereka. Dimana sesungguhnya keadilan ini berada, tak pernah menjadi realita ketika kita bertanya.

Hierarki penegakan hukum

Adakah sebuah sekat-sekat bagi penegakan hukum? saya kira inilah jawabannya. Gayus tambunan, seorang yang amat kaya raya yang merupakan alumnus STAN, berhasil memperjualbelikan hukum di Indonesia. Dengan nyaman dia keliling dunia tanpa tersentuh kekuatan hukum. Pada kasus lainnya, seorang nenek yang mecuri kakau, diganjar hukuman tiga bulan penjara. Dengan tanpa belas kasih, para penjahat hukum tersebut memainkan peranan dengan gagah, seolah hukum telah ditegakkan. Namun keuda kasus ini meggambarkan betapa timpang penegakan hukum. Hierarki sosial menjadi tolak ukur siapa yang harus di ganjar hukuman atau bebas.

Apakah yang salah? hukumkah? atau moralitas penegaknya? Dalam hal ini, saya membaca dari sudut pandang pelakunya yang dihubungkan dengan perspektif budaya. Hukum yang berlaku di Indonesia saya kira telah menggambarkan idealisme cita-cita keadilan sosial yang baik. Meski mengadopsi hukum kolonial, saya kira basis budaya dan agama telah melengkapi sistem hukum di negeri kita. Namun pada proses penegakannya, para eksekutor tersebut masih menggunakan asas hukum rimba, ataupun bisa dibilang mengadopsi pula budaya penegakan hukum pada masa kolonial, yakni KKN.

Pola perilaku yang kemungkinan besar mereka adopsi dari masa penjajahan sehingga menjadi bad culture adaption, yang menyebabkan mengapa mafia hukum terus berjalan hingga masa reformasi ini, dimana kebebasan adalah hal yang kita dambakan sejak lama. Namun kebebasan pula yang membuka lebar pintu korupsi, kolusi, neoptisme, dan terutama permainan hukum.

Hukum yang adil menjadi sebuah utophia

Keadilan, kata kunci yang sangat amat sulit ditegakkan di negeri kita tercinta ini. Sebuah stigma kuat megalir didarah penegak hukum kita, yakni kekuasaan dan uang menjadi kunci tegaknya keadilan. Hukum barbar nyatanya masih ada di negara kita meski telah diselimuti hukum modern. Kebohongan dinyatakan sah atas nama sebuah keuntungan dalamm proses jual-beli hukum kita.

Dan fenomena ini tentunya menjadi gambaran jelas bagaimana belum tegaknya keadilan di Indonesia. Materi hukum yang bagus belumlah menjamin sebuah keadilan. Hukum yang kokoh pun akan menjadi lemah jika dihadapkan pada uang. Moralitas para penegaknya yang bobrok menjadi alasan kuat mengapa terjadi kasus mafia hukum di negara kita.

Sekali lagi, moralitas telah terbukti mampu mengatur kehidupan manusia. Jika seseorang memiliki moral baik sesuai norma sosial yang berlaku, bukan tidak mungkin ia dapat bersikap sesuai dengan harapan masyarakat. Hal ini yang tentunya perlu dimiliki oleh para penegak hukum kita. Moralitas sosial-budaya yang agung yang membuat mereka mampu menegakkan hukum modern di era ini. Bukan menyelimuti hukum barbar dengan pembungkus manis, yakni  “hukum modern”.

Gambar: http://www.dgcsubro.com/

2 responses to “Dari Penegakan Keadilan Menjadi Sebuah Lahan Jual Beli

  1. Hukum yang ada di Indonesia memang betul-betul dipertanyakan, karena kasus hukum yang sering terjadi di Indonesia sangat tidak berjalan dengan baik, keadilanpun patut dipertanyakan…..

    Dan itu sangat membuat bingung orang awam, banyak menjadi bahan pertanyaan buat orang awam, keanapa keadilan di Indonesia sangat kurang sekali terutama dalam sistem hukumnya di Indonesia.

    Bali Prewedding Photography, Bali Wedding Photography, Bali Wedding

  2. pendapat anda sangat tepat. keadilan adalah uthopia di negri kita. saya disini menyoroti moralitas para penegaknya. Karena saya tidak begitu memahami sistem kuhp seperti mahasiswa hukum, saya tak terlalu berani mengutak-atik kelemahan sistem hukum kita.

    Namun terlepas dari itu semua, kita telah mengetahui dan setuju tentang keadilan yang jelas2 dijadikan bisnis oleh para penguasa. Terima kasih untuk checking blog saya.. anda telah peduli pada keadaan sosial budaya kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s