Galeri

Perseteruan Antara Logisitas dan Religiositas

Intelektualitas.. kunci seseorang untuk meraih kesuksesan, benarkah demikian? Mungkin ada benarnya, namun saya berpendapat hal tersebut kurang tepat. Memang sebuah IQ membawa kita pada keunggulan berpikir, namun apakah ia yang semata membentuk kesuksesan kita? Saya kira sebuah EQ dan RQ juga memiliki peran yang cukup seimbang dengan intelektualias.

Para kaum intelek seperti karl marx yang mengatakan bahwa agama adalah candu yang hanya bersifat mengaharap dan tidak realistis. Ataupun seperti para filsuf yang meyakini bahwa Tuhan adalah teman imajiner dalam kehidupan kita karena tidak bersifat nyata. Ataupun para antropolog sejati yang menganggap bahwa agama adalah produk dari kebudayaan, dalam hal ini sebagai contoh, budaya India  membentuk suatu keyakinan yang dinamakan Hinduisme. Pada intinya, kaum intelek ini menilai bahwa Ilmu pengetahuan sebagai materi mutlak atas suatu keunggulan, dan logisitas mejadi kata kunci mengapa mereka enggan megakui agama.

Kenyataan memang.. bahwa intelektualitas selama ini menjadi tolak ukur masyarakat tentang kesuksesan sesorang. Paradigma masyarakat sangatlah terkotak bahwa seseorang ber IQ tinggi dijamin unggul dalam kualitas berkehidupan. Namun pada aspek lain, kita hendaknya melihat bahwa religiositas juga berperan aktif dalam menjaga kestabilitasan moral orang cerdas. Kita mungkin dapat melihat berbagai kenyataan tentang intelektualitas tnapa di dukung religiusitas.

Etika naturalisme versus supernaturalisme

Di dalam pandangan hidup manusia terdapat dua pandangan etika, yaitu etika naturalis dan etika supranaturalis. Etika naturalis memusatkan pandangan berperilaku manusia dengan pandanagan netral yang sesuai degan logika manusia itu sendiri, sedangkan etika supranaturalis bersumber dari norma agama. Etika naturalis terkadang berbenturan dengan etika supranaturalis seperti kebiasaan memakan mayat teman atau sahabat dengan maksud tetap menghidupkan jiwa sahabat dalam jiwa kita, di dalam etika supranaturalis telihat sangat jahat tetapi ketika diberi penjelasan dan pengertian etika naturalism aka kita akan bisa mengerti maksud dimakannya mayat tersebut.

Walaupun terkadang berbenturan, norma agama biasanya bisa dijelaskan dengan etika naturalis, seperti perintah dalam hukum taurat ke sepuluh yang menjabarkan mengenai pelarangan masuk kedalam pekarangan bahkan kemah orang lain (sesama bangsa Israel). Orang Israel sebelum masuknya hukum taurat sangat suka masuk kedalam kemah orang lain (sengaja atau tidak disengaja) dan biasanya menimbulkan perkelahian antara mereka (karena saat masuk biasanya juga meniduri istri orang,dll.). Dalam etika supranaturalis yaitu norma agama hal ini sangat tidak dibenarkan karena disebut berzinah dan ternyata dapat pula dijelaskan dalam etika naturalis yaitu menjaga perasaan orang lain dan jangan merampas hak orang lain jika tidak mau dirampas, hal yang sesuai dengan etika naturalis namun tidak bertentangan dengan etika supranaturalis.

Teologi Pengharapan & Universalitas agama*

Sigmund Freud mengatakan : ”Suatu kepercayaan merupakan illusi, karena berdasarkan keinginan saja dan bukan faktor rasionil”. Pernyataan Freud tidak bisa kita benarkan seluruhnya tapi juga tidak baik ketika kita nafikkan seluruhnya. Yang menjadi titik tekan disini adalah agama-agama kita pada umumnya memang disiarkan dan dikabarkan melalui teologi pengharapan. Harapan-harapan surga, harapan-harapan kedamaian, bahkan juga gambaran neraka yang tidak bisa kita tangkap dalam bayangan pun. Maka perlu bagi agama untuk menjelaskan pada umatnya, bahwa agama harus bisa membangun nilai-nilai yang universal, nilai-nilai yang berterima bagi rasional kita.
Nilai-nilai itu tidak lain adalah nilai-nilai kemanusiaan, spirit anti penjajahan, spirit anti kebodohan, dan spirit memanusiakan manusia melalui pendidikan yang layak. Oleh karena itu, agama di era modernitas perlu membincangkan kembali perannya terhadap nilai-nilai universal tadi. Jika tidak, maka agama akan terjatuh dan terkungkung dalam konflik-konflik fanatisme dan masalah yang tidak substansial.
Disanalah sebenarnya peran lembaga-lembaga agama, peran tokoh lintas agama, dan intelektual sangat dibutuhkan untuk melakukan konsolidasi, perlu melakukan koordinasi, dan pertemuan yang masif untuk membicarakan problematika kemanusiaan di negeri ini. Jika tidak, maka umat akan mandeg dan terlena dalam dinamika dan ikut arus zaman.
Akhirnya, memaknai religiositas sejati tidak lain adalah merumuskan, memikirkan kembali dan bekerjasama untuk senantiasa mencari dan menemukan solusi dari pada masalah-masalah kemanusiaan. Kesemuanya itu membutuhkan kerelaan hati, menerima perbedaan yang ada, serta menepiskan rasa curiga, dengan memikirkan kembali dan mencari alternatif solusi daripada problemátika kemanusiaan dan kebangsaan.

*)Penulis adalah Finalis Kompetisi Esai mahasiswa 2009.Belajar di UMS

Logisitas, inilah yang menyebabkan intelektualias berseberangan dengan religiusitas bagi para intelek yang atheis. Mereka membasiskan bahwa seluruh kehidupan ini haruslah berdasarkan logisme yang bertepatan dengan nalar. Seperti dalam prinsip logika, dimana sesuatu yang dapat dilihat menjadi tolak ukur keberadaannya. Tuhan, Surga-Neraka, dianggap sebagai daya cipta manusia dalam kebudayaan oleh karena manusia tak dapat mengatasi problem sosialnya. Dan pernyataan ini sungguh berseberangan dengan para kaum religi yang menganggap intelektualitas akan buta tanpa suatu tuntunan spiritualistas yakni Agama.

Bagi saya sendiri, agama adalah suatu hal yang hakihatnya keberadaannya tak dapat diganggu gugat. Bagi para antropolog sejati, agama mungkin hanya dianggap sebagai produk dari kebudayaan. Itu merupakan hal yang sah-sah saja. Namun bagi saya, sebagai makhluk yang telah menyerahkan dirinya kepada rasa percaya kepada tuhan saya, saya akan menyerahkan pula seluruh unsur kelogisan saya untuk mempercayai hakikat Tuhan saya, yakni Allah. Tentunya hal itu tak akan mengurangi esensi profesionalitas saya nantinya sebagai seorang antropolog. Biarlah saya dikatakan sabagai antropolog yang munafik, asalkan munafik yang menuju pada kebenaran.

Pada kasus Intelektualitas Versus Religiositas, saya cukup mengambil jalan tengah, yakni dengan membiarkan perseteruan itu tetaplah mejadi harmonisasi kehidupan di dunia ini. Dengan tetap memegang akidah bahwa kebenaran Islam adalah mutlak, saya akan tetap menjaga peran antropolog, yakni menjaga kestabilitasan atas multikulturalisme di negeri kita tercinta ini.

Seperti potongan kata-kata indah ini bersuara tentang kehidupan beragama. ”Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami, dengan melakukan kebajikan nurani kami pulalah yang memberi kurnia”

[surat kartini 15 agustus 1902 pada nyonya EC.abendanon ,ditulis kembali
pramudya ananta toer dalam buku :”panggil aku kartini saja”]
tautan:  http://kawahinstitute.blogspot.com/

gambar: http://bisnisgontorclub.com/

2 responses to “Perseteruan Antara Logisitas dan Religiositas

  1. terus menulis.. menuangkan pemikiran dalam karya tulis sesuatu yg besar dan positif..🙂
    Hindari pengkucilan atau memandang lemah SARA lain yah.. semuanya diusahakan bila mengkritisi,, dengan konstruktif.. agar tulisan terlihat indah dengan dinamika yang ada tanpa ada yg tersinggung.. agar smua orang dapat mengambil pelajaran yg baik dari tulisan anda..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s