Galeri

“Budaya dan Tata Ruang” (pengaruh dan penerapannya dalam suatu sistem tata ruang)

Tidak dapat kita pungkiri lagi bahwa tata ruang yang umumnya berada di kota-kota besar di Indonesia terbilang berantakan, bahkan hal tersebut menyebabkan terjadinya bencana musiman seperti banjir. Hal ini sebenarnya dapat kita lihat sebagai fenomena kemunduran dari segi budaya. Mengapa dapat dikatakan seperti itu. Berikut ini penjelasannya.

sistem budaya tata ruang pedesaan

Sebuah budaya mengatur sebuah sistem tata ruang, ya mungkin pendapat ini dapat dinilai tepat karena kita lihat di pedalaman atau pedesaan memiliki sistem tata ruang yang baik. Hal ini dikarenakan mereka memiliki sebuah norma atau tata aturan tentang tata ruang dan dampak ekologis terhadap kelangsungan hidup mereka. Pada masyarakat pedalaman, mereka memiliki sebuah folkor (sistem kepercayaan) tentang keselarasan antara ruang dan kehidupan. Mereka meyakini bahwa sebuah desa yang memiliki jarak antar rumah yang cukup dan sistem irigasi serta pembuangan  yang memadai akan mendukung proses kehidupan mereka dengan baik. Hal ini yang membentuk sebuah nilai dalam prose kehidupan mereka, bahwa tata ruang yang baik akan menciptakan suatu kehidupan yang selaras dengan alam.

Homogenitas Tata ruang dalam pedesaan

Homogenitas disini adalah sebuah kesamaan nilai dalam membentuk sebuah tata ruang. Masyarakat pedesaan pada umunya memiliki kesamaan kepentingan dalam membentuk sebuah pola tata ruang desanya. Ini dikarenakan mereka memegang satu nilai tentang hal ekologi dan efek kelangsungannya terhadap kehidupan. Hal tersebut membentuk suatu pola pikr umum tentang bagaimana seharusnya tata ruang yang baik bagi desa mereka. Sebagai hasilnya, dapat kita lihat kerapihan yang ada di desa, sebagai contoh perumahan adat di tanah batak, yang tersusun rapih oleh karena sistem kepercayaan yang sama di pola piker mereka.

Ketidakselarasan tata ruang kota

Mengapa dikota tidak serapih di desa, hal ini menjadi pertanyaan yang telah diketahui jawabannya namun sulit diubah menjadi suatu hal yang nyata. Para antropolog mensinyalir hal tersebut sebagai gejala heterogenitas dalam berpikir yang bertolak belakang dengan pedesaan. Mereka berpendapat bahwa sebuah sistem tata ruang yang carut-marut diperkotaan disebabkan oleh heterogenitas dalam memandang pentingnya sebuah tata ruang kota yang rapih. Kota besar dibentuk oleh berbagai macam suku, ras, budaya yang masuk kedalamnya. Hal ini menyebabkan mereka memiliki berbagai kepentingan yang sering menyebabkan benturan kultur yang awalnya mereka bawa dari daerah masing-masing. Hal ini yang menyebabkan mereka cenderung acuh untuk memikirkan masalah tata ruang kota, dan mengambil kepentingan mereka sebagai pilihan utama dalam membangun rumah mereka (seperti pembangunan rumah di bantaran kali) meskipun dapat merusak tatan kota.

Urban Manajemen

Urban manajemen atau manajemen perkotaan dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk melakukan suatu proses  manajemen, yaitu mengorganisasikan dan mengkoordinasikan kondisi atau sistem kota yang ada saat ini yaitu faktor-faktor produksi di dalam kota baik yang berupa tanah, tenaga kerja, modal maupun kewiraswastaan, supaya dapat dicapai hasil yang maksimal dan efisien untuk menuju ke arah sistem kota yang dikehendaki bedasarkan pada tujuan ideal dan dinamis. Manajemen perkotaan menurut Richard E. Stren, mencakup :

  1. Proyek pembangunan perkotaan dalam konteks wilayah kota dan pertimbangan  kelembagaan.
  2. Memusatkan perhatian pada sumber daya keuangan local untuk memperkuat desentralisasi.
  3. Memusatkan perhatian pada berbagai alternatif untuk mengorganisir dan membiayai pelayanan kota seperti : air bersih, transprtasi, listrik , sampah, kesehatan, dan lain-lain.
  4. Perhatian untuk mencari dan mempromosikan partisipasi masyarakat dalam pelayanan infrastruktur kota.

Karakteristik Kota dan Kawasan Perkotaan: Tinjauan dari Berbagai serta Karakteristik dan Ruang Lingkup Perencanaan Kota

Apa yang dimaksud kota atau kapan sebuah permukiman dapat disebut sebagai kota, merupakan pertanyaan yang mendasar pada saat kita membahas kota atau perkotaan beserta karakteristik. Jawaban terhadap pertanyaan ini tergantung dari sudut pandang mana atau bidang/disiplin apa meninjaunya. Secara umum karakteristik kota dapat ditinjau berdasarkan aspek fisik, sosial serta ekonomi. Berdasarkan bidang ilmu, kota atau perkotaan telah menjadi pokok bahasan di bidang geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, engineering, planologi, dan lain-lain. Sebagai suatu konsep atau pengertian yang berkaitan dengan ruang sebagai tempat manusia beraktivitas, pengertian kota secara fungsional sangat beragam, sebanyak pakar mendefinisikannya berdasarkan sudut pandang atau tinjauan yang berbeda-beda.  Dalam konteks ruang, kota merupakan satu sistem yang tidak berdiri sendiri, karena secara internal kota merupakan satu kesatuan sistem kegiatan fungsional di dalamnya, sementara secara eksternal, kota dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Kota ditinjau dari aspek fisik merupakan kawasan terbangun yang terletak saling berdekatan/ terkonsentrasi, yang meluas dari pusatnya hingga ke wilayah pinggiran, atau wilayah geografis yang didominasi oleh struktur binaan. Kota ditinjau dari aspek sosial merupakan konsentrasi penduduk yang membentuk suatu komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas melalui konsentrasi dan spesialisasi tenaga kerja. Kota ditinjau dari aspek ekonomi memiliki fungsi sebagai penghasil produksi barang dan jasa, untuk mendukung kehidupan penduduknya dan untuk keberlangsungan kota itu sendiri.

Aplikasi nilai budaya pada pembangunan kota

Dalam hal pengaturan tata ruang kota, mungkin kita dapat memasukan unsur homogenitas dalam desa, yakni pola pikir akan sebuah tata ruang ideal yang disandarkan pada nilai dan norma, sehingga terbentuk sebuah kesepakatan dalam sebuah kebhinekaan kultur kota yang menciptakan mufakat tentang sistem tata ruang ideal. Dari sanalah akan terrealisasi sebuah perbaikan bagi tatanan ruang di kota-kota besar di Indonesia. Namun dalam proses reaslisasinya, hanya nuranilah yang berbicara agar kita mau mengubah budaya heterogenitas (acuh tak acuh) dalam pembangunan tata ruang kota. Jika hal tersebut telah berhasil, maka tinggal proses secara teknis yang akan mewujudkannya.

Daftar Pustaka

Sy, Pahmy. (2010). Perspektif Baru Antropologi Pedesaan. Jakarta: Gaung Persada Press

Poerwanto, Hari. (2000). Kebudayaan dan Lingkungan (Dalam Perspektif Antropologi).

Jogjakarta : Pustaka Pelajar

http://planologiunpas.22web.net/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s