Galeri

Rona Kehidupan Anak jalanan Dalam Film Rindu purnama

Sekilas tentang Film ini

Judul : Rindu Purnama
Sutradara : Mathias Muchus
Pemain : Tengku Firmansyah, Salma Paramitha
Genre : Drama
Produksi : Mizan Production

Singkat cerita Rindu ditolong Pur, sopir pribadi Surya. Pak Pur mengajak Rindu tinggal di rumah Surya karena Pur bersama istrinya yang tinggal di rumah Surya belum punya anak. Pur kemudian menamai Rindu dengan Purnama karena Rindu yang masih amnesia tidak bisa mengingat namanya. Namun, Surya tidak menginginkan Purnama tinggal di rumahnya. Surya meminta Pur mengembalikan Purnama. Tapi Pur tidak tega karena Purnama sedang amnesia dan tidak tahu alamat rumahnya.

Di tengah kesibukannya menjalankan proyek baru bersama Monique (Titi Sjuman) yang kebetulan juga anak Roy (Piet Burnama), ia bekerja, Surya ingin segera menyembuhkan Purnama agar cepat pergi dari rumahnya. Purnama pun dibawa ke dokter. Saat Surya sedang berkonsultasi dengan dokter, Purnama menghilang. Kaum Terpinggirkan Film ini untuk kesekian kalinya menampilkan anak jalanan sebagai latar cerita.

Setelah tahun lalu hadir film Alangkah Lucunya Negeri Ini besutan Deddy Mizwar dan Rumah Tanpa Jendela karya sutradara Aditya Gumay, Rindu Purnama yang merupakan debut Mathias Muchus sebagai sutradara mencoba mengangkat dunia anak jalanan. Kehidupan mereka sebagai kaum terpinggirkan sering dilecehkan oleh masyarakat kelas atas. Film ini menampilkan realitas di kota besar, yakni anak jalanan dengan permukiman kumuhnya merupakan bagian dari kehidupan kota megah Jakarta.

Seperti tergambar dalam karakter Surya, hati nurani bisa mati bila tidak dibiasakan untuk diasah peka terhadap penderitaan orang lain, hidup bergelimang uang dan kemewahan menjauhkan oang dari sesamanya, dan kaum kelas atas mengasingkan diri dari kehidupan masyaakat kelas bawah. Adegan-adegan di film ini menampilkan realitas anak jalanan sehari-hari. Kejar-kejaran dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), makan dan tidur di bawah jalan layang di antara tumpukan sampah, mengamen di tengah jalanan, serta akses pendidikan yang minim bagi mereka tergambar di film ini.

Kiprah Muchus sebagai sutradara juga sudah lumayan dalam level sebagai pemula. Muchus piawai menjadikan para anak jalanan yang merupakan pemula dalam bidang akting bisa berakting secara alami. Dia bisa mengarahkan Faril Ramadhan yang berperan sebagai Akbar untuk bisa menghayati peran bocah yang sedih kehilangan kakaknya, Rindu. Beberapa kali kru film berlinang air mata saat Faril beradegan menangis.

Setting yang banyak mengambil lokasi di daerah kumuh menghanyutkan penonton merasakan tinggal di kawasan ini. Selain itu, pergantian setting ke rumah dan perkantoran mewah Surya membuat tema si kaya dan miskin semakin kentara di film ini.

Sebuah Kajian antropologis terhadap fenomena anak jalanan

Tidak dapat di punkiri, sebuah kemegahan Kota Jakarta juga memiliki sisi lain, yakni kemisikinan (baca artikel saya: kemiskinan di kota metropolis). Tentunya hal itu terbentuk dari sebuah seleksi kehidupan yang menyebabkan Jakarta dijuluki sebagai Ibukota yang Kejam. Semua ini menurut Pasurdi Suparlan merupakan konsekuensi logis yang muncul akibat gangunan dan pengembangan perkotaan. Timbulnya gelandangan di perkotaan terjadi karena adanya tekanan-tekanan ekonomi dan rasa tidak aman sebagian warga desa yang kemudian terpaksa harus mencari tempat yang diduga dapat memberi kesempatan yang lebih baik di kota.

Parsudi Suparlan mengatakan, meskipun demikian, tidak berarti gelandangan hanya menimbulkan akibat negatif bagi kehidupan kota, karena ada hubungan simbiose antara kaum gelandangan dan golongan sosial lainnya, terutama dalam hal pengadaan barang-barang kebutuhan. Dalam hal ini, gelandangan juga meiliki peran dalam suatu struktur kemasyarakatan, yakni sebagai media daur ulang bagi barang-barang perkotaan.

Namun dibalik itu semua, gelandangan adalah bagian nyata dari kehidupan kota metropolis. Hal ini merupakan suatu konsekuensi dimana suatu kota terbangun dengan suatu sistem administratif yang kapital, dimana pemilik barang dan skill pendidikan menjadi golongan yang dominan dalam mendapatkan penghidupan yang layak. Oleh karena itu, gelandangan dan pemukiman liar bukanlah suatu hal yang menjijikan. Akan tetapi menjadi suatu permaslahan yang harus dipecahkan oleh pemerintahan kota

Bagaimana menyelesaikannya? Ini menjadi pertanyaan menggelitik. Bukan dengan jalan menggusur mereka seperti dalam film diatas, namun akan lebih baiknya kita melihat sisi manusiawi dari penyelesaian permasalahan ini. Saya secara pribadi lebih menekankan pada penyelesaian dengan menempatkan mereka ke tempat yang layak. Rumah susun mungkin dapat menjadi alternatif bagi mereka. Bagaimana dengan pekerjaan mereka? Jawabannya dengan memberikan pelatihan kepada mereka, agar dapat memiliki peran yang lebih baik, seperti tukang parkir, supir bus kota, dll.

Ini telah menjadi tugas bulat bagi pemerintah seperti yang tercantum dalam UUD (fakir miskin di pelihara oleh negara), dengan menyelesaikan permasalahan ini secara manusiawi. Ataupun kita dapat membekali kemapuan mereka dalam pengelolaan sampah ibukota. Tentunya hal ini dapat bermanfaat bagi problem kebersihan kota. Semua ini kembali kepada pelaksana amanah rakyat (pemerintah) dalam menyikapi permasalahan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s