Galeri

Semestinya Peristiwa Cikeusik-Temanggung Tak Perlu Terjadi

Mengapa Peristiwa Cikeusik dan Temanggung Bisa Terjadi?

Amat banyak berita kita dengar dari berbagai media, utamanya televisi yang menyajikan berita-berita tentang penyerangan yang dilakukan oleh warga Muslim terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik, dan pembakaran gereja di Temanggung oleh mereka. Dari pemberitaan tsb kita melihat bahwa umat Islam diibaratkan sebagai orang yang paling bersalah dan bertanggung jawab terhadap adanya kerusuhan tersebut! Namun benarkah demikian?

Kalau kita berprinsip ada sebab ada akibat, maka peristiwa Temanggung dan Cikeusik pasti ada penyebabnya sehingga menimbulkan akibat yang demikian hebohnya!! Kalau tidak, maka hampir bisa dipastikan bahwa penyerangnya adalah sekumpulan orang yang sudah tidak waras lagi. Dengan kata lain, mereka adalah ORANG GILA yang pantas dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa!!

Dari pemberitaan yang saya dapatkan, maka kerusuhan yang terjadi di Cikeusik dan Temanggung merupakan hal yang wajar! Mengapa saya katakan demikian? Karena penyebab dari apa yang telah terjadi disana sudah sangat diluar batas kewajaran, sehingga memang dapat membuat orang menjadi kalap dan akhirnya kehilangan akal sehatnya!! Mari kita lihat penyebabnya:

#) Peristiwa Temanggung:

Seperti yang diberitakan oleh VOA Islam (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/02/09/13217/inilah-kronologis-pelecehan-islam-oleh-pendeta-antonius-kerusuhan-temanggung/), peristiwa ini bermula akibat ulah pendeta Antonius Rechmon Bawengan yang berasal dari Manado yang secara terang-terangan menyebarkan buku dan selebaran hujatan terhadap Islam. Di kampung orang, pendeta kelahiran 58 tahun silam ini menyebarkan dua buku berjudul “Ya Tuhanku Tertipu Aku” dan buku “Saudara Perlukan Sponsor (3 Sponsor, 3 Agenda dan 3 Hasil)” yang penuh dengan pelecehan Islam, antara lain: menghina Allah dan Nabi Muhammad sebagai Pembohong; ibadah haji adalah simbol kemesuman Islam; Hajar Aswad adalah simbol dari –maaf– vagina; tugu Jamarat di Mina adalah simbol dari –maaf– kemaluan laki-laki; umat Islam yang shalat Jum’at di masjid sama dengan menyembah dewa Bulan karena di atas kubah masjid terdapat lambang bulan-bintang; Islam agama bengis dan kejam; dan masih banyak lagi hujatan lainnya. Dan yang lebih menyesatkan lagi, Pendeta Antonius memelintir ayat-ayat Al-Qur’an dalam hujatan-hujatannya tersebut.

Sekarang saya tanya pada Anda, bagaimana perasaan Anda setelah melihat peristiwa diatas? Pasti ada rasa marah yang luar biasa bukan? Dan tentu itu adalah hal yang wajar jika keyakinan dan agama Anda dihina dan difitnah sedemikian rupa!!!

#) Peristiwa Cikeusik:

Berikut saya kutip berita di Harian Fajar tertanggal 7 Februari 2011 (dapat pula dilihat disini: http://www.fajar.co.id/read-20110207014617-ahmadiyah-diserang-lagi-tiga-tewas):

“Kericuhan tersebut bermula dari keresahan warga setempat atas aktivitas jemaah Ahmadiyah yang dianggap menyebarkan ajaran sesat di wilayah tersebut. Sebab, sejak Minggu pagi, jemaah Ahmadiyah dari berbagai daerah datang dan berkumpul di rumah Suparman. Saat itu beberapa tokoh setempat secara baik-baik meminta Suparman dan pengikutnya menghentikan aktivitas mereka.

Warga memperingatkan agar jemaah Ahmadiyah tidak menghelat pengajian. Sebab, menurut mereka, aktivitas Ahmadiyah bertentangan dengan akidah Islam yang selama ini diyakini warga. Namun, permintaan tersebut direspons keras kubu Suparman.

Sekitar 21 pengikut Ahmadiyah malah mengucapkan kalimat bernada menantang. ”Daripada menghentikan dan membubarkan diri, lebih baik mati,” sebut Saepudin, 39 tahun, warga Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, menirukan ucapan Suparman dan pengikutnya saat didatangi warga dan tokoh masyarakat Cikeusik.

Jawaban itu langsung memancing emosi warga. Ribuan warga dari berbagai daerah di Kecamatan Cibaliung dan Cikeusik (Kabupaten Pandeglang) serta Kecamatan Malingpung (Kabupaten Lebak) berkumpul Minggu pagi. Mereka bersiap menyerang rumah pimpinan jemaah Ahmadiyah di Pandeglang tersebut.

Di pihak lain, Suparman dan pengikutnya juga sudah bersiap-siap dengan senjata tajam. Suparman pun telah meminta keluarganya meninggalkan rumah dan mengungsi ke Pandeglang. ”Setelah itu, bentrokan antara warga dan jemaah Ahmadiyah tidak bisa dihindarkan,” tutur Saepudin seraya menyatakan bahwa warga Cikeusik sudah lama resah dengan aktivitas Ahmadiyah di kawasan tersebut.”

Jadi dari berita diatas jelas bahwa warga Cikeusik tidak serta merta menyerang membabi buta warga Ahmadiyah! Namun kemarahan mereka tersulut karena warga Ahmadiyah sangat sulit untuk diajak berdialog bahkan seakan-akan menantang perang duluan!

Selain itu, khusus peristiwa Cikeusik ini sepertinya ada skenario besar untuk melegalkan aliran sesat Ahmadiyah dan menghancurkan FPI (Front Pembela Islam) sebagai ormas Islam yang paling getol dalam memerangi kesesatan dan kemaksiatan! Ini dapat dilihat dari berita-berita di Koran Tribun misalnya, serta media-media yang lain, termasuk dari rekan-rekan kita sesama Kompasianer. Bahkan kerusuhan Cikeusik dan Temanggung menurut Wakil Ketua Komisi III DPR RI Tjatur Sapto Edi terjadi karena adanya intervensi dari luar.

Berikut link-link rujukannya:

*) http://www.tribunnews.com/2011/02/12/testimoni-munarman-soal-ahmadiyah-orangnya-sama

*) http://www.tribunnews.com/2011/02/12/kerusuhan-cikeusik-dan-temanggung-akibat-intervensi-pihak-luar

*) http://www.tribunnews.com/2011/02/12/ada-sesuatu-yang-lebih-besar-dibalik-kejadian-ahmadiyah

*) http://www.tribunnews.com/2011/02/12/video-yang-diduga-dialog-polisi-dan-jamaah-ahmadiyah-beredar

*) http://regional.kompasiana.com/2011/02/08/mencoba-memahami-cikeusik/

*) http://media.kompasiana.com/new-media/2011/02/12/pandeglang-tak-mengenal-fpi/

*) http://media.kompasiana.com/new-media/2011/02/12/ahmadiyah-jangan-memprovokasi/

*) http://media.kompasiana.com/new-media/2011/02/13/ahmadiyah-salah-memilih-tempat-berlabuh/

*) http://agama.kompasiana.com/2011/02/07/ahmadiyah-lagi-ahmadiyah-lagi/

*) http://agama.kompasiana.com/2011/02/08/mengapa-ahmadiyah-harus-dibubarkan-oleh-pemerintah/

*) http://sosbud.kompasiana.com/2011/02/12/trik-ahmadyah-menggugah-rasa-kemanusiaan/

*) http://sosbud.kompasiana.com/2011/02/11/inilah-andreas-harsono-pengupload-pertama-video-insiden-ahmadiah/

*) http://www.youtube.com/watch?v=TG4Ssf85VTM&feature=related

Walaupun saya sepakat bahwa pelaku kerusuhan di Cikeusik dan Temanggung harus diproses sesuai hukum yang berlaku , namun dari ulasan diatas, maka kita dapat mengambil pelajaran bahwa sebelum kita memvonis seseorang atau sekelompok orang sebagai yang paling bersalah dan bertanggung jawab terhadap adanya kerusuhan, maka kita harus mencek dan ricek terlebih dahulu mengapa sampai peristiwa tsb dapat terjadi dan wajarkah sehingga kejadiannya berdampak demikian. Hal tsb sangat penting dilakukan demi mendapatkan kebenaran dan keadilan yang sesungguhnya!!

Agama Islam sebenarnya adalah agama yang cinta damai! Jalur kekerasan hanya diambil sebagai alternatif terakhir! Inipun dilakukan hanya jika didahului (tidak boleh mendahului)!!.

Islam berasal dari akar kata salaam yang berarti damai. Selain itu juga berarti penyerahan kehendak seseorang kepada Allah. Dengan demikian Islam adalah agama kedamaian yang diperoleh dengan penyerahan kehendak seseorang kepada kehendak Allah.

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfaal [8] : 61)

“Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syuura [42] : 43).

(artikel di tulis oleh Muhammad Mattula’ada, SE di Kolom Sos-Bud Kompasiana)

Perspektif Antropologi Dalam Menyikap Masalah Tersebut

Bagaimana antropologi menyikapi hal tersebut? Tentu ini menjadi hal yang berulang kali kerap saya sebutkan, Dialog multikulturalisme adalah jalan keluarnya. Dengan tidak menghakimi pihak yang disini kita dapat katakan sebagai minoritas (ahmadyah dan Kristen), sesungguhnya ada jalan yang lebih efektif, yakni dialog yang mengahsilkan suatu kesepakatan bersama.

Dialog yang akan lebih dahulu diadakan pada Islam-ahmadyah kemudian Islam-Kristen akan memunggkinkan terhindarnya peristiwa yang memakan korban ini. Mungkin dalam kasus ahmadyah, kita telah mengetahui surat keputusan tiga menteri dimana didalamnya berisi tekanan terhadap ahmadyah, namun akan lebih baiknya kita memberikan jalan tengah bagi mereka untuk tetap berkeyakinan namun membatasi gerakan mereka dalam hal penyebaran. Rasulullah telah menyiratkan agar kita berislam karena tuntutan hati, itu berarti terlepas dari sesat atau tidaknya ahmadyah, kita semestinya dapat menjaga mereka sebagai sesama manusia dan melihat dulu keislaman kita sebelum menindak mereka.

Untuk problem masalah Islam-Kristen, memang ini telah mejadi konflik tua dimana peritiwa ambon, poso, semuanya berbasis kepentingan agama yang saya rasa tidak murni. Kita lihat perang salib, perang yang bermuatan politik yang diselimuti agama. Saya tak berkata jika konflik tadi murni dipolitisir, namun saya menyayangkan sikap umat beragama yang semestinya bertoleransi, malah berperilaku sebaliknya. Dalam berbagai konflik, provokasi antara dua belah pihak kerap kali menjadi penyulut bara konflik.

Lalu bagaimana dialog yang efektif? Ini menjadi sebuah jawaban abstrak namun mesti kita lakukan. Dengan mengutarakan kemauan dari kedua belah pihak secara transparan, dialog ajan menjadi efektif. Meski tidak dalam sekli atau tiga kali dialog akan mengahsilkan sebuah jalan keluar, namun ada baiknya sebuah konflik berbau SARA sebaiknya bertemu dalam suatu meja diskusi yang aman, tenang, dan damai. Sekali lagi, mengacu pada artikel diatas, saya hanya bersikap netral dengan mengambil solusi dialog multikulturalisme. Tidak ada penyudutan bagi semua agama ataupun pihak yang terlibat dalam kasus diatas. Semua ini harus kita lakukan demi kesatuan NKRI yang terus terjaga sesuai dengan harapan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s