Galeri

Silat (Upaya pelestariannya Dalam Era Globalisasi)

Forum Pecinta dan Pelsetari Seni Tradisional Indonesia adalah wadah silaturahmi para pesilat, perguruan, dan aliran silat. Forum ini dibentuk tanggal 10 Juni 2006 di Jakarta sebagai bentuk keprihatinan atas semakin jauhnya silat dalam kehidupan masyarakat kini. Bertujuan memberikan informasi tentang silat tradisional, dokumentasikan, dan mempromosikan. Bercita-cita menjadikan silat sebagai khazanah kekayaan budaya bangsa yang adiluhung kembali dalam kehidupan keseharian masyarakat Indonesia.

Sejarah Silat

Tradisi silat diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke mulut, diajarkan dari guru ke murid. Karena hal itulah catatan tertulis mengenai asal mula silat sulit ditemukan. Di Minangkabau, silat atau silek diciptakan oleh Datuk Suri Diraja dari Pariangan, Tanah Datar, di kaki Gunung Marapi pada abad XI.Kemudian silek dibawa dan dikembangkan oleh para perantau Minang ke seluruh Asia Tenggara.

Kebanyakan sejarah silat dikisahkan melalui legenda yang beragam dari satu daerah ke daerah lain. Seperti asal mula silat aliran Cimande yang mengisahkan tentang seorang perempuan yang menyaksikan pertarungan antara harimau dan monyet dan ia mencontoh gerakan tarung hewan tersebut. Asal mula ilmu bela diri di Indonesia kemungkinan berkembang dari keterampilan suku-suku asli Indonesia dalam berburu dan berperang dengan menggunakan parang, perisai, dan tombak. Seperti yang kini ditemui dalam tradisi suku Nias yang hingga abad ke-20 relatif tidak tersentuh pengaruh luar.

Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat dipastikan. Meskipun demikian, silat saat ini telah diakui sebagai budaya suku Melayu dalam pengertian yang luas,yaitu para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka, serta berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan lingua franca bahasa Melayu di berbagai daerah di pulau-pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lainnya juga mengembangkan sebentuk silat tradisional mereka sendiri. Dalam Bahasa Minangkabau, silat itu sama dengan silek. Sheikh Shamsuddin (2005) berpendapat bahwa terdapat pengaruh ilmu beladiri dari Cina dan India dalam silat. Bahkan sesungguhnya tidak hanya itu. Hal ini dapat dimaklumi karena memang kebudayaan Melayu (termasuk Pencak Silat) adalah kebudayaan yang terbuka yang mana sejak awal kebudayaan Melayu telah beradaptasi dengan berbagai kebudayaan yang dibawa oleh pedagang maupun perantau dari India, Cina, Arab, Turki, dan lainnya. Kebudayaan-kebudayaan itu kemudian berasimilasi dan beradaptasi dengan kebudayaan penduduk asli. Maka kiranya historis pencak silat itu lahir bersamaan dengan munculnya kebudayaan Melayu. Sehingga, setiap daerah umumnya memiliki tokoh persilatan yang dibanggakan. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang terhebat.Hal seperti itu juga yang terjadi di Jawa, yang membanggakan Gajah Mada.

Perkembangan dan penyebaran silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke-14 di Nusantara. Catatan historis ini dinilai otentik dalam sejarah perkembangan pencak silat yang pengaruhnya masih dapat kita lihat hingga saat ini. Kala itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau-surau. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual.

Silat berkembang di Indonesia dan Malaysia (termasuk Brunei dan Singapura) dan memiliki akar sejarah yang sama sebagai cara perlawanan terhadap penjajah asing. Setelah zaman kemerdekaan, silat berkembang menjadi ilmu bela diri formal. Organisasi silat nasional dibentuk seperti Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Indonesia, Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia (PESAKA) di Malaysia, Persekutuan Silat Singapore (PERSIS) di Singapura, dan Persekutuan Silat Brunei Darussalam (PERSIB) di Brunei. Telah tumbuh pula puluhan perguruan-perguruan silat di Amerika Serikat dan Eropa. Silat kini telah secara resmi masuk sebagai cabang olah raga dalam pertandingan internasional, khususnya dipertandingkan dalam SEA Games.

Berbagai Jenis Aliran Silat

Silek Harimau Minangkabau.

20110109-silekminangkabauSilek atau silat (bahasa Indonesia) adalah seni beladiri yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Masyarakat Minangkabau memiliki tabiat suka merantau semenjak beratus-ratus tahun yang lampau. Untuk merantau tentu saja mereka harus memiliki bekal yang cukup dalam menjaga diri dari hal-hal terburuk selama di perjalanan atau di rantau, misalnya diserang atau dirampok orang.

Disamping sebagai bekal untuk merantau, silek penting untuk pertahanan nagari terhadap ancaman dari luar. Wilayah Minangkabau di bagian tengah Sumatera sebagaimana daerah di kawasan Nusantara lainnya adalah daerah yang subur dan produsen rempah-rempah penting sejak abad pertama masehi, oleh sebab itu, tentu saja ancaman-ancaman keamanan bisa saja datang dari pihak pendatang ke kawasan Nusantara ini. Jadi secara fungsinya silat dapat dibedakan menjadi dua yakni sebagai

  • panjago diri (pembelaan diri dari serangan musuh), dan
  • parik paga dalam nagari (sistim pertahanan negeri).

Untuk dua alasan ini, maka masyarakat Minangkabau pada tempo dahulunya perlu memiliki sistem pertahanan yang baik untuk mempertahankan diri dan negerinya dari ancaman musuh kapan saja. Silek tidak saja sebagai alat untuk beladiri, tapi juga mengilhami atau menjadi dasar gerakan berbagai tarian dan randai (drama Minangkabau). Emral Djamal Dt Rajo Mudo (2007) pernah menjelaskan bahwa pengembangan gerakan silat menjadi seni adalah strategi dari nenek moyang Minangkabau agar silat selalu diulang-ulang di dalam masa damai dan sekaligus untuk penyaluran “energi” silat yang cenderung panas dan keras agar menjadi lembut dan tenang. Sementara itu, jika dipandang dari sisi istilah, kata pencak silat di dalam pengertian para tuo silek (guru besar silat) adalah mancak dan silek. Perbedaan dari kata itu adalah:

  • Kata mancak atau dikatakan juga sebagai bungo silek (bunga silat) adalah berupa gerakan-gerakan tarian silat yang dipamerkan di dalam acara-acara adat atau acara-acara seremoni lainnya. Gerakan-gerakan untuk mancak diupayakan seindah dan sebagus mungkin karena untuk pertunjukkan.
  • Kata silek itu sendiri bukanlah untuk tari-tarian itu lagi, melainkan suatu seni pertempuran yang dipergunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, sehingga gerakan-gerakan diupayakan sesedikit mungkin, cepat, tepat, dan melumpuhkan lawan.

Para tuo silek juga mengatakan jiko mamancak di galanggang, kalau basilek dimuko musuah (jika melakukan tarian pencak di gelanggang, sedangkan jika bersilat untuk menghadapi musuh). Oleh sebab itu para tuo silek (guru besar) jarang ada yang mau mempertontonkan keahlian mereka di depan umum bagaimana langkah-langkah mereka melumpuhkan musuh. Oleh sebab itu, pada acara festival silat tradisi Minangkabau, maka penonton akan kecewa jika mengharapkan dua guru besar (tuo silek) turun ke gelanggang memperlihatkan bagaimana mereka saling serang dan saling mempertahankan diri dengan gerakan yang mematikan. Kedua tuo silek itu hanya melakukan mancak dan berupaya untuk tidak saling menyakiti lawan main mereka, karena menjatuhkan tuo silek lain di dalam acara akan memiliki dampak kurang bagus bagi tuo silek yang “kalah”. Dalam praktek sehari-hari, jika seorang guru silat ditanya apakah mereka bisa bersilat, mereka biasanya menjawab dengan halus dan mengatakan bahwa mereka hanya bisa mancak (pencak), padahal sebenarnya mereka itu mengajarkan silek (silat). Inilah sifat rendah hati ala masyarakat Nusantara, mereka berkata tidak meninggikan diri sendiri, biarlah kenyataan saja yang bicara. Jadi kata pencak dan silat akhirnya susah dibedakan. Saat ini setelah silek Minangkabau itu dipelajari oleh orang asing, mereka memperlihatkan kepada kita bagaimana serangan-serangan mematikan itu mereka lakukan. Keengganan tuo silek ini dapat dipahami karena Indonesia telah dijajah oleh bangsa Belanda selama ratusan tahun, dan memperlihatkan kemampuan bertempur tentu saja tidak akan bisa diterima oleh bangsa penjajah di masa dahulu, jelas ini membahayakan buat posisi mereka.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa silat itu berasal dari kata silek. Kata silek pun ada yang menganggap berasal dari siliek, atau si liat, karena demikian hebatnya berkelit dan licin seperti belut. Di tiap Nagari memiliki tempat belajar silat atau dinamakan juga sasaran silek, dipimpin oleh guru yang dinamakan Tuo Silek. Tuo silek ini memiliki tangan kanan yang bertugas membantu beliau mengajari para pemula.
Orang yang mahir bermain silat dinamakan pandeka (pendekar). Gelar Pandeka ini pada zaman dahulunya dilewakan (dikukuhkan) secara adat oleh ninik mamak dari nagari yang bersangkutan. Namun pada zaman penjajahan gelar dibekukan oleh pemerintah Belanda. Setelah lebih dari seratus tahun dibekukan, masyarakat adat Koto Tangah, Kota Padang akhirnya mengukuhkan kembali gelar Pandeka pada tahun 2000-an. Pandeka ini memiliki peranan sebagai parik paga dalam nagari (penjaga keamanan negeri), sehingga mereka dibutuhkan dalam menciptakan negeri yang aman dan tentram. Pada awal tahun ini (7 Januari 2009), Walikota Padang, H.Fauzi Bahar digelari Pandeka Rajo Nan Sati oleh Niniak Mamak (Pemuka Adat) Koto Tangah, Kota Padang. Gelar ini diberikan sebagai penghormatan atas upaya beliau menggiatkan kembali aktivitas silek tradisional di kawasan Kota Padang dan memang beliau adalah pesilat juga di masa mudanya, sehingga gelar itu layak diberikan.

Silat Sabeni Asli Tanah Abang

Silat Sabeni Asli Tanah Abang Nyaris Punah. Banyak aliran-aliran silat yang tumbuh dan lahir dari tanah Betawi, seperti Beksi yang lahir di daerah Kebayoran Lama dan silat Cingkrik dari Condet. Namun, dari jenis aliran silat yang ada, silat Sabeni kini berada di ambang kepunahan. Tokoh aliran silat Sabeni, Zul Bachtiar, mengatakan bahwa aliran silat Sabeni ini memang tak setenar ilmu silat lain yang ada di Betawi. Karena kesohorannya, nama H Sabeni diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Tanah Abang, h Sabeni wafat pada 1945 dan dimakamkan di Gang Kubur, Tanah Abang, berdekatan dengan rumahnya.

Bela diri silat begitu lekat di masyarakat Betawi. Banyak aliran-aliran silat yang tumbuh dan lahir dari tanah Betawi, seperti Beksi yang lahir di daerah Kebayoran Lama dan silat Cingkrik dari Condet.

Tanah Abang pun menjadi tempat lahirnya satu.aliran silat yang diberi nama, Sabeni. Namun, dari jenis aliran silat yang ada, silat Sabeni kini berada di ambang kepunahan.

Tokoh aliran silat Sabeni, Zul Bachtiar, mengatakan bahwa aliran silat Sabeni ini memang tak setenar ilmu silat lain yang ada di Betawi. Sebab, saat ini hanya satu perguruan atau padepokan silat Sabeni yang masih tersisa di Tanah Abang. Itu pun hanya beranggotakan tak lebih dari 30 orang.

“Dulu ada beberapa perguruan, itu pun diasuh oleh cucu-cucu H Sabeni, yakni Ramdhan) Mustofa dan Taufik. Tapi sekarang cuma saya, yang lain udah pada bubar,” kata salah satu cucu H Sabeni ini. Sabtu (18/12).

Zul menjelaskan aliran silat ini lahir pada awal abad ke-20. Pencipta aliran ini adalah H Sabeni yang merupakanjago silat Betawi dari Tanah Abang, dekat dengan pasar Kambing. “Haji Sabeni mendapatkan ilmu silat dari dua orang berbeda, yakni H Suud dan H Mail, keduanya tokoh Tanahabang,” katanya.

Ciri khas silat Sabeni adalah serangan pukulan dengan sontokon pada bagian punggung telapak tangan. Tak hanya itu, kuda-kuda aliran Sabeni pun lebih rendah antara kaki satu dan lainnya yang sedikit merapat.

Di silat Sabeni ada LS jurus dasar yang terdiri atas jurus dasar 1 hingga jurus dasar 15. Keseluruhan jurus dasar yang ada, lanjut Zul Bachtiar, terfokus padapenyerangan. “Kaga ada istilah nunggu diserang lawan, tapi kityang dahulu memulai serangan terhadap lawan,” kata pria yang kini bermukim di Bogor dengan logat Betawinya yang masih kental.

Zul menuturkan, minimnya penerus ajaran silat Sabeni karena kurangnya minat dari generasi muda Betawi. Seni bela diri silat ini, lanjut Zul, kalah pamor dengan jenis bela diri lain dari luar daerah atau pun luar negeri. “Usaha saya untuk terus mengajarkan ini juga, sebagai upaya pelestarian kesenian silat,” ujarnya.

Padahal, katanya, Ilmu silat ini pernah tenar sekitar tahun 1940-an saat H Sabeni mengalahkan jagoan karate dan jagoan sumo asal Jepang dengan mudah. Akhirnya banyak warga yang berguru ke H Sabeni. Karena kesohorannya, nama H Sabeni diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Tanah Abang, h Sabeni wafat pada 1945 dan dimakamkan di Gang Kubur, Tanah Abang, berdekatan dengan rumahnya. Namun beberapa tahun kemudian, makamnya dipindahkan ke TPU Karet Bivak, Tanah Abang. Nggak ade yang tersisa dari H Sabeni, hanya sebuah makam yang terletak di Karet Bivak,” kata Zul.

MAEN PUKUL TROKTOK DI ULUJAMI

Maen pukul Troktok atau yang di Ulujami biasa disebut dengan “LANGKAH” atau “RONCE” adalah salah satu maen pukul disamping beberapa aliran maen pukul yang ada dan berkembang di Ulujami. Maen pukul ini dibawa ke Ulujami sejak Kong H Dilun mempelajarinya dari Guru Marzuk asal Rawakidang Tangerang. Guru Marzuk adalah seorang guru yang selain dikenal dengan penguasaan teknik-teknik beladiri yang mumpuni beliau juga dikenal dengan kealimannya sebagai seorang ulama.

Kong H Dilun merupakan murid angkatan pertama asal Ulujami yang mempelajari maenan ini yang selanjutnya beliau menurunkan kepada anak-anaknya yang salah satu diantaranya adalah H.M.Syukri. Langkah Kong H Dilun belajar kepada Guru Marzuk kemudian diikuti oleh beberapa anggota keluarga dan kerabat lainnya asal Ulujami. Mereka tersebut diantaranya adalah:

1. Ki Belum(H.Hablum)
2. Ki Inan
3. Kong Awih,Peninggaran Cipulir

Maen pukul yang bagi kebanyakan pemuda betawi khususnya di Ulujami saat itu menjadi semacam menu wajib disamping menu wajib lainnya seperti sholat dan mengaji yang selalu mengisi keseharian mereka. Masyarakat Ulujami yang saat itu pola kehidupannya adalah berkebun/bertani dan juga sebagai penjahit peci(kopiah) tetap berusaha meluangkan waktunya mempelajari maen pukul Troktok ini disela-sela istirahatnya dari kelelahan seharian berkebun/bertani dan menjahit peci.
Alhasil dari sekian banyak murid yang “jadi”,Ki Belum adalah salah satu murid asal Ulujami yang diberi kepercayaan oleh Guru Marzuk untuk mengajarkan ilmu maen pukul ini.(menurut informasi dari beberapa murid senior,Ki Belum menyebarkan/mengajar maen pukul Troktok sampai kedaerah Petojo dan sekitarnya,sedangkan H.Seud bin Guru Marzuk yang saat itu menjabat sebagai seorang wedana didaerah Kebayuran/Peninggaran Kebayuran(sekarang Kebayoran Lama) adalah yang mengajar/menyebarkan didaerah Kebayuran itu sendiri dan sekitarnya(Radio Dalam,Lebak Bulus,Kemang dan Terogong…?).

Sementara itu dikediaman Kong H Dilun dimana beliau mengajarkan anak-anaknya kerap kali dikunjungi oleh Ki Belum,Ki Inan maupun Kong Awih. Selain bersilaturahmi biasanya dalam kunjungan mereka tersebut selalu di”bumbui” dengan mengajak H.M.Syukri ber”tukar pikiran”,hal ini menjadikan H.M.Syukri selain mendapat pelajaran dari bapaknya juga semakin terasah dengan adanya proses “tukar pikiran tersebut”.
Setelah lamanya proses pembelajaran tersebut,H.M.Syukri mulai sering menghabiskan waktunya diluar Ulujami bahkan ia sempat beberapa lama menetap untuk tinggal dibeberapa tempat seperti diKemanggisan(keluarga istrinya). diPasar Baru dan juga di Rawa Bengkel Cengkareng(keluarga kakak-kakaknya) hingga akhirnya ia diminta untuk kembali menetap diUlujami oleh keluarga dan kerabat.
Sekembalinya H.M.Syukri di Ulujami banyak para pemuda menyambutnya dengan minta diajari maen pukul Troktok kepadanya dikarenakan antara lain banyaknya tokoh/guru maen pukul Troktok di Ulujami yang telah wafat juga lantaran adanya perintah dari salah seorang kiai besar diUlujami(KH.Mansur Fathi bin H.Abdul Muin bin H.Buang) yang sekembalinya ia dari “mukim”di tanah suci Mekkah yang menyemangati para pemuda untuk mempelajari maen pukul sebagai salah satu kewajiban membela diri,keluarga dan kampung halamannya.
Sejak itu sanak saudara dan kerabat banyak yang berniat untuk belajar. H.M.Syukri dalam menerima murid-muridnya biasanya ia memerintahkan kepada sicalon murid untuk terlebih dahulu mempelajarinya dari tempat/guru lainnya dengan alasan untuk menghormati para guru yang masih ada,hal ini pernah dialami oleh salah satu murid senior yang bernama Bang Aini ketika bermaksud menyampaikan niatnya untuk minta diajari maen pukul oleh beliau. ia beberapa kali ditolak hingga Bang Aini sempat mempelajarinya(Troktok) dari Kong Awih bahkan ia juga sempat belajar maen pukul dengan aliran aliran yang berbeda,hingga ia pun diterima sebagai murid oleh H.M.Syukri(penampilan maen pukul Troktok pernah ditampilkan distasiun TVRI pada tahun 80-an atas undangan Bapak Eddy Nalapraya. Yang pada kesempatan tersebut Bang Aini yang didampingi H.M.Syukri sempat menampilkan maen pukul Troktok).

Maen pukul Troktok yang diajari H.M.Syukri kepada murid-muridnya ini dimulai dengan “JURUS”(biasa disebut dengan “JURUS ANGIN”) yang terdiri dari 4 jurus dasar diantaranya adalah:
1. Jurus Pukul
2. Jurus Deprok
3. Jurus Kancut/Bentak
4. Jurus Kepang/Seliwa
(susunan jurus ini bisa berubah sesuai kemampuan sicalon murid dalam penguasaannya)
Lalu setelah menguasai 4 jurus tersebut lalu dilanjutkan dengan LANGKAH atau rangkaian dari jurus-jurus dasar,yang dimulai dengan langkah 2 dan ditutup dengan langkah 1 berikut susunannya:
1. Langkah 2 Kurung
2. Langkah 3 Kurung
3. Langkah 4 Totok/Colong
4. Langkah 5, terbagi menjadi 2
a. Langkah 5 Sangkol
b. Langkah 5 Tetes
5. Langkah 1, juga terbagi menjadi dua
a. Langkah 1 Silo Macan
b. Langkah 1 Ngayak.
(Sedangkan susunan pada “LANGKAH” ini terdapat sedikit perbedaan pada versi awalnya)
Dan setelah murid dinilai telah “licin” penguasaannya atas jurus dan langkah,barulah ia diberi gerak-gerak sambut/aplikasi.

Berikut beberapa nama/istilah dalam sambut;
1. Kancut/Bentak
2. Patah kaki
3. Cekikan
4. Guntingan
5. Kelim
6. (n)jiret
7. Patah pinggang
8. Junjang
9. Limbang
10. Sabet kaki
12. Bendung Dll
Yang masing-masing gerak sambut tersebut mempunyai bukaannya masing-masing mengimbangi bukaan lawan. Karena pada dasarnya setiap kunci pasti ada bukaannya.

Sementara untuk permainan senjata dalam hal ini H.M.Syukri tidak mengajarkan secara khusus melainkan senjata mengikuti/mengiringi gerak dan jurus. Adapun permainan toya yang diciptakan oleh Kong Awih(konon terciptanya permainan toya ini lantaran kejadian bentrok antara Kong Awih dengan beberapa polisi belanda pada saat itu.yang melahirkan gerak-gerak spontan dalam bertahan dan menyerang) diperkenalkan H.M.Syukri kepada murid-muridnya,namun tidak dijadikan sebagai pelajaran utama.

Gerak jurus,langkah dan sambut yang diajarkan oleh H.M.Syukri kepada murid-muridnya mempunyai sedikit perbedaan dengan gerak jurus,langkah dan sambut pada versi awal maen pukul Troktok ini di Ulujami. Hal ini disebabkan antara lain penekanan H.M.Syukri pada permainan akal yang dibarengi dengan kecepatan dan ketepatan(murni teknik). Akal dalam merespon gerak lawan yang menghasilkan gerak spontan yang cepat dan tepat dalam melancarkan serangan balik kepada lawan dan usaha menempatkan pada posisi selalu siap dalam menghadapi serangan lawan selanjutnya. Pada tahap inilah seorang murid dituntut/dipancing mencari akal bagaimana meladeni lawan dakam posisi yang selalu menguntungkan yang di Ulujami dikenal dengan istilah “Beronce” atau “Ronce” yang diartikan dengan “Selalu sambung tak terputus layaknya anyaman rantai”(“semakin banyak akalnya,semakin banyak bukaannya”). Juga pada tahap ini pula H.M.Syukri memberikan kebebasan kepada murid-muridnya untuk menghasilkan gerak-gerak yang spontan dalam menghadapi serangan yang tidak terpaku pada apa yang selama ini diajarkan. Untuk lebih lanjutnya beliau memberikan penilaian mana yang boleh dipakai dan mana yang tidak dengan prinsip pakai,mana yang menguntungkan dan tinggalkan mana yang merugikan. Serta memberikan pilihan-pilihan tersebut kepada murid-muridnya. Prinsip ini juga yang menjadikan ada sedikit perbedaan dengan Troktok pada versi awalnya di Ulujami.

Sedangkan ritual “Ngonde” pada maenan ini yang dijadikan sebagai penutup keseluruhan pelajaran maen pukul ini mulai ditinggalkan oleh H.M.Syukri sejak beliau mulai mengajarkan maen pukul ini.

Beberapa hal penting yang selalu diajarkan H.M.Syukri,antara lain:
1. Semua jenis dan aliran maen pukul itu baik dan bagus semua. Tinggal bagaimana yang mempelajari mengamalkannya(Kong H Dilun).
2. Tinggalkan yang sekiranya merugikan bagi kita, dan pakai yang sekiranya menguntungkan bagi kita.
3. Ambil yang ada didepan mata, Jangan kejar yang jauh.
4. Jangan pernah meng”ecer”/”keteng” jika menghadapi situasi yang berbahaya, langsung “borong” saja. dll.

Mengingat sejarah maen pukul Troktok di Ulujami dari dulu hanya disampaikan dari mulut kemulut saja tanpa ada pencatatan yang jelas mengenai ini. Akhirnyapun beresiko melahirkan beberapa versi cerita/sejarahnya, begitu pula pada susunan sanad/silsilah pada maenan ini. berikut beberapa versi sanad/silsilah yang ada dikenal diUlujami;

A. 1. GURU MARZUK
A. 2. -Kong H dilun -Ki Belum -Kong awih -Ki Inan
A. 3. H.M.Syukri

B. 1. Lie Ceng Oek
B. 2. Guru Marzuk
B. 3. -Kong H.Dilun -Ki Belum -Kong Awih -Ki Inan
B. 4. H.M.Syukri.

C. 1. Guru Marzuk
C. 2. -Ki Belum -Kong Awih
C. 3. H.M.Syukri

Dari 3 versi sanad/silsilah yang ada dan dikenal di Ulujami,sanad yang pertama(A) lebih diyakini keakuratannya dibandingkan dengan versi kedua(B) dan ketiga(C). Adapun penyebutan nama besar Lie Ceng Oek yang notabene BEKSI pada sanad/silsilah versi 2(B) semata mencoba menampilkan apa adanya sesuai dengan apa yang ada dan berkembang di Ulujami,tanpa ada maksud lain/tertentu.

Berikut beberapa nama murid-murid senior yang tersisa dan masih aktif di Ulujami;
1. M.Nashri bin H.M.Syukri(Bang Nashri)
2. Otong al Hasan bin Acing S(Bang Otong)
3. Aini bin M.Dahlan(Bang Aini)
4. Suryadi(Bang Ewa)
5. Adang Kurnia(Bang Engkur)

Akhirnya tulisan ini hadir dimaksudkan sebagai pelengkap dan sekaligus sebagai koreksi atas kekhilafan-kekhilafan pada catatan saya di Facebook yang dicopaskan ke Sahabatsilat.Com dan situs lainnya,meskipun tidak tertutup kemungkinan pada tulisan inipun terdapat beberapa kesalahan mengingat data-data yang minim dan tradisi lisan dalam penyampaiannya selama ini.

Setidaknya,hadirnya tulisan ini semoga menjadi motivasi generasi muda khususnya betawi untuk lebih mencintai budayanya sendiri agar dirinya tidak menjadi “asing” ditengah ruang redup dengan sorot lampu yang kerlap-kerlip…kerlap-kerlip…kerlapnyapun kerlip…

Silat Pauh

Silat pauh ternyata digunakan guru tarikat Naqsabandiyah di Kecamatan Pauh, Kota Padang untuk menarik seorang laki-laki belajar tarikat Naqsabandiyah.

“Siapa yang hendak belajar beladiri pencak silat pauh harus masuk dulu ke dalam ajaran Naqsabandiyah,” ujar Syafri Malin Mudo, guru Naqsabandiyah di Musala Baitul Makmur, Pauh, Sabtu (6/12).

Syafri yang juga pengurus silat “Alam Pauh Sejati Nan Jombang” ini mengakui pelajaran silat pauh salah satu strategi menarik orang untuk belajar Naqsabandiyah. Secara turun-temurun setiap malam minggu diadakan latihan silat dekat musala.

“Silat pauh sangat dikenal di Kota Padang , setiap pertandingan silat pauh selalu meraih juara,” katanya.

Jika seseorang ingin belajar silat, ada dua tahap yang harus dilaluinya. Pertama dari surau ke halaman. Mereka terlebih dulu sembahyang dan berdoa di surau, baru kemudian turun ke halaman untuk berlatih.

Sebelum berlatih, terlebih dulu si murid menyediakan syarat seekor ayam, sebilah pisah, kain, dan cermin. Ayam ini kemudian dipotong.

Saat pemotongan ayam ini akan diketahui karakter murid baru yang akan mengikuti latihan silat tersebut, apakah itu akan dilanjutkan ke tingkat atas atau tidak,” ujarnya.

Jika lulus syarat, si murid baru langsung diajarkan latihan dasar silat yang dibina seorang guru bernama Rajo Basa.

Jika sudah mapan dalam gerakan silat maka tahap selanjutkan adalah dari halaman masuk surau. Tapi dengan syarat mereka yang telah dipilih oleh gurunya.

“Para murid kembali diajarkan pencak silat tapi tidak di halaman surau namun dalam surau yaitu penyaluran tenaga dalam dan itu bukan sembarangan saja, itu adalah murid pilihan,” katanya.

Latihan silat akan dilakukan pada malam hari sesudah salat Isa hingga pagi menjelang Subuh. Saat belajar inilah para murid selain belajar beladiri juga belajar Tarikat Naqsabandiyah.

“Dari dulu hingga sekarang semua guru di surau Naqsabandiyah memiliki ilmu beladiri silat pauh sebagai bekal hidupnya,” kata Syafri.

Berikut itu hanyalah contoh kecil yang yang dapat saya paparkan. Bukan bermaksud untuk melupakan aliran lain. Keterbatasan pengetahuanlah yang menyebabkan saya hanya mampu untuk memaparkan contoh kecil aliran silat diatas. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat di http://silatindonesia.com/. Pada intinya, sebagai benda budaya, silat bukan hanya wajib kita lestarikan, namun ada lebih bijaknya kita juga kembali menghidupkan pencak silat dengan ikut berpatisipasi. Dengan demikian bukan tidak mungkin silat kita akan lebih besar dari karate atau taekwondo. Saya pribadi percaya silat kita lebih baik dari olahraga beladiri tersebut.

Sumber info: http://silatindonesia.com/

2 responses to “Silat (Upaya pelestariannya Dalam Era Globalisasi)

  1. Nice Job🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s