Galeri

Nyadran, Wisata Budaya Terpendam Yang Menjanjikan

Banyak wisata budaya andalan Bojonegoro yang luput dari perhatian. Padahal, di sektor pariwisata itulah pendapatan daerah dapat diraih. Selain budaya ngunduh mantu, tradisi sedekah bumi jika dikemas sedemikian rupa akan mampu menyuguhkan daya tarik tersendiri bagi wisatwan lokal maupun mancanegara.

“Tradisi tersebut merupakan aset kita yang terpendam. Jika ini bisa kita kembangkan akan menjadi  wisata budaya andalan bagi masyarakat pedesaan yang berujung pada peningkatan kreatifitas masyarakat untuk ikut menggairahkan industri pariwisata di Bojonegoro,” ujar Supolo, pemerhati  budaya asal Desa Brabowan, Kecamatan Ngasem, kemarin.

Menurutnya, dengan menggali tradisi sedekah bumi, masyarakat secara tidak langsung akan turut mendukung, karena mereka yang menjadi bagian dari aset budaya tersebut. “Ini merupakan tradisi turun-temurun yang tidak bisa ditinggalkan oleh masyarakat kita. Kenapa ini tidak kita gali bersama untuk kita kembangkan,” kata Supolo, yang juga sebagai dalang wayang kulit ini.

Dijelaskan, tradisi nyadranan adalah pesta rakyat pedesaan sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Tuhan atas bumi yang dihuninya bisa menjadi sumber kehidupan. Bahkan, lanjut Supolo, pada acara nyadran sangat kental sekali dengan adat dan istiadat Jawa yang jika dikembangkan akan mampu menjadi wisata budaya yang adi luhung untuk tetap dipertahankan.

“Apalagi, tradisi tersebut hingga kini masih dilakukan dan memiliki nuasa religi yang sangat dalam. Buktinya, meski masyarakat sekarang banyak memeluk agama Islam, namun pada saat melakukan ritual nyadran mereka masih menganut budaya jaman dulu. salah satunya membakar dupa dan melakukan tasyakuran di tempat-tempat yang disakralkan oleh warga setempat,” jlentreh Supolo.

Ini merupakan tantangan bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bojonegoro untuk mengembangkan aset wisata yang dimiliki mayoritas masyarakat pedesaan itu.

Seperti diketahui, pada acara sedekah bumi atau nyadran biasanya masing-masing desa memiliki hari dan tradisi serta tempat yang berbeda. Ada yang dilakukan di sebuah sendang, kuburan dan sumur tua atau punden. Semua tempat itu diyakini sebagai cikal bakal berdirinya desa tersebut.

Bahkan untuk menyemarakkan acara nyadran yang biasa dilakukan usai panen raya itu masing-masing desa juga memiliki hiburan yang berbeda pula. Ada yang tayub, wayang kulit, wayang krucil maupun wayang tengul (golek) yang konon menjadi kesukaan Danyang desa tersebut.

“Dari keanekaragaman budaya dan istiadat itu jika bisa kita kemas dengan baik akan menjadi tujuan wisata musiman yang bisa mengangkat industri pariwisata di Bojonegoro,” terang Supolo.

sumber: http://www.jatim.go.id/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s