Galeri

Saya Orang Indonesia

Foto: antaranews.com

Mengapa selama ini kita harus berkata saya Betawi, saya Jawa, saya Sunda? Mungkin tindakan itu tidaklah salah, namun ada kalanya diperparah dengan etnosentrisme (tindakan merasa paling benar) “saya Betawi yang paling hebat, Jawa yang paling sabar, Sunda yang paling tampan. Keadaan etnosentris tadi di perparah dengan tindakan stereotip (tindakan menjelekan suku lain) “ah dasar betawi lu! suka kawin! bisanya ngaji doang!”. Ya, itulah realita yang ada di masyarakat kita.

Sebenarnya etnosentris dan stereotip yang berkembang di masyarakat memang tak dapat sepenuhnya disalahkan. Ini merupakan resiko sebuah negara multikultur yang sering mengalami gesekan dalam kehidupan sehari-hari. Ini karena pola kultur yang jelas berbeda yang mereka bawa dari asalnya bertemu dalam suatu ruang lingkup sehari-hari, ibukota. Dari perbedaan itu pula tak jarang mereka melakukan sikap di atas. Semua masih mereka anggap wajar.

Kewajaran ini yang menurut saya tidaklah wajar. Ini jelas menganggu harkat martabat seseorang. Streotip yang berkembang bisa saya katakan akan memicu suatu segresi (kerusakan) dalam hubungan sosial masyarakat. Mengapa demikian? Tentunya niat awal yang bercanda dapat memicu suasana panas yang rawan konflik. Kita sering mendengar pepatah “awas-awas kalau berkata, dari bercanda bisa jadi bertengkar”. Mungkin pepatah ini tepat untuk kasus bercandaan tradisional ini.

Belum lagi kasus saling cela di stereotip tadi usai, masyarakat kita lagi-lagi diperparah dengan sikap etnosentris (narsisme kesukuan). Ini sesungguhnya yang membuat kita terjajah 3.5 abad. Rasa kesatuan yang amat sangat sulit terbentuk. Sikap-sikap nepotisme kedaerahan pun berkembang oleh karena sikap etnosentris tadi. Misal, di kampus, saya sering melihat organisasi kumpulan orang jawa, batak, minang, atau apalah. Di dunia kerja kerap kali kita melihat koalisi perekrutan karena satu suku. Ini merupakan hal yang tidak fair karena dikampus kita wajib bersosialisasi dengan semua orang, dan di dunia kerja kita wajib merekrut orang yang benar-benar berpotensi. Etnosentris berpotensi merusak tatanan hubungan sosial masyarakat kita.

Ironi sebuah negara multikultur yang ternyata persatuan didalamnya belum cukup kuat. Bahkan kebobrokan itu berusaha di tutupi dengan keindahan sikap ketimuran kita di mata internasional. Ini meruapakan kebohongan terbesar bangsa kita. Sungguh menyedihkan jika kita telah mengetahuinya.

Etnosentris dan Streotip Menghambat Proses Multikulturalisme

Mengapa demikian? Jawabannya karena sebuah sikap negatif tersbut akan mempersulit jalannya dialog-dialog menuju pluralitas. Rasa egoistis serta merendahkan orang lain inilah yang menyebabkan masyarakat sering melupakan aspek kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat. Meski stereotip terkadang bersifat bercanda, namun aspek bercanda yang konyol ini saya nilai sebagai pangkal awal konflik berbau SARA di negeri kita ini.

Peristiwa kekerasan berbau suku atau agama kerap kali merundungi negeri ini. Mungkin karena masyarakatnya yang tak lagi mengenal sikap saling menghormati antar manusia yang jelas-jelas memang memiliki perbedaan sejak lahir. Dengan mengatasnamakan kebenaran suku atau agama sendiri, mereka rela menebas kepala-kepala saudara setanah air mereka. Ini merupakan suatu sikap terbodoh di negara multikultural ini.

Lalu sikap apakah yang tepat untuk sekiranya untuk tetap mempertahankan kebudayaan kita tanpa merusak hubungan sosial dengan orang lain? Ya, tentu berbicara tentang identitas suku ataupun agama, setiap orang telah memiliki keyakinan tersendiri antas kebeneran mereka. Namun disini sikap menghargai dan toleransi menjadi kata kunci untuk sedikit mengikis penyakit tradisionil di kalangan masyarakat kita ini. Toleransi akan membangun kita menjadi bangsa yang benar-benar “ramah”.

Toleransi untuk Oase Perdamaian di negeri ini

Sekali lagi sikap toleransi kembali saya gaungkan demi tegaknya persatuan negara multikultur ini. Saya berada di garda depan untuk persoalan multikulturalisme bangsa kita. Toleransi disini bukan kita melarang diri untuk mengatakan identitas suku kita. Itu baik untuk suatu identitas diri. Namun dengan menghargai suku lain, agama lain, sikap kita sebagai suatu pribadi akan lebih terlihat sempurna.

Sharing antar budaya antar agama mungkin bisa menjadi alternatif kita dalam menyikapi perbedaan. Misal dalam hal budaya, kita membagi pengalaman tentang kebaikan nilai-nilai budaya kita yang mungkin mereka dapat pelajari begitu pula sebaliknya dan dapat diterapkan dalam segi akulturasi positif.  Dalam agama, saya tidak menagatakan bahwa kita harus sharing nilai-nilai akidah, namun sharing tentang akhlak-akhlak yang mereka dapat dari agama mereka masing-masing untuk saling melengkapi moral kehidupan kita.

Kembali ke penyelesian masalah, semua ini ada ditangan masyarakat kita sendiri. Bagaimana  mereka mau merubah pola kebiasaan mereka yang etnosentris dan bercanda ala “stereotip” pada kebiasaan sehari-harinya. Perubahan ini tentunya akan berdampak langsung pada pulihnya keadaan sosial-budaya kita yang telah cukup ternodai dengan konflik SARA. Mengubah suatu kebiasaan buruk memang tak mudah, namun ada baiknya kita lakukan demi terwujudnya kesatuan negara ini. Mari kita berkata dengan bijak: saya orang Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s