Galeri

Apathisme Yang Berujung Pada Kebungkaman

Ketika saya turun aksi senin (11 april 2011) kemarin perihal pembangunan gedung baru DPR, saya melihat fenomena yang cukup menarik di lapangan. Saat saya berkeliling gedung DPR untuk memungut asprasi rakyat, dari sekitar tiga puluh responden yang saya tanyai, kebanyakan megatakantidak bisa memberikan jawabannya dengan berbagai macam alasan. Hanya sekitar tujuh belas orang yang memberikan yang memberikan suaranya. Ini artinya hampir 43% masyarakat memilih untuk bungkam.

Sebagai mahasiswa antropologi yang biasa mengkaji pola perilaku dan kebudayaan manusia, saya melihat ini sebagai fenomena antropologi politik yang cukup menarik. Mengapa saya bisa mengatakan demikian? Hal ini disebabkan semakin tingginya tingkat ketidakpedulian masyarakat terhadap suaranya. Apakah ini pertanda keapathisan masyarakat yang sudah mulai meninggi. Dengan berbagai alasan, seperti “sudah makan saja sudah cukup saya mas”, “terserah DPR aja, saya ga peduli”, “dagangan saya belum laku mas, mending ngurusin dagangan dulu”, “saya orang kecil, ga berani dengan pemerintah”, dll.

Menurut saya, hal ini merupakan suatu gejala keapathisan yang disebabkan oleh hilangnya rasa percaya masyarakat kepada pemerintah. Dengan kata lain, mereka telah bosan dengan semua usaha yang telah mereka sampaikan selama ini untuk menyadarkan kebobrokan pemerintah. Dan pasca Reformasi 98′ pun, kita belum melihat perubahan nyata dari runtuhnya sebuah rezim otoriter Soeharto. Hal ini mungkin yang menyebabkan masyarakat sudah merasa tak lagi perlu memberikan suaranya di DPR. Ini merupakan suatu hal yang sekiranya membahayakan sistem demokrasi, karena suara rakyat sudah menjadi hal yang tak lagi didengar dan masyarakat tak lagi berminat memberikan suaranya.

Terkait dengan keapathisan masyarakat yg masih berlanjut, sikap wakilnya sendiri sudah mulai jauh dari kata dewan perawakilan rakyat. Saya berani menyebut mereka dewan pelacuran rakyat. Mereka telah melacurkan hak-hak rakyat. Pergi jalan-jalan ke Yunani untuk belajar moralitas, tapi hasilnya malah menonton video porno ditengah sidang. Lebih parahnya Marzuki Ali berkata “untuk apa rakyat kecil diajak berbicara dalam pembangunan gedung baru, toh mereka sudah cukup makan aja sudah cukup, biar ini jadi urusan orang pintar (berpendidikan) saja”. Apakah itu cermin ketua dewan perwakilan rakyat? Saya kira jawabannya tidak!

Sikap bodoh para dewan itulah yang mendasari keapathisan masyarakat selama ini. Sudah banyak perjuangan baik suara ataupun aksi-aksi masyarakat yang hanya terdengar seperti angin lalu. Sudah banyak protes tertulis ataupun aksi yang mereka sampaikan terkait dengan kebobrokan kinerja wakil rakyat yang kerjanya hanya buang-buang uang rakyat. Ini adalah tonggak awal keapathisan rakyat. Kebutaan, ketulian, kebisuan nurani dwan sialan itulah yang membuat rakyat berputus asa dalam proses perubahan Indonesia. Merekalah yang terpilih, mereka jugalah yang tidak bisa menjaga amanah rakyat.

Sebagai mahasiswa sekaligus pejuang di lapangan, saya tidak akan berhenti menyuarakan kebenaran. Turun ke jalan dan menyuarakan suara rakyat yang sedikitnya telah memilih untuk diam, bagi saya adalah sebuah kewajiban dalam mengemban amanah rakyat. Dengan turunnya saya kejalan, mungkin tidak akan mempengaruhi kebijakan yang tirani yang selama ini mereka lakukan. Namun saya berharap sekiranya ini bisa menjadi momentum bagi kebangkitan kesadaran rakyat dalam meminta kembali haknya yang telah lama diabaikan para wakilnya.

Dan pada akhirnya, ditulisan yang singkat ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa keadaan mental bangsa ini telah hampir mencapai titik nadir. Jika kita tak segera menyadari pentingnya sebuah suara kebenaran, maka kita akan mengahadapi rezim otoriter yang kali ini justru di pimpin oleh wakil rakyatnya sendiri. Sungguh sebuah ironi yang tidak dapat kita pungkiri jika hal ini benar-benar terjadi. Dari sini kita dapat simpulkan bahwa suara rakyat bagai suara Tuhan dalam sebuah sistem pemerintahan yang demokratis. Maka dari itu penting bagi kita semua menyadari bahwa kita harus bergerak dalam memberikan suara kita. Mari bergerak bangsaku!

2 responses to “Apathisme Yang Berujung Pada Kebungkaman

  1. Yoah…

    Itulah yang terjadi ke dalam diri gue.

    Mungkin apathis jadi salah satu tindakan gue…

    Tapi gue juga cukup bingung mengutarakannya.. Tulisan ini benar2 mengkritik gue… Tapi, bukan berarti setelah ini gue nuntut elo buat meminta maaf, bukan. Justru gue makasih banget karena udah diingetin

    Gue selama ini cuma bisa meneliti di balik meja. Karena, secara natural gue emang orang yang bertipe di balik meja. Lalu, gue juga bukan tipe orang yang ngajak ribut – walaupun tentu saja masih banyak yang perlu dievaluasi. Lalu, ideologi awal gue yang berasal dari negara (demokrasi) juga merupakan ideo yang sarat dengan kehidupan gue, di samping kerasnya lingkungan gue, membuat gue melakukan apathis atau neo-anarkhis.

    neo-anarkis : terkadang DIAM bisa mengutarakan aspirasi
    anarkis : terkadang SELONGSONG SENAPAN bisa mengutarakan aspirasi

    Iye, makanya selama ini gue diam. Gue diam (sambil tentu saja, meneliti apa yang menjadi disfungsi selama ini) dan selalu mengutarakan ketidakpuasan aspirasi gue – dengan satu kata – sekali lagi – diam. Gak ngaruh, gak cuma orang yang (maaf) ga berpendidikan aja diem kayak gini. Gue, yang (Alhamdulillah sungguh beruntung atas Nama-Nya) berpendidikan, sama kayak elo, juga selama ini diam.

    Gue… Berkontribusi saat nanti kemungkinan… Terbesar…

    Gue cuma bisa mengumpulkan ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan tersebut gue keluarkan saat gue mendapatkan sumber daya kekuasaan (politik, ekonomi, apalah itu) sehingga semua orang (maaf2 aja) takut sama gue.

    Terus apa maksudnya, bikin takut semua orang?? Kapitalkah? Neo-fasiskah??

    Maaf, gue bukan tipe orang yang kayak gitu..

    Kalopun gue punya kapital kekuasaan. Gue pengen gunain itu buat naklukin semua orang2 yang membuat peraturan sebagai hasil yang inheren (bertentangan dengan peraturan2 lainnya). Misalnya, kalo dia bikin suatu peraturan yang menyatakan tentang Pancasila lalu melupakan HAM, maka gue bakal ngecam keras hal itu – melalui – yah bisa dibilang – lembaga litbang atau jenis2 lainnya (karena yg pengen gue masukin kan ruang lingkup itu, hehe).

    Iya. Gue bakal jadi pengkritik pemerintah. Dan kedepannya pasti gue bakalan stress banget. Bu Mutia Hatta, Pak Paulus Wirutomo, dst, ahli2 ilmu sosial yang pernah dikecam oleh perwakilan2 (pelacuran) rakyat – karena jawaban yang aneh (menurut sudut pandang si perwakilan2 tsb). Emang, suatu fenomena sosial yang ampe2 gue sendiri aja bingung! Kenapa sih ga mau dikritik?? Bukannya pas sekolah dulu kita diajarin harus terbuka menerima kritik?? Itu juga tuh contoh inheren – bertentangan satu ajaran dengan ajaran lainnya…

    Dan inilah yang terjadi di negara tercinta kita… Tapi… Gue masih cinta dan akan selamanya cinta sama negara kita, berikut ideologi2 dan perangkat2 regulasi koheren (lawan dari inheren)…

  2. totalitas perjuangan ada di tiap-tiap individu bung. selama negara ini masih berwujud negara demokrasi, saya, anda, atau yang lainnya tak berhak menilai sebuah pilhan apathis itu benar atau salah. semua berdasarkan perspektif masing-masing. maaf jika kata apathisme mengganggu anda. Namun bagi saya, mati di tengah-tengah perjuangan adalah jalan terbaik. semua pilihan ada di pundak kita masing-maing bung. dan saya memilih untuk berjuang🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s