Galeri

Contoh Sebuah Catatan Lapangan Antropologi

Field Notes Ciwidey

9 Juni

Desa Citalahab Adalah desa penghasil buah stroberi yang mayoritas penduduknya bertani stroberi sebagai komoditas utama. Dahulunya desa ini desa dengan komoditas utama sayuran. Namun oleh karena factor keuntungan yang cukup menjanjikan, stroberi menggesersauran sebagai komoditas utama mata pencaharian warga Desa Citalahab. Menurut Pak Yana,seorang petani stroberi yang saya tumpangi rumahnya, dahulu sayuran menjadi komoditas utama di Desa Citalahab. Namun penanaman sayuran tidaklah efisien, sekali tanam dan panen, bibit sayuran baru harus ditanam kembali pada masa tanam berikutnya. Hal ini membuat modal yang keluar menjadi besar dan tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat. Lain halnya dengan stroberi yang dengan modal lima juta rupiah bisa dipanen dua kali sehari setelah dua bulan setengah masa penanaman. Dan pohon stroberi sendiri bias bertahan selama tiga hingga empat tahun. Menurut Kang Tan-Tan, seorang ipar Pak Yana yang juga bekerja pada beliau stroberi menjadi komoditas utamabaru sekitar tahun 2000-an. Sebelumnya sayuran menjadi komoditas utama mata pencaharian warga desa Citalahab. Namun karena factor resiko yang lebih besar dan keuntungan yg tidak seberapa, stroberi kemudian menggantikan sayuran sebagai komoditas utama. Jika sayuran menglamai kebusukan, harganya akan turun jauh dari standar. Dan ini menyebabkan modal tidak bisa tertutupi oleh keuntungan. Ataupun jika pada musim panen, harga sayuran bias turun jauh karena banyaknya pesaing petani sayuran yang memasok sayuran ke pasar. Sedangkan stroberi memiliki harga yang cukup stabil dengan resiko kerugian yg cukup kecil meskipun pada musim panen.

Dirumah Pak Yana saya dan dua orang teman lainnya menginap. Pria yang sekiranya berumur tiga puluhan ini memiliki satu orang istri dan empat orang anak. Satu anak sulung dan anak bungsunya perempuan serta dua sisanya anak laki-laki. Pak Yana bekerja sebagai petani stroberi yang biasa memasok strboeri ke Kota Pontianak dan Semarang. Beliau memiliki kebun stroberi di depan rumahnya dan bekerja juga pada kebun orang lain untuk memasok stroberi ke kota-kota langganannya. Dirumahnya terdapat tiga mata air. Hal itu yang menyebabkan beliau tidak pernah kesulitan air meskipun pada musim kemarau. Itri beliau, Teh Hani tidak bias memasak, sehingga pada kesehariannya mereka biasa mengandalkan sodara mereka untuk memasak. Pak Yana sendiri biasa pergi ke luar kota untuk memasok stroberi pelanggannya. Beliau pernah hampir mengirim stroberi ke Brunei Darusalam. Namun untuk kesana, diperlukanizin mengekspor agar stroberinya tidak ditahan petugas bea cukai di negara tersebut. Untuk sebuah rumah di pedesaan, rumah Pak Yana termasuk kategori cukup mewah dengan fasilitas yang teah memadai seperti adanya playstation 2, kasur spring bed, dan kompor gas yang bermerek.

10 juni

Untuk empat rumah yang kami tempati, saya menilai rumah-rumah tersebut cukup mewah untuk kalangan masyarakat desa. Ternyata Bapak RW dan Pak Yana masih memiliki hubungan saudara. Dan begitu pula. Rumah-rumah yang terbilang mewah untuk kalangan masyarakat desa tersebut, menjadi sebuah simbol bagaimana kekuatan politik desa dalam hal pengaturan kekuasaan mengatur siapa-siapa saja yang menjadi perangkat desa seperti RW, RT, dan juga pengusaha yang menguasai perdagangan di desa itu. Kesuksesan mereka bisa dibilang diturunkan dari generasi sebelumnya. Dan hal ini yang mereka ingin tunjukan kepada kami mahasiwa dari Jakarta, bahawa Desa Citalahab telah dapat digolongkan sebagai desa dengan kehidupan yang maju. Namun jika saya melihat rumah yang tidak kami tinggali, dimana masih terdapat rumah yang berbilik bambu, belum terdapat gambaran pemerataan kesejahteraan didesa tersebut. Dan terkesan ada satu hal yang ditutupi terkait dengan rumah yang kondisinya masih murni rumah pedesaan disekitar kami. Dan juga sebuah fenomena meanrik, yakni usaha stroberi yang dikuasai oleh keluarga yang cukup berpengaruh di desa tersbut, termasuk Pak Yana. Dan antara para pengusaha ini sendiri telah terdapat pembagian wilayah pasokan stroberi sehingga terkesan tidak ada persaingan dalam penjualan stroberi.

11 Juni

Kegiatan pagi hari ini saya bersama dua teman saya serta Pak Yana pergi mengunjungi kebun orang lain yang ia kelola. Namun karena kendala kurangnya motor, saya berangkat menyusul diantar seorang pekerja kebun Pak Yana, Kang Firman. Diperjalanan ia bercerita tentang jalan tembus dari daerah kawah putih menuju kawan Jayanti, pantai laut selatan. Jalan yang belumbagus kondisinya menghambat para wisatawan untuk pergi ke daerah sana. Faktor pembangunan yang belum merata keseluruh daerah saya sinyalir menjadi sebab mengapa jalan menuju daerah Jayanti beum bias dibangun untuk meningkatkan potensi wisata di daerah tersebut. Selang setangah jam kemudian, saya sampai di kebun yang dikelola Pak Yana.

Sesampainya di perkebunan saya melihat secara langsung bagaimana proses penyiraman tanaman stroberi dan perawatannya. Saya sempat buang air kecil di bilik jamban di dekat swah sekitar kebun itu. Pemandangan yang cukup indah menjadi daya tarik utama saya dikebun ini serta proses perawatan stroberi menjdi focus utama saya di perkebunan tersebut. Disaung Pak Yana, kami makan siang dengan menu khas masakan pedesaan Tanah Sunda. Ditengah-tengah makan siang kami, The Hani bercerita ia memiliki adik yng meninggal muda sekitar lima tahun lalu. Ia terlihat menyesali kejadian tersebut, karena ia tidak bias membawa adiknya kerumah sakit oleh karena tidak adanya biaya. Lima tahun lalu uaha Pak Yana belum semaju sekarang. Makan siang pun usai dan kami kembali ke rumah Pak Yana untuk mengepack stroberi dirumahnya. Saya naik ojek kerumah Pak Yana dan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki setengah kilometer untuk sampai kerumahnya.

Malamnya, saya berbincang dengan seorang pemasok stroberi bernama Pak Dai, beliau banyak bercerita tentang peran dinas pemerintahan yang sangat kurang dalam membantu petani stroberi. Ia mengatakan bahwa pemerintah tidak pernah memberikan penyuluhan tentang penanaman stroberi, pemberian modal untuk bibit, maupun sosialisasi perawatan stroberi itu sendiri. Ia mengatakan, pernah ada subsidi dana untuk bibit stroberi, namun sebelum sampai ke petani kecil, sudah dikebiri oleh petani besar seperti Pak Yana. Ia mengatakan lebih lanjut, peran dinas pertanian tidak lebih sebagai tukang obat yang menawarkan pestisida terbaik dengan haga diatas seratus ribu rupiah. Ia menuturkan, hal ini tentunya menyusahkan dan membuat sakit hati petani oleh karena bodohnya dinas pertanian yang tidak dapat memenuhi kebutuhan petani. Pria lulusan sma ini kemudian memanjanglebarkan pembicaraan keranah politik. Ia mengatakan bahwa seluruh perangkat desa disni korup seperti pak lurah yang dahulu supir di terminal, sekarang telah memiliki rumah lebih dari dua. Ia menilai hal tersebut sangatlah mustahil jika didapat daam masa awal jabatan lurah tersbut. Dan korupsi it uterus merangkak naik hingga ke bupati, gubernur, dan DPRD Kabupaten Bandung. Ia menganggap semua orang tersebut garong atau pencuri, dan menilai hanya sebagian kecil yang jujur dan kejujuran mereka yang sedikit termakan oleh kebohongan yang berjumlah besar. Saya menilai analisis politiknya telah cukup baik, meskipun masih dalam rangka pikir yang sederhana. Hal ini membuktikan bahwa orang desa yang selama ini mendeskripsikan dirinya sebagai orang bodoh ternyata telah memiliki kesadaran politik yang cukup tingggi, hal ini terbukti bagaimana ia bisa membicarakan keadaan politik di desanya dan pemerintahan Kabupaten Bandung.

12 Juni

Bangun pagi, saya langsung ikut membantu mengepack stroberi setelah selsai madi. Saya berbicara dengan Kang Tan-Tan yang juga sedang mengepack stroberi.  Ia mengatakan stroberi yang dipack pada hari ini adalah stroberi yang akan dikirim ke Pontianak. Saya turut mengepack stroberi sesuai dengan ukuran pack yang telah ditentukan. Kang Tan-Tan sendiri mengatakan stroberi yang dikirim ke Pontianak akan dijual ke istana buah disana, dan ke pasar yang ada di Pontianak. Stroberi yang yang dikirim ke Pontianak tidak boleh terlalu matang untuk mencegah kebusukan ktika sampai disana. Ada empat dus yang akan dikirim hari melalui kargo di bandara. Sambil melanjutkan pengepackan, Kang Tan-Tan menjelaskan bahwa stroberi yang kulaitias buruk ataua biasa disebut bs, akan di frozen untuk dikirim ke pabrik roti dan restoran yang biasa memesan pada Pak Yana.

Sekitar pukul 09.30 pagi, Pak Yana pulang dari kebun dengan membawa dua trei stroberi. Saya berbincang dengan Pak Yana terkait dengan pesanan stroberi dari Pontianak. Ia mengatakan secara rutin Pak Yana memasok stroberi ke Semarang dalam jumlah yang kecil dan sekitar seminggu sekali ia memasok stroberi ke Pontianak. Selang beberapa menit kami berbincang, ia menapatkan telepon dari seorang yang mengaku mengena Pak Yana dari Mas AGus, langganan Pak Yana untuk wilayah Semarang. Seseorang berinisial AR ini meminta kiriman stroberi ke Solo. Pak Yana berbincang dengan orang vtersebut selama beberapa belas menit. Orang terebut mengatakan ia ingin memulai bisnis dengan Pak Yanan karena mendapatkan cerita yang cukup menjanjikan terkait dengan bisnis stroberi ini. Orang ini berbicara tentang harga tinggi yang ia berani berikan untuk stroberi Pak Yana.  Dengan tertawa kecil Pak Yana mengatakan bahwa kebunnya belum semuanya dipanen, bukan soal harga yang tinggi yang menjadi permasalahan. Setelah menyatakan kesediaannya untuk berbisnis dengan Pak Yana, seseorang yang berinisial AR tersebut kemudia memutus telepon dengan pesan untuk Pak Yana segera mengabarkan ia jika barang telah banyak. Selesai menerima telepon, Pak Yana berbicara kepada saya, bahwa ia tidak bias begitu saja memberikan barang keapada orang yang baru saja ia kenal, Hal ini terkait dengan pengalaman ia pernah dua kali ditipu oleh pekerjanya di Pontianak. Jika orang tersebut mau serius untuk berbisnis dengan beliau, maka ia harus bertemu terlebih dahulu untuk membicarakan kesepakatan harga dan perjanjian tidak tertulis terkait dengan kesepakatan bisnis. Ia mengatakan telah belajar dari pengalaman untuk lebih hati-hati dengan bisnis yang tidak jelas.

Malamnya, Bapak dari Pak Yana datang kerumah pak Yana untuk memberikan hasil panen kebunnya. Beliau memberikan cabe, kol, terung, dan selada kepada The Hani. Saya bertanya kepada beliau apakah di desanya masih ada tradisi pra tanam dan pasca panen. Ia menjelaskan bahwa di Desa Citalahab ini memang sudah tidak ada tradisi itu oleh karena masuknya PERSIS. Namun di desa Bapak sendiri masih ada upacara atau ritual terkait dengan masa tanam dan panen. Hal ini karena di desanya PERSIS bukan mayoritas dan NU masih bertahan disana. Hal ini yang membuat tradisi di Desa Bakuncang, desa beliau masih mempertahankan adat yang telah lama mengakar di masyarakat. Ia juga bercerita di desanya kopi menjadi komoditas utama selain sayuran. Saya mensinyalir stroberi menjadi lahan PERSIS dalam melancarkan doktrinasi mereka, dengan memberikan subsidi bagi petani stroberi di Desa Citalahab sebagai komoditas yang akan memajukan kehidupan mereka dan memperlancar misi islam kaffah yang dibawa oleh PERSIS itu sendiri. Sedangkan pada daerah non komoditi stroberi, masih terdapat ritual dan upacara yang masih dipertahankan oleh masyakarat seperti di Desa Bakuncang, kediaman Mertua The Hani. Seteleh mengantarkan hasil panennya, beliau pamit untuk pulang ke desanya dengan dibonceng cucunya, keponakan Pak Yana.

13 Juni

Malam terakhir, saya berbincang dengan The Hani terkait dengan PERSIS yang telah mengubah kehidupan warga Desa Citalahab. Ia mengatakan bahawa PERSIS adalah waah organisasi yang membawa warga desa menuju kehidupan islami yang kaffah. Hidup tanpa takhayul dan ritual tidak jelas, membuat warga desa dapat berpikir secara logis dan lebih maju. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa PERSIS sendiri telah mengakomodasi warga dalam usaha stroberi seperti membentuk wadah yang mirip dengan KUD untuk mengurus usaha warga. Pembicaraan kami berlanjtu ke pengakuan The Hani terkait pemotongan uang subsidi untuk bibit stroberi yang pernah ia lakukan. Dhulu sebelum menjadi petani besar, ia pernah menadapat perlakuan yang sama terkai dengan pemotongan dana bantuan kepada petani. Ia menganggap ini telah menjadi sebuah siklus diamana petani besar biasa menangguhnkan dana yang telah dicairkan untuk petani kecil. Menurut saya ini telah membudaya, bagaimana sebuah korupsi dalam sekala yg kecil telah dianggap sebagai hal yang biasa. Dan PERSIS sendiri sebagai organisasi Islam di daerah kabupaten bandung telah berhasil mengubah pola kebiasaan warga desa dengan doktrinasi Islam kaffah. Modus ekonomi menjadi sasaran utama dalam melancarkan pekembangan organisasi mereka di Desa Citalahab. Terbukti dalam waktu dua tahun mereka telah berhasil menyapu bersih budaya yang terdapat di Desa Citalahab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s