Galeri

Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan (Bagian 2)

BAGIAN II : MITOS, SIMBOL DAN KEBUDAYAAN

Manusia, mitos dan simbol – Simbol, mitos di dalam suatu masyarakat merupakan pedoman penunjuk arah, kompas, bagi bertingkah laku secara mantap dan pasti. Lampu, kini dan akan datang merupakan garis yang menghubungkan anggota-anggota masyarakat – Dalam masa pembangunan sekarang, sejauh adat istiadat yang dilatarbelakangi mitos dan simbol tidak secara mencolok bertentangan dengan pembangunan, perlu dipertahankan dan diberi motivasi sehingga dapat menunjang pembangunan itu sendiri – Untuk tujuan pembangunan perlu diadakan studi mendalam guna mengkaji adat istiadat yang diperkirakan dapat menunjang pembangunan. Mitologi dan struktur sosial – Dalam masyarakat tradisional, mitologi memainkan peran sebagai pengaruh tingkah laku masyarakat yang akan berjalan baik karena diyakini akan campur akan campur tangan leluhur di dunia sara – Untuk mengerti tindak tanduk suatu masyarakat adalah baik bila adat istiadat yang seorang dilatarbelakangi oleh mitologi dipelajari – Bijaksana bila para pembuat keputusan dalam upaya pembangunan dan pembahruan masyarakat juga menggunakan mite-mite sebagai pendorong dan perangsang masyarakat Mengingat masih adanya ratusan kelompok etnik di Indonesia yang tentunya masih menyimpan banyak mite, tepatlah kiranya agar lebih banyak perhatian diberikan pada pengumpulan mite-mite itu sebelumnya lenyap bersama lajunya waktu. Ibu Dan Kesuburan Ladang Ibu sebagai lambang kesuburan bahwa ibu dihubungkan dengan kesuburan, kemampuan untuk melahirkan atau ibu adalah ibarat ladang yang akan menghasilkan jika diusahakan dalam masyarakat pun ibu adalah tokoh yang menentukan atau turut berbicara bila ada keputusan-keputusan penting yang harus diambil Upacara-upacara peralihan Pada banyak kelompok etnik di Afrika, gadis-gadis harus menyadari berbagai upacara peralihan yang menstabilisasikan kedudukan mereka di kemudian hari. Puncak dari upacara peralihan bagi seorang gadis ialah perkawinan. Seorang ibu diharapkan dapat melahirkan banyak anak tetapi pandangan semacam ini tentu tidak direalisasikan sekarang karena bertentangan dengan kebijaksanaan pemerintah mengenai penduduk Bumi kiasan untuk ibu Konsep perkawinan sakral langit dan bumi dapat dikatakan menyebar luas di dunia dalam bentuk kosmogoni, theogoni dan mitologi Kesuburan ibu dan ladang Ibu yang merupakan lambang kesuburan tentu tidak akan mandul dalam menciptakan sarana yang efektif sehingga anak-anak buah kesuburan jasmani dan rohaniah, tidak akan kering dalam proses menjadi anggota masyarakat. Arti Cacing Laut Bagi Beberapa Kelompok Etnik Di NTT Terlihat adanya kemiripan versi mitologi bau nyala dan kajala di pulau Lombok, pulau Sumbawa dan pulau Sumbawa kemiripan itu terjadi bersamaan dengan migrasi kelompok-kelompok etnik seperti terungkap dalam waharu malai-katakan Hindu waktu, li’li marapu atau cerita tentang asal usul orang sumba. Bahwa terjadi perbedaan dalam persi mitologi bau nyala dan kajala di pulau Lombok dan pulau sumba, hal ini mungkin dapat dijelaskan sebagai akibat perkembangan sejarah dan kondisi se tempat Baik di Lombok maupun Sumbawa, bau nyala diagendakan sebagai event pariwisata yang potensial yang bakal memberi kemakmuran dan kesuburan bagi masyarakat setempat. Permainan Ke Arah Berpikir Matematis Matematika menjadi dasar bagi kemajuan dan pembangunan. Betapa pun bakat tetap memegang peranan penting dalam menentukan apakah anak dapat diarahkan pada profesi yang didasari ilmu-ilmu eksakta namun tidak dapat disangkal bahwa lingkungan dan sarana yang tersedia di dalamnya merupakan faktor-faktor awal yang mendorong. Bijaksana bila orang tua tidak memaksa anaknya memasuki pendidikan atau jurusan yang diminati orang tua sedangkan anak tidak berbakat atau meminati jurusan pilihan orang tua. Anak sekarang di mamong pada suatu waktu akan meninggalkan orang tuanya dan menjadi anak masyarakat dan anak dunia. Koangi: Upacara Peralihan Pada Masyarakat Nagekeo – Keberadaan dan masa depan suatu masyarakat biasanya dipersiapkan dengan teliti dan seksama melalui pranata-pranata sosial yang ada – Sub kelompok etnik Nagekeo mengenal penggolongan masyarakat atas golongan bangsawan yang disebut mosatana laki waktu, golongan menengah atau golongan bebas ialah mereka yang tidak harus tunduk pada seorang sebagai penguasa atau pemilik, golongan hoo ialah mereka yang mengakui adanya orang lain sebagai pemilikannya, ialah mosatanah laki waktu. Disana berlaku partilinelaitas dan patriokalitas

– Kao ungil adalah suatu pelantikan resmi untuk menjadi warga kemasyarakatan Nageko

-Kao ngii meningkatkan rasa tanggungjawab pemudi terhadap dirinya, keluarganya dan masyarakatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s