Galeri

Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan (Bagian 3)

BAGIAN III : UPACARA DAN REALITAS SOSIAL

Gedho logo atau sunnat

Pada sub kelompok etnik nagakeo

@ Jika kao nggi di adakan dikampung dan dapat dihadiri oleh masyarakat umum dalam kampung tidaklah demikian halnya dengan gedho weka atau gedho logo. Adapun motif-motif gedho logo  sebagai berikut :

1)      Motif kesuburan

2)      Motif sosial

3)      Motif magis religius

@ Kebiasaan yang sudah secara mendalam terintegrasi karena mempunyai fungsi bagi nisan nagekeo merupakan sesuatu yang sulit digantikan dengan nilai-nilai agama yang datangnya dari luar

@ Gedo weka atau gedho logo yang kini mengandung aspek-aspek negatif akan dapat diubah bila pendidikan dalam arti luas telah dapat dikembangkan, pendidikan diharapkan dapat menimbulkan pandangan-pandangan dan pengajaran-pengajaran baru sehingga sesuatu yang disadari kurang cocok dengan keadaan jaman, dapat diubah

Upacara bercocok tanam beberapa kelompok etnis on flores

–          Manfaat memberikan perhatian kepada hal-hal yang tradisional

4)      Upacara-upacara tradisional tetap hidup dan yang dicernakan di dalamnya  adalah nilai-nilai dasar yang menjadi pedoman bertindak bagi masyarakat

5)      Modernisasi dan berbagai usaha pembaharuan dan pembangunan masyarakat cenderung mengeyampingkan upacara-upacara tradisional

6)      Upacara-upacara tradisional yang dilukiskan diatas dapat digunakan sebagai pembanding dengan daerah-daerah lain sehingga menjadi salah satu unsur penunjang gagasan bhinneka tunggal ika

Beberapa rincian yang dapat diambil dalam upacara bercocok tanam beberapa kelompok etnis di Flores, yaitu:

1)      Hingga yoni atau yang semacamnya tersebut luas pada kelompok-kelompok etnis di flores

2)      Upacara-upacara yang menyangkut bercocok tanam dapat dilihat sebagai usaha-usaha penjamin tetap adanya makanan, sehingga orang akan merasa pasti dan aman

3)      Walaupun ada variasi dalam upacara bercocok tanam pada kelompok-kelompok etnis disana

4)      Pengaruh gereja Katolik akhir-akhir ini positif, dalam arti dikembangkan usaha yang serius untuk mempelajari upacara-upacara tradisional dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya

5)      Nilai-nilai dasar yang menyangkut pandangan hidup suatu masyarakat

Reba, Tahun Baru Adat Sub kelompok etnik Bajawa

–          Perayaan tahun baru tradisional pada sub kelompok etnik Bajawa disebut reba

–          Perayaan yang diadakan dapat pula dilihat sebagai  suatu kesempatan reidentifikasi diri karena orang disadarkan pada sejarah sukunya dan semua yang menyangkut hubungan antara sesama anggota dan pemilikan lahan pertanian, karena sipo pali dan keluarga batih atau sao dhoro yang mendapat tanah dari masa woe ataupun dari mosa ilibhon

–          Pada perayaan reba para anggota woe dan ilibhon serta sipo pali dan sao dhoro mendapat kesempatan  untuk wujud nyatakan reintegrasi dan inkorporasi sosial yang menjadi landasan eksistensi woe, libhou, sipo pali serta sao dhuro rekonsiliasi bagi mereka yang bersengketa atau tidak enak hatinya biasanya dibereskan pula pada waktu reba.

–          Dari sikap gereja Katolik yang diperlihatkan melalui inkulturasi dapat dikatakan bahwa gereja Katolik telah turut berpartisipasi pasi dalam upaya mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan lokal serta menjadikan kebudayaan setempat akan lokal itu sebagai bagian dari kebudayaan universal gerejani

Retekiri di kampung lodo

–          Retekiri atau perayaan pascarenopasi atau ngadhu diadakan selama 2 hari, bagi masyarakat kampung lodo, tanggal 5 Desember 1984 merupakan hari puncak perayaan, karena pada hari itu akan disembelih babi-babi dan kerbau yang dibagikan kepada  semua pengunjung perayaan rete kiri

–          Perayaan rete kiri diikuti oleh seluruh kampung, karena mereka berasal dari leluhur yang sama jadi, rete kiri adalah perayaan mereka semua

Mangase taon dan mircea eliade

–          Pendekatan historika-fenomenologi yang secara luas digunakan mirea elidae. Pendekatan ini merupakan suatu gabungan dari pendekatan historis dan pendekatan fenomenologi terhadap religi

–          Mitologi masyarakat batak toba mengenai  penciptaan dunia, terlihat adanya keyakinan luas dan mendalam tentang hubungan antara hakikat  tertinggi mula jadi na balon, sebagai pencipta, penguasa dan pemersatu, dengan semua ciptaannya

–          Mangase taon dapat diartikan sebagai reaktualisasi penciptaan dunia, bauna tonga, oleh sideang parujar putri mula jadi na balon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s