Galeri

Ekspedisi Baduy

Pada tanggal 15 Juli 2011, pukul 1 siang, tim rombongan antropologi Universitas Indonesia yang terdiri dari sembilan orang mahasiswa sampai di terminal Ciboleger, Banten. Kami bersiap mendaki sepanjang 12 km untuk mencapai desa Cibeo, dimana tempat ini menjadi salah satu diantara tiga tempat yang dihuni oleh masyarakat baduy dalam. Perjalanan kami tempuh selama 4 jam dengan trek mendaki dan turunan terjal dengan kondisi hujan deras. Dibantu oleh seorang guide dan satu orang porter, kami memulai ekspedisi baduy ini.

Tepat pukul lima sore, kami sampai di pintu gerbang kampung Cibeo yang ditandai dengan jembatan penyeberangan untuk melintasi sungai. Sesampainya disana, kami langsung ditempatkan dirumah seorang penduduk baduy dalam yang bernama akang Sang Sang. Ia dan mertuanya menjelaskan beberapa poin tenang masyarakat baduy sendiri. Berikut inilah poin-poin yang saya dapatkan dari ekspedisi baduy yang kami lakukan.

1. Masyarakat Tradisional

Sepintas orang mengatakan bahwa masyarakat Baduy adalah masyarakat terasing atau orang lebih suka mengatakan masyarakat primitif, karena dengan berbagai keluguan, kepolosan, kejujurannya atau istilah lain untuk mengatakan bahwa masyarakat Baduy adalah masyarakat yang terisolir. Ternyata hal itu adalah persepsi yang salah bahkan teramat salah. Masyarakat Baduy adalah suatu komunitas masyarakat yang dalam kesehariannya banyak falsafah hidup yang dapat kita temukan dari setiap gerak dan langkahnya, prilakunya yang jelas dan tegas tidak pernah mengakui barang yang bukan miliknya. Pada masyarakat Baduy Dalam tidak kita temukan hak milik, yang ada hanyalah hak guna pakai saja, atau dengan kata lain bahwa masyarakat Baduy Dalam tidak pernah mengakui alam di mana mereka tinggal sebagai miliknya, pegunungan dengan bukit-bukit yang indah dipandang, asri tidak tercemari oleh polusi udara, air atau polusi suara semua itu adalah hak bersama, diolah bersama, dikelola bersama, dinikmati bersama, kalau begitu apa yang menjadi hak milik pribadi ?. Pada masyarakat Baduy dalam tidak ditemukan hak milik pribadi, berbeda dengan masyarakat Baduy Luar, masyarakat Baduy Luar sudah ada pengakuan terhadap hak milik.. Berbeda sekali dengan masyarakat pada umumnya, yang menamakan dirinya sebagai masyarakat modern, sebagai pengelola dan sekaligus juga sebagai perusak.

Masyarakat Baduy adalah suatu komunitas masyarakat yang mengisolir diri, jadi bukan masyarakat yang terisolir, apalagi primitif. Keberadaan masyarakat Baduy sudah ada sejak zaman dahulu kala bahkan menurut kepercayaan masyarakat Baduy, bahwa Nabi Adam A.S. pertama kali menginjakan kakinya ke dunia ketika di usir oleh Allah SWT, karena kesalahannya, adalah di Baduy di Desa Kanekes, oleh karena itu masyarakat Baduy menganut Agama Islam Sunda Wiwitan atau Islam yang pertama, yang dibawa oleh Nabi Adam, A.S. Oleh sebab itu ketika kita bertanya apakah orang baduy melakukan ibadah Sholat seperti umat Islam pada umumnya, jawaban mereka singkat “ … kami mah teu bagian parentah sholat…”. ( kami tidak dapat perintah menjalankan Sholat). Apabila masyarakat Baduy seperti kita penganut Agama Islam pada umumnya, maka mereka adalah masyarakat yang taat dan patuh pada aturan, buktinya aturan-aturan kepemimpinan, begitu dijunjung tinggi, apapun yang di amanatkan Puun ( pemimpin tetinggi masyarakat Baduy ) selalu ditaati dan dihormati, tidak ada kata untuk melanggar apa yang telah menjadi hasil kesepakatan 3 orang Puun dan Jaro 12 ( Jaro = Kepala Desa) maka semua itu pamali untuk dilanggar.

2. Sisi Lain Masyarakat Baduy

Ada suatu keunikan yang dimiliki oleh masyarakat Baduy, terutama masyarakat Baduy Dalam, apabila mereka bepergian jauh maka pantang bagi mereka untuk naik kendaraan, apakah mereka tidak punya uang ?  jangan salah orang Baduy sudah melakukan jual beli sejak lama, mereka tidak lagi barter sebagaimana yang sering ditanyakan seorang siswa pada gurunya. Orang baduy pantang culangung, setiap kali mereka berjalan selalu beriringan dan selalu yang lebih tua atau yang dituakan di depan, apa falsafahnya, disamping sebagai penghormatan dan ketaatan terhadap aturan, maka seandainya ada sesuatu terjadi pada rombongan atau iring-iringan tersebut maka yang menjadi tameng adalah orang yang berada depan, sedang yang di belakang dapat segera bersiap-siap, itulah suatu wujud tanggung jawab seorang pemimpin sejati yang tidak pernah mau mengorbankan anak buahnya, bagaimana dengan pemimpin kita ? biarkan rakyat sengsara atau menderita yang penting pemimpin tidak, biarkan rakyat mati di medan pertempuran lebih dahulu yang penting pemimpinnya tidak.

3. Baduy Luar dan Baduy Dalam

Sekelumit cerita dan fakta tersebut di atas merupakan bukti nyata yang dilakukan oleh masyarakat Baduy Dalam. Kalau begitu bagaimana dengan masyarakat Baduy Luar ? Istilah Baduy Luar dan Baduy Dalam telah ada sejak zaman dahulu kala, siapa orang Baduy dalam itu ?  mereka adalah komunitas masyarakat yang betul-betul tidak memperdulikan kehidupan modern, mereka orang-orang bersih yang sangat taat pada aturan, taat pada pemimpin, hormat, jujur, jalannya selalu lurus, bersih hatinya, tidak kenal menyerah, penunggu yang sangat setia, tidak merusak, menggunakan apa yang disediakan alam, tidak berlebihan, jernih pikirannya.

Keberadaan Orang Baduy Dalam di Kanekes tidak pernah tergiur oleh indahnya kehidupan modern, meraka sangat sederhana dan sangat bersahaja tidak tergiur dengan kehidupan duniawi, oleh karena itu mereka selalu berada di dalam, di Kanekes. Sesekali mereka ke luar untuk melihat kenyataan yang dapat mereka rekam dengan ingatannya, Orang Baduy memiliki ingatan yang sangat kuat.

Kehidupan masyarakat Baduy Dalam di Kanekes di kelilingi pegunungan dan bukit-bukit, bila kita ingin melihat bagaimana kehidupan mereka dari dekat, maka kita harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 3 – 4 jam kurang lebih 12 KM , orang Baduy menempuh perjalanan tersebut sekitar 1 jam, paling lama satu setengah jam.

Jangan bermimpi bisa naik ojeg untuk pergi kesana ( ke baduy dalam ), jangankan ojeg binatang kaki empat saja tidak ada, kecuali anjing, menurut akang Sang Sang orang Baduy tidak boleh memelihara hewan berkaki 4 seperti sapi, kerbau, atau kambing. Mereka terbiasa minum, mengambil air masih menggunakan batang bambu, makan memakai piring kaleng, mandi tidak boleh memakai sabun, keramas tidak memakai shampo,apalagi Cream Bath, sikat gigi tidak memakai odol, radio tidak ada, apalagi TV.

Masyarakat Baduy Luar adalah sebagai penjaga pintu dari berbagai arah, karena masyarakat baduy luar terdiri dari 50 perkampungan, sedangakan Baduy Dalam hanya tiga perkampungan yakni : Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik yang masing-masing dipimpin oleh Puun Jahadi, Puun Kiteu, dan Puun Kiasih mereka adalah pemimpin tertinggi masyarakat baduy.

Masyarakat Baduy Luar selalu taat dan tertib menjaga masyarakat Baduy Dalam, karena setiap kali pengunjung yang resmi maupun tidak, bila ingin masuk ke Baduy Dalam harus mendapat izin dari seorang Jaro yakni Jaro Dainah, karena beliau adalah seorang Jaro Pamarentah yang berfungsi ganda dan sekaligus mediator antara masyarakat baduy dengan masyarakat luar, juga sebagai mediator antara masyarakat Baduy dengan unsur pemerintah.

Ada keleluasaan yang diperoleh masyarakat Baduy Luar, mereka boleh naik kendaraan, pake sabun, Odol, piring, gelas, teko (ceret), pakaian sudah agak sedikit modern, perhiasan, dan lain-lain layaknya dipergunakan oleh masyarakat umum, akan tetapi mereka tetap bersahaja dengan aturan adat baduy, hanya dengan kata pamali saja mereka tidak berani melakukan kegiatan yang dilarang tersebut. Itulah suatu wujud ketaatan masyarakat Baduy terhadap aturan yang di buat secara bersama-sama dan turun temurun, sekalipun tidak tertulis, tetapi kekuatan hukumnya lebih ampuh dari pada hukum tertulis yang diterapkan oleh negara tercinta ini, di adat baduy, orang yang mendapatkan sangsi karena kesalahannya melanggar adat misalnya, maka dia akan di kurung selama 41 hari, setelah itu ditanya oleh Puun apakah masih ingin tetap di Baduy atau ingin ke luar dari Baduy, tidak ada paksaan dalam menentukan pilihan tersebut, itulah suatu bentuk pertanyaan Kharismatik dari seorang pemimpin tertinggi dalam suatu komunitas masyarakat Baduy.
Bila masih ingin tetap di Baduy maka tidak boleh melakukan perbuatan tersebut, tetapi bila ingin keluar dari Baduy pun tidak ada yang menghalanginya.

4. Kepemimpinan di Baduy

Sering kita membaca di surat kabar atau menyaksikan di layar televisi, bahwa terjadi demonstrasi menuntut diturunkannya pemimpin yang baru saja terpilih, baik Gubernur, Bupati, maupun Wali Kota bahkan Kepala Desa, hal itu dilakukan karena ketidak puasan dari masyarakatnya, atau karena dalam proses pemilihannya dilakukan dengan berbagai cara, walaupun cara yang dilakukan melanggar aturan, yang pada akhirnya mereka melakukan demonstrasi menuntut diturunkannya pemimpin yang beru terpilh tersebut.

Berbeda dengan masyarakat Baduy, yang jelas-jelas dilarang bersekolah pada sekolah formal, namun dalam proses pemelihan hingga terpilihnya pemimpin mereka tidak pernah orang Baduy melakukan demonstrasi karena ketidakpuasan atas pemimpin terpilih, karena orang Baduy terutama para tokoh kepuunan sudah mempersiapkan calon-calon berikutnya yang siap memimpin baduy pada era berikutnya. Orang Baduy mempersaiapkan pemimpinnya melalui proses ritual yang cukup panjang, selain itu pula para pemimpin baduy cukup selektif dalam memilih calon pemimpinnya yakni dengan cara memperhatikan garak gerik para calon pemimpin mereka dimasa datang, pengetahuannya, kejujurannya, kebersahajaannya, serta sifat-sifat terpuji lainnya. Apabila sudah tiba waktunya, maka calon tersebut siap dipilih jadi pemimpin.

Adapun pemimpin tertinggi pada masyarakat Baduy disebut Puun, yakni Puun Jahadi, Puun Kiteu dan Puun Kiasih, setelah Puun pemimpin berikutnya adalah Jaro, Jaro terbagi atas dua yakni Jaro Adat dan Jaro Pamarentah, Jaro Adat ada 7 yang disebut dengan Jaro Tujuh, secara hierarki Jaro Adat Baduy dalam lebih tinggi kedudukannya dari pada Jaro Pamarentah dalam kepemimpinan adat. Sedangkan Jaro Pamarentah adalah Jaro yang dipilih oleh Puun dan para pemuka adat, baik Baduy dalam maupun Baduy Luar, adalah sebagai penghubung antara masyarakat Baduy dengan Pemerintah Daerah yang manyangkut masalah-masalah kependudukan, pemerintahan, adat istiadat dan kelestariannya, maupun hal lain yang menyangkut kepentingan pemerintah maupun kepentingan masyarakat Baduy.

Disamping Puun dan Jaro serta wakil Jaro, pada masyarakat Baduypun ada yang disebut penghulu yakni penghulu untuk menikahkan dan penghulu yang mengurus orang meninggal.

5. Sistem Manajemen yang handal

Sepuluh tahun yang lalu tepatnya tahun 1997, bangsa Indonesia khususnya dan umumnya negara-negara berkembang mengalami krisis moneter, dimana negara berkembang lainnya dapat dengan cepat keluar dari masalah krisis moneter, namun bagi bangsa Indonesia tidak mudah keluar dari krisis tersebut, bahkan sampai saat ini dampak tersebut masih terasa sampai saat ini, disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya banyaknya koruptor yang bercokol di Indonesia, jatuhnya nilai rupiah, banyaknya para pengusaha yang menukar rupiah dengan dollar serta masalah yang tak kalah pentingnya yakni menurunya kepercayaan terhadap pemimpin negara dan maraknya proses pemilihan pemimpin negara pada saat itu, yang dampaknya mempengaruhi kebijakan politik Indonesia, sosial ekonomi, kebudayaan, sehingga bangsa Indonesia begitu tetpuruk kehidupan sosial ekonominya.

Begitu berartikah krisis moneter bagi masyarakat Baduy? Jawabannya, tentu tidak. Saat-saat bangsa ini mengalami keterpurukan namun orang Baduy, tidak, mengapa ?

Orang Baduy memiliki sistem manajemen yang canggih, walaupun sangat sederhana, yaitu, bahwa Orang Baduy :
1. Hidup dari alam yang dikelolanya
2. Hidup dengan kesederhanaannya
3. Tidak mengenal hura-hura
4. Hidup apa adanya
5. Selalu menyisihkan hasil panen di leuit ( lumbung padi )

Mungkin anda tidak percaya kalau di Baduy ada padi yang berusia ratusan tahun yang tersimpan dengan aman di leuit ( lumbung padi ), bila anda berkunjung ke Baduy anda akan menemukan puluhan leuit ( lumbung padi ) yang tertata dengan rapi disetiap pinggiran kampung, menurut informasi bahwa satu kepela keluarga memiliki satu leuit bahkan lebih, hal ini dilakukan secara turun temurun untuk mengantisipasi tyerjadinya paceklik, kemarau panjang, hama wereng atau penyakit padi lainnya. Oleh karena itu setiap kali panen masyarakat baduy selalu membagi hasil panennya menjadi 3 yaitu :
1. spertiga disimpan di leuit ( lumbung padi )
2. sepertiga dijual
3. dan spertiga dikonsumsi ( Untuk kebutuhan sehari-hari )


artinya bahwa orang Baduy memiliki perhitungan yang matang untuk menghadapi kehidupan dimasa datang dan semuanya sudah dimanaj sedmikian rupa walaupun dengan sistem manajemen sederhana, namun cukup handal, bahkan dapat ditiru oleh para pemimpin bangsa ini, kiranya Indonesia yang terkenal dengan hasil pertaniannya dapat memanaj hasil pertanian dengan manajemen modern untuk bekal dihari kemudian, jangan sampai bangsa ini selalu menangis karena kekureangan stok beras, bahkan harus mengimport beras dari negara lain, dimanakah letak nurani para pemimpin bangsa ini, kok kalah sistem manajemennya oleh masyarakat Baduy.

6. Contoh yang Teruji

Pepatah Baduy mengatakan : “ Lonjor teu meunang dipotong, pondok teu meunang di sambung”. Istilah ini sangat sederhana namun memiliki makna yang teramat dalam yakni bahwa masyarakat Baduy tidak pernah menambah-nambah sesuatu yang tidak ada di sana, namun juga tidak merusak tatanan yang ada, baik berupa kekayaan alam yang berupa hutan, sungai, kebun ( ladang ), termasuk binatang yang ada dan hidup disana. Dalam ketaatan terhadap aturan adat, mereka benar-benar memegang teguh karena setiap pelnggaran ada sangsinya walaupun sangsinya tidak tertulis, hanya dengan istilah pamali saja masyarakat Baduy sudah tabu. Kejujurannya dapat di uji, jarang berbicara, apalagi tidak perlu, bila ditanya menjawab cukup apa adanya. Orangnya konsekwen dan dapat dipercaya, hormat terhadap orang lain, rendah hati, blak-blakan orangnya, pekerja keras, santun dan juga menghargai serta menghormati orang lain yang tidak dikenalnya, apalagi dengan orang-orang yang sudah dikenalnya, pendek kata bahwa orang Baduy dapat dijadikan contoh teladan oleh masyarakat luas karena sifat-sifatnya.

Berbeda dengan masyarakat luas pada umumnya yang kehidupannya sangat glamour, selalu merasa tidak puas, merusak, serakah, tidak menghargai orang lain serta selalu mersa paling pintar, berbicara atas nama rakyat, kenyataannya untuk kepentingan pribadi dan golongannya.

7. Kesimpulan

Ekspedisi Baduy

Banyak hal yang patut kita contoh dari kehidupan masyarakat Baduy, misalnya jujur, konsekwen, taat, penjaga alam bukan perusak alam, rendah hati, kepolosannya, dan manajer yang handal, serta pemimpin yang bertanggung jawab. Kesederhanaan ditengah-tengah hingar bingar keglamoran kota yang biasa orang Kanekes jalani sehari-harinya menjadi satu moral value yang saya dapatkan dari ekspedisi Baduy ini.

2 responses to “Ekspedisi Baduy

  1. dirapiin dikit spasi antar paragrafnya, biar enak dibaca..
    heuheu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s