Galeri

Pegayaman, Desa Muslim Di Bali.

Pada tanggal 23 Juli 2011, saya memulai perjalanan menuju desa Pegayaman, Buleleng, Bali. Jalan menuju Desa Pegayaman Kecamatan Sukasada, Buleleng, tak terlalu sulit dicari dari arah Denpasar atau Singaraja. Jika meluncur dari arah Denpasar melalui Bedugul, tiba di Desa Gigit akan ditemukan jalan kecil beraspal, meski agak rusak, belok kanan. Masuklah di jalan itu. Sepanjang jalan tampak berberapa sawah menghampar. Di dataran lebih tinggi, yang tanahnya agak berbukit-bukit kecil, berjejer pohon-pohon cengkeh, kopi serta pohon khas lainnya.

Jika berkenalan dengan Orang Bali dari Desa Pegayaman, Buleleng, jangan lantas kaget kalau menemukan nama-nama yang terkesan aneh, semisal Nengah Ibrahim, Wayan Iman Muhajir atau Ketut Syahruwardi Abbas. Dari kombinasi nama-nama penduduknya saja kita langsung paham bahwa Desa Pegayaman merupakan wilayah sosial-budaya yang unik. Nama Ketut, Nengah atau Wayan identik dengan nama Bali, sementara Ibrahim, Muhajir atau Abbas dikenal akrab dengan karakter nama muslim. Tetapi jangan kaget, meski leluhur orang Pegayaman datang dari Jawa ratusan tahun lalu dan beragama Islam, mereka tetap merasa warga asli Bali.

Budaya Bali
Ada beberapa versi kenapa desa itu disebut Pegayaman. Satu versi menyebutkan, konon, dulu di daerah itu disebut Alas Pegatepan karena banyak ditumbuhi pohon gatep. Gatep di Jawa biasa disebut buah gayam. Maka warga itu lantas menyebutnya Desa Pegayaman.

Versi lain, menurut Ketut Raji Jayadi, nama Pegayaman dikaitkan dengan nama keris Pakubuwono yang saat itu berkuasa di Kerajaan Mataram. Saat menjadi raja, Pakubuwono memiliki pusaka yang bernama Keris Gayam.

Menurut Raji, mungkin saja leluhur orang Pegayaman itu dulu membawa keris dari Jawa lalu menamakan daerah tempat tinggalnya dengan nama yang mirip dengan keris tersebut. Meski 90 persen penduduknya beragama Islam, Desa Pegayaman punya ciri khas yang membedakannya dengan umat muslim di tempat lain. Raji menyebutkan, warga muslim Pegayaman dalam pergaulannya tetap memakai unggah-ungguh bahasa Bali. Mereka biasa memakai bahasa Bali halus. Atau dalam istilah Raji, warganya biasa berbicara matiang nika. Untuk urusan hari raya Islam, warga Pegayaman juga tak bisa lepas dari budaya Bali. Tahapan-tahapan hari rayanya sama seperti yang dilakoni masyarakat Bali lainnya. Ada hari pengejukan dan penampahan sebelum hari raya. Sehari setelah hari raya disebut hari umanis. Dalam perayaan hari raya, semacam Idul Fitri dan lain-laiannya, warga juga menyiapkan kue-kue khas Bali, seperti jaja uli dan tape, seperti yang ada dalam perayaan hari raya Galungan bagi umat Hindu.

Pokoknya, selain dari segi agama yang dianut, dari segi sosial-budaya tak ada hal yang berbeda dengan masyarakat Bali lainnya yang beragama Hindu. Hal paling menarik yang terjadi di Pegayaman adalah ketika mereka memperingati hari besar Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi peringatan Maulid di Pegayaman memiliki keistimewaan tersendiri. Khusyuk sekaligus meriah. Bahkan peringatan Maulid terkesan lebih meriah ketimbang Idul Fitri. Saat Maulid mereka menggelar berbagai kegiatan, seperti pawai serta lomba qasidah dan lain-lainnya.

Kehidupan gotong royong antara umat Hindu dan Islam masih menjadi perekat sosial yang erat di Pegayaman. Jika nyama Slam — sebutan warga Hindu untuk umat muslim yang berarti sauadara Islam — merayakan hari besar, mereka biasa ngejot kepada warga Hindu di sekitarnya. Begitu juga sebaliknya, jika umat Hindu yang berhari raya, giliran nyama Slam yang menerima jotan.

Dari segi nama, menurut Raji, warga Pegayaman juga mengikuti urutan khas nama-nama Bali. Untuk anak pertama mereka membubuhkan nama Wayan, untuk anak kedua disebut Nengah, ketiga Nyoman dan keempat Ketut. Untuk anak kelima dan seterusnya tetap mamakai nama Ketut, bukan Wayan (balik) sebagaimana nama orang Bali lainnya.

Cara hidup warga Pegayaman juga sama dengan masyarakat Bali umumnya. Kades Pegayaman Ketut Ahmad Ibrahim mengatakan, pertanian yang sangat potensial di daerahnya adalah cengkeh dan kopi. Tentu saja, sebagai daerah agraris yang memiliki wilayah persawahan, warga Pegayaman juga banyak yang bertani. Namun, secara umum Desa Pegayaman memiliki tanah yang cocok ditanami berbagai jenis tanaman. Di bidang kerajinan, masyarakat Pegayaman sebagai besar hidup sebagai perajin sapu ijuk. Perpaduan budaya Hindu-Muslim sangat kental, tercermin pada bentuk kesenian khas Pegayaman, yakni kesenian Bordah dan Hadrah. Wayan Iman Muhajir, salah seorang seniman Bordah memaparkan, kesenian Bordah itu sesungguhnya kesenian Bali.
 

Memang, pemain Bordah itu orang muslim. Namun, yang dimainkan itu sesungguhnya adalah bagian dari budaya Bali. Dalam memainkan kesenian itu, pemain-pemainnya juga berkain khas Bali seperti destar atau udeng dan lancingan. Jenis tariannya juga tak berbeda dengan tarian lain di Bali seperti joged dan sejenisnya. Teknik pukulan serta nada alat musiknya yang didominasi alat musik perkusi itu juga bernuansa Bali.

Sebagai sebuah desa yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, mereka juga melakukan ibadah yang sama dengan muslim-muslim lainnya. Hanya saja menjelang Lebaran tepatnya H-3 sampai H-1, penduduk Pegayaman mengadaptasi tradisi Hindu di Bali dalam menyambut hari raya Galungan. Misalnya tiga hari sebelum Lebaran disebut penapean (hari membuat tape), dua hari sebelum Lebaran disebut penyajaan (hari membuat kue-kue) dan sehari menjelang Lebaran mereka sebut dengan penampahan yaitu hari penyembelihan ternak yang mana dagingnya untuk keperluan hari Lebaran. Istilah-isitlah ini sama dengan istilah hari-hari menjelang hari raya Galungan di Bali.

Selain menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan agama Islam, mereka menjalani kehidupan yang tidak berbeda dengan masyarakat desa di Bali pada umumnya. Keseharian penduduk Pegayaman adalah petani yang tetap menjunjung tinggi kearifan lokal Bali. Hubungan dengan masyarakat Bali yang beragama Hindu di sekitarnya berjalan sangat harmonis. Istilah Nyama Selam digunakan masyarakat Bali yang beragama Hindu untuk menyebut orang Pegayaman dan Nyama Bali adalah sebutan yang dipakai penduduk Pegayaman bagi masyarakat Bali yang beragama Hindu. Nyama adalah kata dalam bahasa Bali yang artinya saudara sedangkan Selam adalah pengucapan kata Islam oleh orang Bali tempo doeloe. Keharmonisan ini juga ditandai dengan budaya ngejot yaitu saling mengirimi makanan berupa kue-kue dan buah ketika menjelang hari raya kedua agama. Hubungan kekerabatan dengan keturunan Raja Buleleng tetap dijaga.

Dalam berkesenian, masyarakat muslim Pegayaman memiliki kesenian khas yang disebut Hadrah dan Bordah. Kesenian ini biasanya dipertunjukkan pada saat perayaan Maulid Nabi, Khitanan, dan upacara pengantin. Pemain Hadrah kebanyakan dari kalangan muda. Sedangkan Bordah dilantunkan kalangan tua saja. Mereka berdoa sambil bernyanyi dengan syair surat Barzanji dengan melenggak-lenggokkan badan diiringi tabuh rebana yang dipakai turun-temurun dari nenek moyang. Surat Barzanji itu berisikan riwayat perjalanan hidup Nabi Muhammad dari lahir sampai dengan wafatnya.

Kostum yang dipakai para hadrah hanya berupa celana panjang hitam, peci dan kemeja putih dengan selempang di dada. Sedangkan pada kelompok bordah, mengenakan pakaian tradisional Bali, lengkap dengan destar atau udeng (ikat kepala) dan lancingan (kain). Cengkok-cengkok Surat Barjanzi yang dibacakan mirip dengan kakawin, kidung, dan geguritan Bali. Padahal, bahasa yang dilantunkan menggunakan bahasa Arab.

Masyarakat Pegayaman akan terus merasa diri mereka bagian dari masyarakat Bali dan hidup dalam pola harmoni orang Bali. Konsep tri hita karana (hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan) juga menjadi pegangan. Masyarakat muslim Pegayaman ini memperkaya keragaman pesona Bali sebagai Pulau Seribu Pura yang unik dan pluralistik di tengah kehidupan masyarakatnya.

“Karena kami memang orang Bali. Bedanya cuma karena beragam Islam. Itu saja,” ujar salah satu tokoh desa Pegayaman.

6 responses to “Pegayaman, Desa Muslim Di Bali.

  1. Artikel yang menarik dan merupakan inspirasi untuk menghidupkan pemahaman dan saling menghormati di dalam sebuah perbedaan.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

    • tidak bisa dipungkiri indonesia memang negara multikultur yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama, sisi positifnya adalah mengajarkan tiap tiap insan Indonesia untuk saling menghargai🙂

  2. ayo cetak kader militan dan loyal terhadap pegayaman….

  3. Caemmm mabro,,
    Saye ijin pnjem linknye ye,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s