Galeri

Kebudayaan, Perubahan dan Perilaku Menyimpang

Oleh Ipit Saefidier Dimyati
I
Kebudayaan merupakan seperangkat nilai yang menjadi pedoman untuk bertingkah laku dari suatu masyarakat yang relatif tetap. Namun bila hanya itu, telah lama peradaban manusia lenyap di dunia sebab tidak mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan. Tapi ternyata tidak. Bukti-bukti antropo-sosiologis memperlihatkan bahwa umumnya manusia telah mampu beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi di dunia. Mengapa demikian? Sebab selain memiliki sisi yang menunjukkan suatu kemapanan nilai-nilai, kebudayaan pun memiliki sisi yang menunjukkan peluang bagi perubahan-perubahan. Sisi ini mungkin hanya sebuah lubang kecil, tapi ia begitu penting bagi keberlanjutan kehidupan.

Banyak telaah mengenai perubahan ini, salah satunya yang menarik adalah hipotesis yang diajukan oleh Julian Steward tentang konsep “inti” (core) budaya. Menurutnya semua sistem budaya dapat dipisahkan dalam dua institusi, yaitu institusi inti dan dan institusi periferal (Kaplan & Manners, 1999:65). Institusi inti merupakan yang paling erat kaitannya dengan cara suatu budaya beradaptasi terhadap lingkungan dan mengeksploitasi lingkungan tersebut. Institusi inti dalam suatu kebudayaan dapat meliputi unsur-unsur ideologi, sosiopolitik, dan teknoekonomis. Yang terakhir, yakni teknoekonomis, merupakan unsur yang paling menonjol pengaruhnya dalam menetapkan serta membentuk ciri-ciri strategis suatu masyarakat. Perubahan, demikian Steward, dapat dimulai di manapun di dalam sistem. Tapi jika perubahan tidak bereaksi dengan institusi inti, maka sistem sebagai suatu keseluruhan tidak akan mengalami perubahan tipe budaya.

Mengenai teknoekonomi, yang dimaksudkan adalah bukan hanya teknik atau alat yang digunakan oleh suatu masyarakat. Bagian pertama dari kata bentukan itu (“tekno”) mengacu pada perlengkapan teknis atau material dan pengetahuan yang ada dalam (serta dimanfaatkan oleh) masyarakat. Kemudian kata kedua (“ekonomi”) lebih dimaksudkan pada pangaturan yang dilakukan masyarakat saat memanfaatkan perlengkapan teknis dan pengetahuannya untuk produksi, distribusi dan konsumsi barang serta jasa. Jadi, dalam mengertian itu teknologi dianggap sebagai representasi dari “kesempatan”, sedangkan ekonomi sebagai representasi cara pemberlakuan kesempatan itu dalam masyarakat (Ibid, 1999:129).

Dalam kepustakaan antropologi banyak ditemukan fakta bahwa munculnya teknik atau suatu material yang relatif baru dalam suatu masyarakat menyebabkan terjadinya transformasi budaya. Kasus diperkenalkannya kuda pada suku Indian Tanah Datar di Amerika utara, misalnya. Seperti yang diperlihatkan Symnms C. Oliver, kehadiran kuda dalam masyarakat Indian tersebut memungkinkan mereka melakukan eksploitasi sumberdaya hewani yang kaya dengan cara dan tarap yang sebelumnya tidak dapat dicapai. Perubahan teknologi dasar ini pada akhirnya menjadi pemicu rentetan modifikasi budaya. Begitu pula pergantian kapak batu menjadi kapak baja pada suku Yir-Yaront di Australia. Kasus yang ditunjukan Lauritson Sharp ini konon telah membawa perubahan dramatik dalam bidang gagasan, sentimen dan nilai-nilai tradisional.

Contoh-contoh lainnya tentu masih bisa ditambah. Tapi menurut hemat penulis uraian singkat di atas sudah cukup untuk memperlihatkan bahwa menurut sudut pandang Steward serta para pengikutnya untuk memahami perubahan-perubahan budaya tampaknya teknologi atau hal-hal yang bersifat material begitu menonjol sehingga ia seharusnya menjadi titik-tolak yang paling utama bagi peneliti antropologi yang sedang melakukan penelitian. Sungguhpun mereka tidak mengabaikan sama sekali persoalan-persoalan nilai, norma, ideologi dan hal-hal lain yang bersifat internal, tapi karena hal-hal tersebut sulit diukur, maka mereka berkeyakinan bahwa hanya melalui kajian tenologi dan materi yang bersifat eksternallah yang akan mampu mewujudkan ilmu-ilmu sosial menjadi ilmu dengan validitas dan probabilitas yang tinggi.

Memang kita harus mengakui bahwa pendekatan para ahli yang memperlakukan teknoekonomi sebagai titik-tolak telah memperkaya ‘pisau bedah’ ilmu-ilmu sosial dalam membuka selubung-selubung misteri kehidupan manusia. Tapi bila hal itu dijadikan sebagai faktor yang determinan, tampaknya kita pun mesti mengajukan keberatan-keberatan. Bila dikatakan bahwa inti kebudayaan yang paling menonjol adalah teknoekonomi, menurut hemat penulis pendapat itu awalnya ditarik dari pengandaian-pengandaian yang notabene bersifat ideologis. Bisa saja dikatakan bahwa kesimpulan itu ditarik dari hasil-hasil penelitian empiris, namun mereka tak bisa mengklaim telah meneliti seluruh kebudayaan di dunia.

Mungkin betul bahwa pemunculan teknologi yang relatif baru dalam suatu masyarakat mampu merombak nilai-nilai budayanya, namun betul pula bahwa tidak harus selalu kemunculan teknologi yang awalnya belum ada dalam suatu masyarakat mampu mengubah nilai-nilai budaya masyarakat bersangkutan seperti pernah diungkapkan oleh W.F. Ogburn (Soekanto, 1986: 3-12). Menurutnya ada dua jenis adaptasi sosial, yakni menyangkut adaptasi manusia terhadap kebudayaan serta penyesuaian berbagai jenis kebudayaan. Yang pertama merupakan penyesuaian kebudayaan pada kondisi-kondisi material, sedangkan yang kedua adalah kebudayaan adaptif atau penyesuaian pada kondisi-kondisi nonmaterial. Idealnya bila kebudayaan material berubah maka kebudayaan nonmaterial pun berubah. Tapi sering terjadi bahwa perubahan yang satu tidak selalu diiringi oleh perubahan yang lainnya. Kebudayaan material lebih cepat berubah, tapi sikap-sikap nonmaterial lebih lambat berubah. Orang yang berasal dari desa yang hidup di kota, misalnya, tetap saja membawa sikap-sikap mental desa meskipun lingkungan materialnya berbeda. Oleh sebab itu, meskipun mereka bisa survive, ia tetap saja tak mampu beranjak dari kemiskinannya, karena kurang bisa mengantisipasi perubahan-perubahan material yang demikian cepat.

Sebuah hasil penelitian yang sangat memikat tentang orang Jawa ditulis oleh Benedict R. O’G. Anderson (2000: 35-169). Dia melihat bahwa meskipun Indonesia telah melakukan transformasi ekonomi, politik, budaya dan sosial dalam waktu yang relatif panjang, namun tetap saja tidak bisa lepas dari masa lalunya. Artinya, perubahan yang terjadi di Indonesia sebetulnya hanya menyentuh permukaannya saja, sedangkan nilai-nilai yang mendasarinya tetap sama, yakni nilai-nilai lama. Itulah sebabnya mengapa Negara Indonesia menjadi begitu sentralistik, misalnya, dan tampak alergi terhadap sistem parlementer atau bentuk negara federasi. Menurut Anderson, akarnya terletak pada logika konsep tradisional Jawa mengenai Kuasa yang memerlukan suatu pusat, yang berkararkter sinkretik dan menyerap, serta menganggap titik pusat biasanya dinyatakan dalam diri seorang penguasa.

Begitulah, meskipun nilai, norma atau ideologi itu konon sulit diukur, tapi tetap eksis dan banyak dilakukan orang sebagai titik berangkat dalam melakukan penelitian. Tentu apa yang diungkapkan dalam penelitiannya bisa salah atau kurang tepat, seperti halnya penelitian-penelitian yang berbasis pada teknologi atau materi. Namun demikianlah hakikat ilmu, ia semestinya tidak mengklaim menjadi yang paling benar. Jika klaim itu dengan sengaja diterapkan padanya, maka ilmu bersangkutan menjadi dogmatik, dan dengan demikian mengingkari hakikatnya sendiri. Baik ilmu-ilmu sosial maupun ilmu-ilmu alam (eksakta) bisa mencapai tarafnya seperti sekarang, karena ada proses dialektika yang saling membantah dan menambahkan.

II
Lalu, bagaimakah kebudayaan berubah? Apakah perubahan itu hasil inisiatif individu atau kelompok? Dalam antropologi perubahan biasanya dilihat sebagai hasil dari proses evolusi, difusi, atau akulturasi. Bila perubahan dianggap sebagai hasil dari proses evolusi, maka ia merupakan suatu keniscayaan yang harus dilalui oleh suatu kebudayaan melalui tahap‑tahap yang gradual dan berlaku secara universal. Sedangkan dari perspektif difusi terkandung makna bahwa perubahan kebudayaan terjadi karena adanya suatu persebaran dari satu pusat kebudayaan yang kuat terhadap kebudayaan‑kebudayaan lainnya. Kemudian, dalam akulturasi perubahan kebudayaan diyakini sebagai suatu proses terjadinya peristiwa amalgamasi dua atau lebih kebudayaan, sehingga menghasilkan sintesis sui generis (lihat Lauer, 1977: 387‑402).

Tentu saja banyak variasi pendapat dari ketiga konsep atau paradigma tersebut di atas. Dalam tulisan ini tidak akan ditelusuri kembali secara mendalam. Baik melalui evolusi, difusi, ataupun akulturasi, perubahan dalam kebudayaan tampaknya diakui sebagai gerak yang tidak bisa dihindari. Dalam kenyataan empirik memang banyak orang atau masyarakat yang berusaha untuk mencegah terjadinya perubahan sosial atau kebudayaan. Orang atau masyarakat yang melakukan pencegahan itu biasanya takut bahwa, dengan terjadinya perubahan maka `kosmos’ makna yang jadi panutan bersama menjadi terguncang, sehingga terjadilah khaos. Tapi bisa juga orang yang takut pada perubahan tersebut karena tidak ingin beranjak dari status quo, suatu keadaan yang bisa menghilangkan peluang untuk memperoleh keuntungan baik secara materil maupun moril bagi kepentingan diri atau kelompoknya. Untuk menjaga agar tidak terjadi perubahan, biasanya orang-orang seperti itu, bila ia berada dalam tampuk kekuasaan, membuat semacam “rasionalisasi” dengan melakukan pengawasan yang ketat melalui peraturan-peraturan dan alat-alat kekuasaan lainnya.

Namun, seketat apa pun pengawasan yang dilakukannya, selalu saja terjadi perlawanan, baik secara langsung maupun tidak langsung, oleh orang-orang yang merasa terkungkung berada dalam situasi dan kondisi yang stagnan dan mungkin juga menyiksa. Bisa jadi perlawanan terhadap keadaan yang seolah-olah membeku itu dilakukan secara terorganisir dan sistematis melalui sebuah gerakan yang melibatkan orang banyak, atau bisa juga secara perorangan melalui perilaku yang seolah-olah iseng dan tidak tahu aturan. Banyak contoh di dunia tentang gerakan perlawanan terhadap status quo yang melibatkan orang banyak yang pada dasarnya bertujuan untuk mengubah keadaan, seperti revolusi Perancis, gerakan kemerdekaan yang ingin melepaskan diri dari cengkeraman penjajah, gerakan reformasi yang terjadi di Indonesia beberapa waktu yang lalu, dan sebagainya. Begitu pula dengan perlawanan yang dilakukan secara perorangan, misalnya perlawanan kecil-kecilan para petani Sedaka di Malaysia, seperti yang diperlihatkan oleh James C. Scott (2000), melalui perilaku-perilaku yang seolah-olah kurang berarti seperti mencuri sedikit-sedikit, memperlambat kerja, pura-pura sakit, pura-pura bodoh, dan sebagainya. Perlawanan-perlawanan kecil yang terkesan remeh dan kurang memiliki makna bagi perubahan itu mungkin awalnya tidak berdampak yang begitu mengagetkan, tapi bila ia terus dilakukan secara konsisten, pada saat-saat tertentu perlawanan tersebut bisa menjadi besar dan melibatkan orang banyak. Misalnya dalam kesenian, saat gerakan dada muncul di Zurich pada tahun 1916, awalnya dari sebuah diskusi kecil tentang seni di sebuah kafe yang dilakukan oleh tiga orang seniman: Tzara, Arp, dan Huelsenbeck (Ades, 1981: 110-121). Ketika salah seorang dari mereka menemukan kata “dada” dari sebuah kamus secara tidak sengaja, lalu mereka membuat suatu pertunjukan yang tidak lazim yang membuat orang di sekitarnya protes: Mula-mula Arp membaca sajak, menyusul Huelsenbeck melakukan hal yang sama dengan suara yang lebih keras, kemudian Tzara seolah-olah tak mau kalah memukul-mukul drum, sehingga menimbulkan paduan bunyi yang tak enak didengar. Gerakan yang memprotes terhadap pemujaan yang berlebih-lebihan pada keunggulan rasio dan seni dengan estetika yang formal itu, kemudian menyebar ke seluruh Eropa dan menjadi kecenderungan umum seniman-seniman muda pada saat itu.

Tentu saja sebuah gerakan perlawanan terhadap kondisi atau situasi yang telah mapan, tidak berangkat dari kekosongan nilai. Artinya, seorang individu atau kelompok yang melakukan semacam tinjauan kritis terhadap tatanan nilai yang ada, bukanlah makhluk-makhluk asing yang bebas dari nilai yang diberontakinya. Bagaimanapun mereka merupakan “produk” dan bagian dari suatu masyarakat yang menyantuni patokan-patokan tertentu untuk berperilaku. Namun justru karena itu perlawanan menjadi memiliki makna, sebab orang-orang yang melakukannya, terutama secara sengaja, merupakan orang-orang yang boleh dikatakan sangat paham dengan seluk-beluk kebudayaannya. Adalah sebuah kekonyolan, menurut hemat penulis, bila ada yang memberontak dengan tanpa terlebih dulu memahami apa-apa yang diberontakinya. Pada dasarnya setiap anggota masyarakat paham dengan kebudayaannya, walaupun tentu saja tidak selalu mampu mengutarakannya secara verbal. Tapi walaupun begitu, tidak setiap orang mampu menjadi pencetus bagi perubahan kebudayaan. Diperlukan suatu keberanian untuk menyimpang dari pola-pola yang telah tertentukan. Ketika Nyoman Mandra, seorang seniman lukis yang berasal dari Kamasan Bali, misalnya, selesai melukis salah satu episode Mahabrata, lalu diberi komentar oleh masyarakat Kamasan yang melihat lukisannya dengan ungkapan “beh, ben, beh”, bahasa lokal yang menggambarkan rasa kagum dan ungkapan persetujuan dengan tema dan gaya yang diungkapkan Mandra ( Kayam, 1981: 38), apakah hal yang sama akan diperolehnya saat ia melukis sosok Arjuna yang bunuh diri karena menyesal telah membunuh saudaranya? Karena ini hanya sebuah pengandaian, jawabannya bisa ya atau tidak. Bila ya, tentu Mandra akan tetap menjadi anggota masyarakat Kamasan yang ‘aman’ seperti semula, walaupun mungkin karyanya tersebut bisa menggoyahkan tata nilai yang ada; tapi bila tidak, dan tampaknya jawaban inilah yang memiliki kemungkinan yang besar kalau terjadi dalam suatu masyarakat yang masih kukuh menggenggam norma-norma leluhur seperti masyarakat Kamasan pada saat itu, Mandra akan dikucilkan dari pergaulan, tidak diikutsertakan dalam upacara-upacara agama, atau malah mungkin juga dianggap sebagai orang gila. Tidak setiap orang mampu dan berani menghadapi resiko-resiko semacam itu. Boleh jadi banyak orang yang memiliki pikiran-pikiran yang berbeda, menyimpang, atau terlihat aneh nila dilihat dari perspektif keseharian, tapi karena merasa takut dan tidak berani menghadapi lonsekuensi-konsekuensi negatif yang bakal diterima, akhirnya pikiran tersebut hanya jadi gagasan-gagasan yang terkubur meskipun sebetulnya memiliki potensi bagi kemaslahatan pertumbuhan kebudayaan.

Bila Henri Bergson (dalam Noerhadi, 1983: 22) mengatakan bahwa tradisi (penulis tambahkan: dan atau kebudayaan) merupakan kristalisasi kreativitas dari masa lalu, maka dalam ungkapan itu sebetulnya tersirat pengakuan bahwa peradaban manusia dalam sejarahnya selalu diisi oleh serentetan perubahan‑perubahan yang lahir dari manusia­-manusia kreatif di masa lalu. Hanya saja, ketika ia telah menjadi kebiasaan atau telah terintegrasi dalam mainstream dan diakui sebagai milik bersama, maka gagasannya tidak lagi dirasakan sebagai hasil dari sebuah inovasi. Sebuah contoh kecil bisa ditampilkan di sini. Mungkin kita sudah terbiasanya melihat orang yang akan merebus telor dengan terlebih dulu melubangi kulit telor di bagian yang lonjongnya dengan jarum. Penulis bisa membayangkan bahwa orang yang pertama melakukan hal itu pernah direpotkan oleh persoalan merebus telor yang senantiasa pecah dalam godogan air, padahal ia sebetulnya ingin memperoleh telor matang dengan bulatan yang utuh sehingga terlihat ‘indah’ bila dibuat rendang misalnya. Setelah akar persoalannya ditemukan, yakni bahwa yang menyebabkan pecahnya telor itu karena ada tekanan udara dari dalam saat berada dalam suhu panas, kemudian ia memutuskan untuk melubangi telor yang akan direbusnya dengan jarum, lalu memasukkannya pada saat air dalam keadaan mendidih. Ternyata usahanya berhasil, dan lubang kecil yang dibuatnya nyaris tak nampak. Awalnya orang yang menyaksikan peristiwa itu mungkin beranggapan bahwa melubangi telor yang akan direbus adalah perbuatan konyol. Bagaimana tidak? Bukankah melalui lubang itu isi telor akan berceceran? Tapi setelah menyaksikan hasilnya yang gemilang, mungkin ia pun akan meniru, lalu menyebarkan informasi baru ini pada orang-orang yang sedang menghadapi problem yang sama. Ketika informasi telah tersebar, dan lambat-laun menjadi pengetahuan yang umum, ia tidak lagi menjadi sesuatu yang mengejutkan seperti pertama kali ditemukan; orang-orang menjadi lazim melakukannya, dan ia tidak diingat lagi sebagai hasil dari inovasi seseorang di masa lalu.

Sudah tentu perubahan kebudayaan tidak selalu berarti pertumbuhan, tapi bisa juga berarti kemerosotan. Namun apapun makna yang terkandung di dalamnya, perubahan kebudayaan biasanya diawali oleh hadirnya cara berpikir yang menyimpang dari pola-pola umum yang dilakukan oleh sedikit atau banyak orang yang menjadi anggota suatu masyarakat. Cara berpikir demikian disebut Edward de Bono sebagai cara berpikir lateral (1990), yaitu selain menyimpang dari cara berpikir yang lazim, ia pun berusaha untuk keluar dari pembatas-pembatas, melakukan semacam lompatan dengan cara memandang secara baru hal-hal atau pola-pola lama. Tapi cara berpikir semacam itu tidak populer di masyarakat, sebab bila ia telah menjadi perilaku maka ‘kosmos’ yang telah tersusun secara rapi menjadi terguncang serta mampu menciptakan kondisi khaos. Untuk mengantisipasi agar perilaku semacam itu tidak muncul, biasanya masyarakat memiliki mekanisme pengendalian sosial dengan sanksi-sanksi dari yang paling ringan seperti tidak diikutsertakan dalam upacara-upacara agama, hingga yang paling berat: hukuman mati. Tapi meskipun berpikir lateral beserta perilaku yang menyimpang sebagai perwujudannya sering dihadang oleh sanksi-sanksi, ia selalu saja dilakukan oleh orang-orang, meskipun hanya jadi gerak yang marjinal. Selalu saja ada pribadi‑pribadi yang berusaha melanggar aturan atau patokan yang telah menjadi pegangan bersama, karena merasa tidak puas dengan cara‑cara konvensional yang dianggapnya tak lagi mampu menampung dan berdamai dengan perubahan‑perubahan lingkungan. Biasanya dalam suatu masyarakat yang masih kuat berpegang teguh pada patokan‑patokan yang telah terlembagakan dalam pranata‑pranata sosial, pribadi‑pribadi semacam itu dianggap sebagai orang yang aneh, gila, dan abnormal.

Di atas telah diungkapkan bahwa kebudayaan itu memiliki dua sisi yang saling melengkapi satu sama lain: sisi kemapanan nilai-nilai dan sisi peluang untuk disimpangkan. Dilihat dari perspektif ini, maka perilaku yang dianggap menyimpang oleh suatu masyarakat, sebetulnya adalah perilaku-perilaku yang mampu menggerakkan kebudayaan untuk mengikuti perubahan-perubahan yang senantiasa terjadi dalam kehidupan. Berbicara masalah perilaku menyimpang (deviant), Seymour‑Smith (1990: 76-77) mengatakan bahwa deviansi (deviance) sering didefinisikan sebagai perbedaan dari norma‑norma sosial, dan ini berarti istilah itu merupakan kategori yang lebih luas daripada istilah crime yang hanya menunjuk pada perilaku-perilaku yang akan menyerang persetujuan formal. Perilaku‑perilaku deviant sebetulnya suatu fenomena normal dalam masyarakat manusia, dan ia telah dihubungkan dengan kapasitas seseorang dalam melakukan kreativitas dan inovasi, yakni suatu kemampuan yang menjadi bagian dari warisan perilaku manusia.

Jika suatu perilaku masih dianggap deviant dan belum terintegrasi menjadi konfgurasi yang menyeluruh dan belum menjadi patokan atau panutan untuk bertingkah laku, kiranya lebih tepat dikatakan sebagai berada dalam tahap liminal1, meminjam istilah Victor Turner (1982), yakni suatu tahap yang berada di luar struktur dimana orang yang mengalaminya merasa menghadapi dirinya secara utuh dalam keadaan yang tidak dipengaruhi keadaan normal sehari‑hari. Tahap liminal berada dalam sebuah ambang antara `ada’ dan `tiada’, suatu fase atau keadaan di antara dua aturan. Perilaku‑perilaku alternatif yang belum dijadikan sebagai bagian kebudayaan, biasanya dianggap sebagai perilaku yang menyimpang atau deviant. la dianggap berada di luar kepatutan dan tidak pantas untuk diikuti. Oleh sebab itu perilaku menyimpang ini seolah‑olah menjadi asyik sendiri menikmati kondisinya yang ambivalen. Untuk mencirikan bahwa perilaku itu menyimpang dari keseharian yang berada dalam tahap liminal itu, ada kecenderungan dari masyarakat untuk melakukan semacam “pembingkaian”3 dengan stigma‑stigma, seperti gila, primitif, kekanak‑kanakkan, main‑main, dan sebagainya. Diharapkan dengan adanya bingkai tersebut, ia tidak mengalir ke luar untuk mempengaruhi sistem nilai keseharian yang tertib dan harmonis, meskipun pada kenyataannya selalu saja terjadi penetrasi yang kadang­ kadang mengguncangkan pranata‑pranata yang telah ada.

III
Sebetulnya maksud tulisan ini ingin memperlihatkan bahwa perilaku yang dianggap menyimpang itu begitu relatif. Artinya, ia bukanlah sesuatu yang terberi (given) begitu saja, tapi sebuah kategorisasi yang bersifat kultural. Suatu perilaku dianggap menyimpang bukan karena ada sesuatu yang inherent dalam diri orang yang melakukannya, atau karena tindakan-tindakan tertentu mempunyai karakteristik bersama yang sifatnya jahat dan merugikan dan membahayakan masyarakat, tapi tindakan menyimpang dikatakan demikian karena ada reaksi tertentu dari orang lain, atau masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, karakteristik tindakan menyimpang itu terletak di luar pelakunya atau tindakan tertentu (Sadli, 1976: 18-30).

Jika dilihat dari sudut pandang kebudayaan, perilaku menyimpang tampak penting untuk hadir, karena tanpanya suatu masyarakat tidak mungkin bisa beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Di samping itu, perilaku menyimpang pun dapat menjadi semacam “interupsi” dari kondisi yang telah dianggap normal atau biasa, sehingga seolah-olah hidup itu tidak mempunyai pilihan lagi, padahal bisa jadi bahwa kondisi yang ada dan telah dianggap biasanya ini merupakan hasil dari suatu perekayasaan yang bersifat hegemonik, sehingga orang-orang yang berada dalam posisi yang lebih bisa tetap memiliki hak-hak istimewa dibandingkan dengan orang-orang pada umumnya.***

Daftar Pustaka
Ades, D. 1983 “Dada and Surrealism”, dalam N. Stangos (peny.) Concepts of Modern Art. London: Thames and Hudson.

Gallagher, Kenneth T. 1992 Epistemologi (Filsafat Pengetahuan) (saduran Hardono Hadi).Yogyakarta: Kanisius.

Geertz, Clifford. 1974 The Interpretation of Culture Selected Essays. London: Hutchinson &CO Publisher LTD.

Kapla, David & Albert A. Manner. 1999 Teori Budaya (terj. Landung Simatupang). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan

Konig, Marianne. 1990. “Antropologi dan Teater”. Jakarta. Manuskrip.

Lauer, Robert H. 1977. Perspective on Social Change. Allyn and Bacon Inc.

Noerhadi, Toety Heraty. 1983. “Kreativitas, Suatu Tinjauan Filsafat” dalam Sutan Takdir Alisyahbana. Kreativitas. Jakarta: Dian Rakkyat

Sadli, Saparinah. 1976. “Persepsi Sosial Mengenai Perilaku Menyimpang”. Disertasi. Psikologi U1.

Seymour‑Smith, Charlotte. 1990. Macmillan Dictionary of Anthropology. London and Basingstoke: Macmillan Press L.td.

Scott, J.C. 2000. Senjatanya Orang-orang yang Kalah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Simon, R. 2000. Gagasan-gagasan Politik Gramsci (Terjemahan: Kamdani dan Imam Baehaqi). Yogyakarta: INSIST dan Pustaka Pelajar.

Soekanto, Soerjono. 1986. W.F. Ogburn Ketertinggalan Kebudayaan. Jakarta: Rajawali.

Turner, Victo. 1980. From Ritual to Theatre. New York: Prentice Hall

1 Konsep liminal awalnya dipakai oleh van Gennep untuk menggambarkan salah satu tahap dalam ritus peralihan (rite de passage). Kata ini berasal dari bahasa latin “limen” yang berarti ambang (in-between). Selanjutnya lihat Arnold van Gennep. 1960. The Rites of Passage. Terj. Monica B. Vizedom dan Gabrielle L. Coffee. London and Henley: Rouledge and Kegan Paul.

3 Mekanisme pembingkaian (freaming) merupakan suatu metakomunikasi. Istilah ini pertama kali dipergunakan oleh Gregory Bateson (1972) yang berhubungan dengan teorinya tentang bermain. Selanjutnya lihat Marianne Konig, “Antropologi Teater”. Manuskrip. Tidak diterbitkan.

sumber : http://www.facebook.com/notes/komunitas-antropologi-indonesia/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s