Galeri

Menimbang Perkembangan Antropologi Inggris dan Indonesia: Sebuah Perbandingan

by: Hatib Abdul Kadir
Sumber: http://antrounair.files.wordpress.com/2008/08/antropologi-dari-masa-kemasa.pdf
Karakter perkembangan ilmu antropologi di pertengahan abad 19 lebih terilhami kajiankajianevolusionis, yang dikomparasikan dengan perkembangan pemikiran positivistikyang telah berkembang sebelumnya. Data-data yang didapat antropolog abad 19 pun rataratabersifat “tangan kedua” karena didapat dari laporan para misionaris; petualang; datakolonial. Tak mengherankan jika kemudian para antropolog diabad ini sering disebutsebagai “etnolog belakang meja”.
Hingga di awal abad 20, ranah antropologi mulai memperluas kajiannya denganmenjalankan spesialisasi disiplin; variasi metode sampai analisis kebahasaan. Dan yangterpenting antropologi kemudian mulai menduduki tempat penting di universitas sebagaisalah satu perangkat ilmu sosial1. Adapun karakter yang dikembangkan antropologi diabad 20 dalam menghadapi berbagai berbagai pendekatan universalis dan positivistikdilakukan melalui dua jalan, yakni melakukan fokus studi lapangan secara mendetail danholistik (menyeluruh dari segala bidang, mulai dari aktivitas bersifat remeh temeh,aktivitas ekonomi, organisasi sosial, kekerabatan dan perilaku seksual), demimenghasilkan studi mengenai manusia dan masyarakat secara serius yang pada akhirnyamenghasilkan berbagai kritik dan revisi terhadap berbagai teori lama. Jalan kedua adalahmelakukan pendekatan dengan visi global, namun bukan didasarkan pada orientasievolusionis, yang selama ini telah menjustifikasi bahwa kebudayaan primitif lebih rendahdibanding kebudayaan Barat. Reduksi justifikasi ini merupakan pendekatan yangmenggambarkan masyarakat pada keadaaan yang benar–benar realistis, tanpa harusmenghukum mereka sebagai “manusia setengah binatang” (liar, tak berperadaban danbar-bar) seperti yang dikembangkan kaum antropolog abad 19.
Transisi metode antropologi ini mengandung berbagai keuntungan yakni, pertamamenjadikan informasi langsung didapat dari tangan pertama (pelaku budaya). Kedua,sekaligus mampu meneliti dan menganalisis berbagai latar belakang masyarakat termasukreligi dan ekonomi pada masyarakat barat itu sendiri, yang selama ini menjadi subjekotoritatif dalam berbagai kajian. Ketiga, analisis mengenai konstelasi nilai dalammasyarakat dan mekanisme sosialnya tidak lagi dikuasai oleh para filosof yangmengandalkan rasionalitas sebagai jalan terbaik, melainkan nilai-nilai kultural dan sosialdalam masyarakat dapat dievaluasi lebih lanjut dan detail melalui berbagai metodeantropologi yang langsung turun kelapangan. Pada akhirnya menghasilkan deksripsiempirik, bukan deskripsi abstrak di “awang-awang” dan bias pada perspektif Barat.Antropolog pertama yang memelopori metode ini adalah Bronislaw Malinowski ketika iamelakukan penelitiannya di kepulauan Pasifik barat, serta menghasilkan teorifungsionalisme dan relativisme kultural dalam menggambarkan diversitas masyarakat.
Munculnya teori fungsionalisme dan relativisme kultural sangat berpengaruh padaperkembangan Intelektual di Inggris dan Amerika Serikat di sepanjang tahun 1920 anhingga 1930 an. Dua teori inilah yang menjadi “tulang punggung“ perdebatan paraantropolog ketika “diserang” oleh ilmu sosial lainnya ketika membahas permasalahanrasionalitas; objektifitas dan diversitas kebudayaan. Perkembangan antropologi yangterjadi di Inggris dan Amerika pada pertengahan abad 20 merupakan estafetperkembangan dari pendekatan relativisme kebudayaan yang menguasai jagad ilmupengetahuan sosial di sepanjang tahun 1920 hingga 1930-an dan pada akhirnyaantropologi berjasa dalam menentang teori darwinisme sosial.
Di tahun 60-an antropologi dan dunia ilmu sosial pada umumnya mengalami krisisrepresentasi, dan jalan yang paling utama dilakukan adalah melakukan interdisiplinerkonsep, metode hingga teori, tak terkecuali juga dengan teori antropologi struktural danlinguistik. Dari perspektif formulasi linguistik teori tafsir terbedakan dengan dua teorilainnya, seperti strukturalisme yang diusung oleh Levi-Strauss (1949) dan antropologikognitif yang diusung oleh Stephen Tyler (1969). Strukturalisme Strauss mencobamenggambarkan kebudayaan sebagai sistem yang berbeda-beda, dimana makna daribeberapa unit didefinisikan melalui sistem yang beroposisi biner dengan unit lainnya.Sedangkan kognisi dalam formulasi Tyler tidak melihat kebudayaan sebagai sesuatu yangnetral, melainkan merupakan potret yanga dihasilkan melalui analisis kategorikebudayaan yang mengorganisir berbagai benda, perilaku, dan emosi melalui pikiranmanusia. Untuk menangkapnya maka diperlukan kode kognitif suatu ranah budayasebagai sampelnya.
Marcus dan Fischer menyebutkan bahwa terdapat tiga karakter antropogi posmodernyang kini berpusat pada perkembangan genre penulisan etnografi Pertama, mempelajariberbagai bahan etnografi klasik dan secara eklektis mengambil berbagai elemen vital(seperti konsep dan metode) dalam teori yang masih dianggap relevan. Cara ini dapatmenyadarkan penulis pada sisi keruangan bahwa teori-teroi masa lalu yang ahistorisdapat dihindarkan dengan teori di masa sekarang. Kedua, etnografi yang bersifat personaldan imajinatif dapat memberikan kontribusi di ranah wacana dan berbagai diskusiintelelektual. Harapan ini muncul karena para etnografer biasannya melakukan studidengan sendiri sehingga kemungkinan untuk terpengaruh dengan berbagai teori lainnyamenjadi kecil. Otonomisasi etnografer ini akan memunculkan potensialitas kekreativandalam menganalisis melalui skala mikro, dan menghubungkannya dengan skala yanglebih luas. Ketiga dan yang terpenting sebagai pendatang baru di kancah ilmu sosial,antropologi menyediakan berbagai penelitian di ranah yang lebih luas dibanding disiplinilmu lainnya ( Marchus and Fischer, 1986: 17-8).
Berikut merupakan bagan yang menggambarkan perkembangan mode tipe kebudayaanyang diciptakan oleh para antropolog dari pertengahan abad 19 hingga satu abad kemudian:
Secara garis besar pemahaman mengenai apakah itu“kebudayaan” terdapat tiga pandangan diakronis, yang sifatnya berfase evolutif yakni:
Fase Pertama. Pemikiran yang didasarkan pada E.B Taylor dan Boas. Fase inimenekankan pada pendekatan material yag dikhususkan pada adat dan tradisi. Fase yangdikembangkan oleh E.B Taylor misalnya, melihat kebudayaan berkembang dari Savagerymenuju Barbarism dan Civilized pada akhirnya. Pandangan ini merupakan kajian yangdikembangkan pada abad 19 dengan bau etnosentris yang sangat kental. Dimana eraVictoria di Inggris dianggap sebagai prestasi tertinggi dari pencapaian peradaban dankebudayaan. Taylor melihat bahwa semua budaya harus menempuh runtutan berbagaitahap yang sama atau kasarnya sama, dalam perjalanannya mencapai puncak kejayaan.Sedangkan pada Boas mendasarkan pandangannya pada culture area yang terindikasimelalui adat dan tradisi yang berbeda.
Fase Kedua. Merupakan fase abstrak yang banyak digambarkan oleh A. L Kroeber danClyde Cluckhohn. Hal ini tampak pada pendekatan mereka dalam memaknai kebudayaanberdasarkan pada pengembangan nilai budaya, sistem pandangan hidup dan ideologiyang ketiganya sangat abstrak. Tidak berlebihan jika kemudian Cluckhon mampumengumpulkan makna kebudayaan hingga menjadi lebih dari seratus enam puluhdefinisi.
Fase Ketiga. Fase Simbolik. Fase ini memaknai kebudayaan pada berbagai simbol yangselalu ada pada setiap gerak kehidupan manusia. Munculnya berbagai karya CliffordGeertz. Geertz melalui fase ini juga dapat dikatakan tengah memasuki masa liminal atubatas dimana lahirnya posmodernitas, terindikasi melalui subjektifitas narasi yangdianggap mampu menggulingkan objektifitas sebuah kebudayaan.Tipikal kajianperkembangan diakronis diatas masih dalam lingkup teori besar (grand teory) tigapemikir sosiolog yakni Marx, Durkheim dan Weber yang mewarnai ketiga pemikiranantropologis dalam memandang makna kebudayaan.
Secara sinkronis kita dapat melihat bahwa makna kebudayaan dapat dlihat pada tigarelasi yakni kebudayaan layaknya tata bahasa (culture as grammar), kebudayaanlayaknya terjemahan bahasa (culture as translation) dan kebudayaan sebagai wacana(culture as discourses) (Barnard 2000: 175). Pada tataran pertama kebudayaan yangdianalogikan dengan tata bahasa dapat kita lihat pada karakteristik karya-karya besarLevis Staruss yang bernada struktural Antropologi. Baginya kebudayaan dan masyarakatmempunyai bentuk akar yang dapat dianalogikan dengan tata bahasa dari sebuah bahasaitu sendiri, pendekatan ini dilakukan khususnya pada tata kebudayaan. Secara implisit halini terdapat juga pada karya besar Radcliffe-Brown, Structure and Function in PrimitiveSociety (1952), dimana ia melihat bahwa masyarakat dan kebudayaan layaknya sebuahorgansime biologis terstruktur dan saling berpengaruh. Karakteristik kedua yakni cultureas translation, terlihat pada beberapa hasil penelitian Evans Pritchard yang melihatkebudayaan asing (alien culture) layaknya bahasa asing (foreign language), sehinggakebudayaan menjadi lebih familiar, berbagai istilah asing atau kebudayaan luar harusditranslasi atau diterjemahkan ke dalam bentuk pemahaman pemilik suatu budaya yangmerasa asing tersebut. Ketiga, adalah culture as discourses dapat kita lihat pada beberapakarya pemikiran dan penelitian Clifford Geertz dimana ia menggunakan simbol dalammemahami bentuk komunikasi dan tindakan dalam suatu komunikasi.
Dinamika Perkembangan Antropologi Inggris
Munculnya masa pencerahan di Eropa pada abad pertengahan, menempatkan antropologisebagai bagian dari doktrin-doktrin ilmu pengetahuan yang menggantikan keberadaanTuhan sebagai wacana dominan. Masa ini juga dikenal dengan pemenuhan hasratmanusia akan rasa ingin tahu terhadap permasalahan dunia yang demikian besar. Dalamdunia antropologi pemenuhan rasa ingin tahu tersebut dilakukan dengan mengkoleksibenda-benda antik, koin, dan mengunjungi masyarakat di pedalaman, seperti yangdilakukan oleh antropolog klasik EB. Taylor, J.G Frazer dan Franz Boas.
Jika ditarik dari akar filosofi antropologi dan ilmu sosial, yang sedikit terlupakan adalahAuguste Comte, seorang murid filosof Saint Simon. Ia bukan hanya pioner dariberdirinya Sosiologi, yang pada awalnya bernama fisiologi sosial, melainkan juga berjasauntuk menurunkan pendekatan studi tentang keseluruhan mentalitas manusia, jugatermasuk hubungan kognitif dengan keadaan perkembangan sosial, ekonomi dan politik.Comte pulalah yang menggagas munculnya kajian evolusi dari dari perspektif sosial.Kemudian, pemikiran besarnya mengenai perkembangan manusia dari fase teologi ataufiksi menuju metafisis abstrak dan berakhir pada saintifik positivis yang mempengaruhipemikiran para sosiolog Prancis seperti Durkheim, Marcel Mauss dan Levy Bruhl, dan diInggris seperti John Stuart Mill dan Herbert Spencer. Sebagai ilmu positivitistik, Comtemenekankan metode komparatif ketika melihat database, yang kemudian digunakanetnografer dalam menentukan fakta dari observasi dan eksperimentasi. Kesimpulanbesarnya adalah antropologi lahir dari penggabungan antara sejarah progresifitas manusia(baca: evolusi sosial) dan data etnografi yang dikumpulkan. Pengumpulan data etnologipada abad sembilan belas ini lebih menyerupai koleksi database dan materi yang jugadilakukan zoolog, botani, paleontolog dan geolog. Karena itu para pakar antropologi diabad sembilan belas lebih merupakan intelektual belakang meja yang menganalisis hasilmatang dari data-data yang telah terkumpul di perpustakaan maupun di museum.
Pada abad sembilan belas perkembangan antropologi masih mengaitkan perkembanganmanusia berdasarkan bias ras dari pandangan ilmuwan Eropa. Studi evolusi masihbernuansa kental di dalamnya. Dalam tradisi antropologi Inggris menyebutnya sebagaietnologi, yakni kajian yang berhubungan erat dengan narasi manusia secara detail dariperspektif evolusi sosial dan ras. Pendekatan yang dilakukan pun masih di belakang meja,inilah yang membedakannya dengan keterlibatan langsung di lapangan yang disebut jugasebagai etnografi.
Perkembangan antropologi di Inggris sebagai bagian dari ilmu pengetahuan ilmuhumaniora berkembang pesat selayaknya ilmu Biologi, khususnya ketika ditemukannyateori evolusi. Di lain pihak, munculnya masa pencerahan terlihat pada berbagai catatanyang menarasikan masyarakat secara linear. Antropolog seperti LH. Morgan melihatgaris lurus perkembangan dari masyarakat barbar, liar menuju ke masyarakatberperadaban. Demikian juga perubahan evolutif dari masyarakat peternak ke pertanianpada akhirnya masyarakat perdagangan dan industri. Di tingkat kekerabatan, masyarakatmatrilineal menuju masyarakat patrilineal. Penaklukkan alam oleh manusia, danpemisahan Tuhan dari kehidupan sehari-hari pada era pencerahan adalah tandaprogresivitas pandangan manusia yang sangat optimis terhadap perkembangan pemikirandan perbaikan materi yang dihasilkan. Meskipun demikian, pandangan-pandangan diatastelah menjadi bahan empuk untuk diperdebatkan (Adams, 9-18:1998). Pandanganprogresif tentang masyarakat bermuatan universal, dan juga bias pada kepentinganperadaban Barat yang pada waktu itu dilihat lebih mulia. Lantas perkembanganselanjutnya adalah pendekatan komparatif. Perkembangan selanjutnya dalam ajaranpositivisme Comte dilakukan oleh John Stuart Mill (System of Logic, 1843) yangmeneruskan tradisi utilitarian dengan menyatukan pendekatan ilmu alam dan ilmu sosial.
Pada awalnya munculnya perdebatan ilmu antropologi di Inggris adalah antara merekayang hendak meneruskan ide Darwinisme sosial dengan ide humanitarian yang sifatnyadifusif. Ide pertama lebih pada pendekatan sejarah, sedangkan ide kedua merupakan cikalbakal yang kelak mendasari berbagai penelitian para antropolog awal, seperti E.B Taylordan Frans Boas. Kemudian terjadi perubahan pula dalam tradisi antropolog Inggris, yaknidari penelitian belakang meja (armchair researcher); bersifat universalistik,evolusionistik; pengusung uatamanya adalah EB. Tylor evolusionistk menuju ke penelitipartisipan (partisipant observation researcher) yang sifatnya lebih partikularis pada satukasus di wilayah tertentu dan pengusung utamanya adalah Bronislaw Malinowski.
Pada sisi metode, munculnya obervasi partisipan dan pencatatan tehadap catatan hariansebagai sesuatu yang sangat jujur dan subjektif diawali dalam tradisi diary penuhemosional, yang dilakukan oleh Malinowski dan juga Raymond Firth. Namun demikian,teori fungsionalisme Malinowski dikritik oleh Radcliffe Brown karena terlalu kulturalissehingga abstrak, dan apolitis. Di sinilah kemudian Radliffe mulai memperkenalkan teoristruktural fungsional, meski tidak mempunyai kekayaan etnografis seperti yang dimilikiMalinowski.
Dialektika teori tidak berhenti pada perseteruan sengit antara Malinowski dan RadcliffeBrown sebagai guru besar, begawan dan pioner antropologi Inggris, karena selanjutnyaada Evans Pritchard dengan pendekatan tafsir etnografinya yang luar biasa; RaymondFirth yang merevisi pendekatan Radcliffe Brown, bahwa individu sebagai agen jugapenting membentuk struktur sosial. Kritik terhadap teori struktural fungsional jugadilanjutkan oleh Edmund Leach yang mendapatkan analisisnya dari penelitian dimasyarakat Kachin di Burma, yang mengungkapkan bahwa kehidupan manusia lebihdideterminasi oleh sesuatu yang bersifat material, seperti tanah, sistem pengairan dansawah. Ada dialektika saling bersitegang dan berkelanjutan, yang bukan hanyadidasarkan pada kebanggaan antar institusi universitas, namun yang lebih agung daripadaitu adalah melanjutkan tradisi kritik dalam ilmu sosial, khususnya antropologi.
Pasca mencoloknya dua antropolog struktural fungsional dan fungsional, Inggris dilandaoleh pendekatan strukturalisme yang diusung oleh Levi-Strauss dari Prancis. Pendekatanklasifikasi dan dikotomisnya mempengaruhi analisis dan kritik yang kemudiandikembangkan oleh antropolog semacam Edmund Leach dan Mary Douglas. Pada tahun70 an corak Antropologi Inggris semakin diwarnai dengan maraknya kajian feminismedan Marxisme. Kajian feminis ini berasal dari gegap gempitanya pemikiran yang ada diAmerika Serikat, sekaligus menyadarkan tentang kosongnya penelitian etnografi danteori yang berhubungan dengan gender selama ini. Pendekatan Marxisme tidak berusiapanjang dan memang tidak populer dalam tradisi Inggris, karena tak lama kemudianmuncul pendekatan baru yang bernuansa poskolonialis. Kritik-kritik deras dilakukan olehpemikir seperti Talal Asad mengingat Inggris sangatlah identik dengan negara kolonial,tak terkecuali para antropolognya yang terlibat aktif di dalamnya. Di sisi inilah FredrikBarth sebagai antropolog Inggris (dalam bab pertama) menempatkan posisinya sebagaisalah satu antropolog yang bersikap “lebih lunak“ untuk tidak mengutuk denganemosional penelitian-peneliti an pada masa kolonial. Barth mendukung sikap Malinowksiyang dianggapnya bukan sebagai “missionaris“ dengan misi suci dan kehendaknya untukmerubah masyarakat asli. Di sisi lain, posisi peneliti (antropolog) pada rejim kolonialtidaklah semudah seperti posisi peneliti yang berada di luar masa kolonial, karena harusmembedakan antara ilmu pengetahuan dengan kepentingan rejim dalam struktur koloni itu sendiri.
Seperti dalam sejarah modernitas yang hanya menawarkan narasi besar, buku buku inijuga nyaris tidak menarasikan berbagai liku-liku perkembangan universitas yangdianggap tidak begitu memainkan peranan besar di dalam perkembangan AntropologiInggris, seperti Kent University, Sussex University, Brunel University, Hall University,hingga SOAS. Salah satu penyebabnya adalah jarangnya antropolog besar di Inggris yanglahir atau membesarkan universitas ini, dalam arti kata, antropolog Inggris mulai dariMalinowski, Evans Pritchard, Max Gluckman, Ernest Gellner, Maurice Bloch hinggaMarylin Strathern hanya berputar-putar membesarkan pada tiga universitas yangsebenarnya telah besar, yakni LSE, Oxford, Cambridge University dan ManchesterUniversity. Karena itu sebenarnya perkembangan antropologi Inggris mencakup dua hal,yakni perkembangan siapa yang kali ini memegang birokrasi ketua jurusan, kemudian iamembawa teori apa dan ketika ia tidak cocok lagi di birokrasi jurusan tersebut, maka iaakan pindah ke jurusan yang sama di universitas lain. Dan universitas yang dipilih hanyaberkisar pada empat rejim univeresitas besar yang telah saya sebutkan diatas
Di awal tahun 1980, antropologi Inggris dengan percaya diri berani mengatakan bahwamereka tidak bisa dipandang sebelah mata, ini mengingatkan kita ketika Edmund Leachdengan penuh nada kecaman (1984) bahwa antropologi bukanlah suatu kajian yangmudah diabaikan dan dianggap sepele, karena pada akhirnya secara aktif mampu menjadisalah satu lawan penekan terhadap kemapanan di Universitas Oxford, seiring denganberakhirnya masa krisis generasi handal para antropolog awal abad 20, yang kemudianlahir antropolog-antropol og luar biasa pada satu jaman berikutnya seperti Gregory Bateson, John Driberg, Raymond Forth, Darryl Forde, Reo Fortune, Arthur M. Hocartdan Audrey Rochard.
Globalisasi pada akhirnya memberikan narasi kepada pertumbuhan antropologi Inggrisyang sebenarnya dalam pandangan saya telah sangat menurun prestasinya satu dekadeini, namun di sisi lain para pemikir terbarunya saling mempengaruhi dengan antropologbaru di Amerika Serikat, sehingga sering kita dengar sebuah kolega pandangan diantarakeduanya yang disebut dengan anglophone antropology, yang jelas tidak sepertiantropolog Inggris klasik sebelumnya, gabungan dua pemikir di dua benua ini tidak alergiuntuk mencomot pemikiran dari disiplin lainnya sehingga lebih berwarna.
Lantas, Bagaimana dengan Antropologi Indonesia?
Munculnya antropologi di Indonesia lebih dikonstruksi oleh para antropolog Belanda,bukan hanya seperti Snouck Hurgronje, namun juga Josselin De Jonge yangmemperkenalkan ide HRAF (Human Research Area Files) pada beberapa wilayah yangakan dikaji di Indonesia. Para antropolog Belanda lebih menekankan penelitian mengenaikekerabatan dan mahar kawin dalam tradisi pernikahan di berbagai wilayah di luar Jawa.Sedangkan penekanan penelitian di Pulau Jawa justeru dikembangkan oleh antropologAmerika pasca perang dunia II, khususnya ketika mereka tengah mencobamengkonstruksi apa itu Jawa, Indonesia dan yang terpenting adalah apa itu AsiaTenggara. Beberapa pandangan poskolonial Indonesia berkeyakinan bahwa secarametodologis, pendekatan antropolog masih kental dengan bias dari sudut pandang Baratitu sendiri, karena rata-rata dari mereka berlatar belakang dari misionaris danadministratur kolonial2.
Di Indonesia sendiri, pasca reformasi di Indonesia, sebenarnya antropologi mempunyaipotensi untuk berkembang sebagai ilmu pengetahuan yang lebih besar. Antropologidianggap sebagai ilmu pengetahuan yang menarik karena beberapa sebab, sepertimelemahnya intevensi negara, sehingga ilmu sejarah sebagai alat dasar konstruksimemori kolektif menjadi hilang kekuatan nya. Ketika negara dipandang semakindemokratis, kajian “aman“ dan remeh temeh menjadi “seksi dan politis” sepertimunculnya Cultural Studies. Babonitas ilmu yang mulai memudar membuat tidakpenting lagi siapakah terlebih dahulu menciptakan teori dan menirunya, melainkansiapakah yang mampu mengkonstruksi teori secara komprehensif. Sementara jika kitalihat ilmu antropologi adalah kajian yang nyaris tidak berada di sisi puncak, melainkanturunan dari teori besar yang telah ada. Seperti Tylor yang mengacu kepada Darwin,Malinowski yang mengacu kepad Freud dan Geertz yang terinspirasi pada Max Weberdan Talcott Parson.
Hingga kini, masyarakat awam masih memandang bias pada Antropologi Indonesia yangselalu dikaitkan dengan permasalahan tengkorak dan fosil manusia. Ini tak lepas dariperanan dominan dari seorang profesor UGM, Prof. Teuku Jacob dimasanya yangdemikian peduli dengan kajian kebudayaan ala antropolog Amerika, Franz Boas.Sedangkan secara paradigmatik, antropolog Indonesia sendiri gagal melahirkan tradisiteoritik yang berkelanjutan dan jelas “susur galur“ kritiknya. Ini terlihat dengan tidakadanya dua karakter utama dari dua jurusan antropologi paling mencolok di Indonesia,yakni di Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), duauniversitas ini tidak menyajikan pemikiran yang secara tajam berbeda, seperti ketikaterjadi perdebatan berketurunan antara London School of Economics (LSE) yangdigawangi oleh Malinowski dengan pendekatan fungsionalismenya dan OxfordUniversity yang digawangi oleh Radcliffe-Brown dengan pendekatan strukturalfungsionalnya. Di sisi lain pula, jurusan antropologi di universitas- universitas daerahseperti Universitas Sumatera Utara; Universitas Andalas; Universitas Udayana;Universitas Hasanuddin tidak mampu menciptakan paradigma “lain“, seperti counteryang dilakukan oleh Manchester University terhadap dua universitas besar dan duapemikir besar sebelumnya yang mendominasi dunia antropologi Inggris.
Para antropolog Indonesia cenderung bertujuan akhir untuk berkutat pada dunia birokrasidan administari publik, tidak mampu menorehkan karya ilmiah yang layak baca secaraluas, pada akhirnya hanya disegani semasa hidupnya semata. Antropolog kita tidakmempunyai semangat juang secara berkelanjutan dan istiqomah, untuk mengembangkanparadigma secara rapi yang dihasilkan dari koneksitas antara laporan etnografinya denganpengembangan teori yang akan dibangunnya kelak. Sebagai misal, mengapa CliffordGeertz menjadi demikian berpengaruh? karena ia menghasilkan dua hal diatas, antaramanuscript etnografi (the Religion of Java; Theater State; Islam Observed dll) danmembangun teori (The Interpretation of Cultures; Local Knowledge; Available Lightdll) . Sementara antropolog kita hanya mengkonsumsi teori sebagai klangenan,sepulangnya belajar bertahun-tahun.

Hatib Abdul Kadir Antropolog tinggal di Yogyakarta
1 Namun demikian hingga di tahun 70-an, kajian antropologi mendapat kritikan keraskarena masih berkutat pada masyarakat eksotis, terpencil, primitif yang semuanya rataratamasih terasing dengan dunia global, tampaknya spirit objek masyarakat inilah yangmasih dipertahankan sejak pertengahan abad 19. Yang menjadi transformasi justeru padatataran metode etnografi, dimana antroplogi mulai memilih beberapa “jalan” berbedadibanding ilmu sosial lainnya (periksa bab metode-metode dalam teori tafsir). Lebihlanjut periksa George E Marcus and Michel J Fisher. Anthropology as Cultural Critique.An Experimental Moment in The Human Sciences. 17-8:1986. The Univesity of ChicagoPress.
2 Saya masih ragu bahwa antropologi selalu dimulai dengan dari semangat besarkolonialisme. Antropolog Milukho-Maklai (1846-1888) yang singgah di Pantai UtaraPapua dalam empat kali ekspedisinya meneliti suku-suku di Papua dan menghasilkanlima jilid buku. Ia tidak hanya menjadi peneliti melainkan juga seorang dokter, guru dankawan bagi masyarakat setempat. Semangat ini tidak lepas dari hubungan Partai KomunisRusia yang pada waktu itu tengah bergandeng mesra dengan sistim politik Indonesiayang bergerak sosialis kekirian, sekaligus mengusung ide baru bernama nasionalisme.Dalam hal ini Maklahi berpihak kepada pembebasan bangsa terjajah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s