Galeri

Bahasa Tolitoli Nyaris Punah

oleh Jodhi Yudono

Sumber: http://oase.kompas.com/read/2011/08/25/02454290/Bahasa.Tolitoli.Nyaris.Punah

Seorang tokoh adat Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah mengatakan, Bahasa Tolitoli termasuk satu dari sekitar 500 bahasa daerah di dunia yang hampir punah.

Ketua Dewan Adat Tolitoli, Ibrahim Saudah di Tolitoli, Rabu, mengungkapkan, kurangnya pelestarian Bahasa Tolitoli khususnya di kalangan generasi muda menjadi penyebab kemunduran bahasa daerah itu.

Hasil penelitian seorang pakar bahasa menunjukkan, Bahasa Tolitoli nyaris punah akibat kurangnya perhatian para orang tua untuk tetap menyosialisasikan bahasa ini kepada generasi muda, kata Ibrahim.

Menurutnya, hal tersebut bisa dilihat dalam percakapan sehari-hari masyarakat di daerah ini khususnya genererasi muda yang enggan menggunakan Bahasa Tolitoli dengan alasan gengsi.

Faktor lain, kata Ibrahim, nyaris punahnya Bahasa Tolitoli disebabkan perkawinan antarsuku sehingga bahasa ini tidak lagi dipakai.

Masyarakat Tolitoli yang kawin dengan suku lain cenderung memakai bahasa pasangannya, katanya. “Misalnya anak dari Suku Tolitoli kawin dengan Suku Bugis maka anak dari Tolitoli cenderung menggunakan Bahasa Bugis ketimbang bahasa sendiri,” kata Ibrahim mencontohkan.

Karena itu, ia mengkhawatirkan beberapa tahun ke depan Bahasa Tolitoli akan mengalami kepunahan dan hanya menjadi catatan sejarah masyarakat setempat.

Ibrahim mengatakan, beberapa langkah yang akan diambil Majelis Adat Suku Tolitoli untuk mengantisipasi kepunahan bahasa daerahnya adalah terus memberikan pemahaman kepada masyarakat di wilayah itu tentang pentingnya melestarikan bahasa Tolitoli.

Selain itu, suku kata Bahasa Tolitoli akan dibukukan menjadi sebuah kamus yang akan dibagi-bagikan kepada masyarakat.

Majelis Adat Suku Tolitoli juga akan bekerja sama dengan pemerintah setempat melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga untuk memasukkan Bahasa Tolitoli ke dalam kurikulum pembelajaran siswa baik tingkat Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi.

Ibrahim juga mendorong dimasukkannya bahasa daerah dalam kurikulum pembelajaran.

Menurut dia, Pemerintah Kabupaten Tolitoli dapat membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang bahasa daerah. “Seperti di daerah-daerah lain juga begitu sehingga kekhawatiran bahasa daerah kita punah tidak akan terjadi sebab sudah terantisipasi dengan dimasukkannya bahasa daerah sebagai kurikulum pembelajaran,” katanya.

Sebuah Keresahan Atas Hilangnya Sebuah Identitas

Mungkin benar apa yang dikhawatirkan oleh tokoh adat daerah Tolitoli. Bahasa adalah folklor yang juga merupakan identitas suatu suku. Tentunya hal ini akan mengganggu benak mereka jika kelak cucu cicit mereka yang orang Tolitoli berbahasa bugis, bila diibaratkan di Pulau Jawa, orang Sunda menggunakan bahasa Jawa. Ini sungguh amat meresahkan mereka sebagai tetua adat di daerah tersebut. Kehilangan identitas diri melalui hilangnya sebuah bahasa adalah sebuah ketakutan terbesar yang sedang mereka alami saat ini.

Saya mengapresiasi peran maksimal para Majelis Adat Tolitoli dalam melindungi sebuah identitas budaya yang mereka miliki. Dengan berbagai program yang mereka jabarkan pada artikel diatas, ini menunjukan leseriusan dari pihak pemuka adat untuk melestarikan identitas budaya mereka. Usaha yang cukup bahkan sudah terbilang maksimal untuk menjaga identitas budaya mereka. Ini adalah langkah baik untuk setidaknya mengurangi dampak kepunahan dari bahasa Tolitoli itu sendiri.

Namun disini saya mengkritik peran pemerintah pusat, Kemenbudpar, yang saya kira tidak sama sekali memperhatikan aset bangsa seperti benda budaya (bahasa) daerah di Tolitoli ini. Mereka mungkin tidak pernah mengadakan survei tahunan untuk mengecek bagaimana keadaan kelestarian budaya di seluruh Indonesia. Mereka mungkin hanya menganggap sebuah budaya adalah lahan kapitalisme bernama pariwisata. Pantas jika dilihat dari pemimpinnya (menteri) yang berbasis pendidikan sarjana teknik dan pascasarjana ekonomi, tidak nyambung dengan pekerjaannya! Tidak ada niat untuk melestarikan budaya Indonesia!

Menyalahkan tanpa solusi mungkin hanyalah sebuah omong kosong. Saya melalui artikel ini kembali lagi lagi mengingatkan tentang apa peran pemerintah sebagai alat rakyat, bukan musuh rakyat. Dalam hal ini, ada baiknya pemerintah membayar dosa kelalaian mereka dengan turut langsung memberikan fasilitas dalam menjalankan program yang telah dirancang oleh tetua adat Tolitoli. Atau lebih konkretnya, mereka yang menjalankan langsung peran pelestarian dan pematenan bahasa Tolitoli sebagai warisan dunia.

Semua ini perlu dimulai secepatnya, atau mungkin kita akan melihat bahasa Tolitoli punah, serta makin banyak lagi bahasa di pelosok Indonesia lainnya yang akan punah oleh karena keteledoran banyak pihak. Hal ini tentunya akan merugikan bagi tiap tiap orang Tolitoli yang semestinya masih bisa menggunakan bahasa, namun mereka kehilangan identitasnya dimasa depan. Semua elemen masyarakat yang peduli dan pemerintah yang bertanggung jawab kiranya harus memulai proses rekonsiliasi dari kasus ini. Agar bahasa Tolitoli tetap digunakan masyarakatnya.

4 responses to “Bahasa Tolitoli Nyaris Punah

  1. Arus Modernisasi telah menggerus akar budaya asli orang Tolitoli.

    • terimakasih sebelumnya mas dadang telah berkunjung ke blog saya..
      saya sependapat dengan anda. Globalisasi yg menghasilkan arus modernisasi perlahan akan membunuh karakter budaya suatu suku. Ini yang selama ini masyarakat kita kurang sadari.

  2. Menurut saya hal yg paling mendasar penyebab Bahasa Tolitoli nyaris punah adalah arus globalisasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s