Galeri

Arkeologi Adalah Bagian dari Antropologi

oleh Theresa Kintz

Di Amerika Serikat, arkeologi diajarkan sebagai salah satu dari empat sub-disiplin ilmu dalam antropologi; tiga yang lainnya adalah antropologi fisik (studi tentang evolusi manusia), antropologi budaya (studi tentang kultur-kultur yang masih hidup) dan linguistik (studi tentang bahasa). Di Inggris semua hal tersebut diajarkan secara terpisah. Aku sendiri melihat antropologi dan arkeologi memiliki subyek penelitian yang sama, studi kemanusiaan dalam segala perbedaannya, melalui historisnya masing-masing, di sepanjang dunia. Arkeologi biasa dikenal dan didefinisikan oleh aktivitasnya: penggalian. Fokusnya adalah menemukan kembali obyek-obyek dan menganalisa tentang apa yang dikisahkan oleh obyek-obyek tersebut tentang gaya hidup orang-orang yang menggunakannya. Dalam pengertian ini, engkau dapat berargumen bahwa secara teknis, para antropolog mempelajari kultur-kultur yang masih hidup, sementara para arkeolog mempelajari budaya-budaya di masa lampau melalui subyek-subyek yang masih ada, membicarakan mengenai ‘budaya’ dalam konteks konstuksi-konstruksi kategoris: antara lain, ekonomi, politik, organisasi sosial, strategi subsistensi, teknologi, dan lain sebagainya. Baik antropolog maupun arkeolog akan melihat pada elemen-elemen dasar yang sama dan berupaya untuk mendeskripsikan budaya-budaya yang mereka pelajari, di masa lampau ataupun di masa kini. Bagiku antropologi tampak sebagai sebuah sosiologi eksotis. Tentu saja, disiplin ilmu ini baru muncul belakangan, sekitar akhir abad ke-19, dan secara langsung selalu diasosiasikan dengan Zaman Kekaisaran saat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya menemui dan menulis tentang ‘perbedaan suku pedalaman’. Pemikiran menarik, seseorang dapat mengajukan argumen bahwa antropologi ‘primitif ’ hadir di era Yunani Kuno dan Romawi yang mencatat tentang perilaku berbeda dari mereka yang dijumpai saat kekaisaran-kekaisaran tersebut memperluas diri. Bahkan apabila catatan-catatan tersebut lebih dianggap sebagai catatan perjalanan, deskripsi-deskripsi yang diberikan menjadi sumber literatur antropologis.

Di AS, para antropolog pertama menangkap secara literer subyek-subyeknya, yaitu suku asli Amerika, dan begitulah bidang ilmu ini pertama kali dikembangkan di AS. Audiensi utama bagi hasil kerja para antropolog dan donatur utama mereka tentu saja pemerintah AS, Biro Urusan Indian dan hasil-hasil kerja mereka akan digunakan untuk mencari cara terbaik untuk menundukkan populasi indian. Menariknya, para antropolog awal tersebut seringkali menyayangkan hilangnya perbedaan budaya akibat gerusan peradaban dan lantas menulis dengan penuh simpati atas subyek-subyek mereka, kehidupan liar dan bebas yang murni di tengah Eden. Memang, mereka tidak melakukan apapun untuk menghentikan genosida kultural yang tengah mereka saksikan. Hal yang sama juga terjadi pada diri antropolog-antropolog awal Eropa seperti Levi-Strauss dan Malinowski yang bekerja dalam koloni-koloni di Afrika, Asia dan Oseania. Arkeologi memiliki sedikit perbedaan historis. Bahkan saat ini saat aku mengatakan pada seseorang bahwa aku adalah seorang arkeolog, maka biasanya ia akan bertanya, “Di mana engkau menggali? Mesir? Roma? Yunani?” Pada awalnya arkeologi klasik memang memfokuskan diri untuk meneliti peradaban-peradaban besar yang pernah ada. Banyak orang masih berpikir bahwa arkeologi adalah penelitian reruntuhan besar yang seksi seperti piramida, berburu ‘harta karun’ berupa emas dan perak, menemukan kembali seni-seni abad lampau. Pada awalnya memang arkeologi adalah sebauh perburuan harta karun yang dilakukan oleh para akademisi yang kaya, memiliki tim privat, dan kolektor benda antik, yang lebih mirip sebagai peneliti sejarah seni dibanding antropologi. Museum-museum awal adalah berupa ‘pajangan yang menimbulkan keingintahuan’ di mana kapak Zaman Batu akan dipajang bersanding dengan gading gajah dan tengkorak kepala yang disusutkan. Penggalian yang sistematis baru hadir belakangan, satu dari yang awal dilakukan di AS adalah laporan tertulis yang dilakukan oleh Thomas Jefferson yang ‘menggali’ kuburan suku asli Amerika di lahan yang menjadi propertinya di Virginia di akhir tahun 1700-an. Aku bisa mengatakan bahwa penerimaan yang luas atas teori evolusilah yang mengirimkan arkeologi ke dalam jalur yang berbeda. Sekali saja diterima bahwa manusia berevolusi dari nenek moyangnya yang primata, maka penelusuran kronologi even-even tersebut langsung dimulai. Dalam poin ini, manusia menjadi sekedar binatang lain yang evolusinya dapat dipahami melalui riset ilmiah di mana artefak-artefak akan dipandang sebagai catatan fosil dari kultur-kultur masa lampau. Semenjak itu kisah tentang kemanusiaan dibuka oleh para antropolog fisik dan arkeolog.

Implikasi dari hegemoni paradigma ilmiah tersebut dan peran para arkeolog sebagai pengisah kemanusiaan menjadi sedemikian luas. Para arkeolog berkisah tentang masa lampau, jenis-jenis pertanyaan yang kita tanyakan dan jenis-jenis jawaban yang kita dapatkan sepenuhnya terpengaruh oleh kultur masa kini. Inilah satu hal yang melalui perspektif anarko-primitivis (AP) tentang pra-peradaban diilustrasikan dengan baik. Ambil fakta-fakta dasar evolusi manusia dan kita akan sampai pada kesimpulan bahwa kita hidup di tengah dunia terbaik yang mungkin terjadi, tetapi beberapa juga berpendapat bahwa kita hidup di tengah dunia yang terburuk yang pernah terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s