Galeri

Review Buku: Penduduk Irian Barat (Koentjaraningrat)

Pada Buku ini dibahas bagaimana proses akulturasi terjadi di Irian barat secara tidak langsung dilakukan oleh berbagai golongan dari mulai militer pemerintahan Belanda, para pemburu hewan (burung cendrawasih), misionaris Belanda, ataupun pegawai pemerintahan. Hal tersebut sedikitnya telah mempengaruhi kebudayaan masyarakat pribumi Irian Barat, walaupun tidak mengubah kebudayaan mereka secara keseluruhan. Sebelum kebudayaan penduduk pribumi dipengaruhi oleh kebudayaan-kebudayaan yang berasal dari luar Irian, dapat dikatakan tidak terdapat perubahan signifikan dalam kebudayaan mereka.
Bisa dikatakan perubahan kebudayaan dalam masyarakat Irian hanya berlangsung dalam skala yang kecil dan dalam waktu yang lama, sehingga mereka terlihat masih hidup di zaman batu hingga sekarang. Hal ini dapat terlihat bagaimana mereka masih menggunakan peralatan-peralatan dalam keseharian mereka yang digunakan pada zaman batu. Mereka belum mengenal logam sebagai bahan untuk membuat peralatan rumah tangga. Jika hal tersebut mengindikasikan belum adanyanya perubahan signifikan dalam bidang teknologi, namun bukan berarti tidak ada perubahan sosial dalam kehidupan sosial mereka. Hal ini dapat dilihat dengan berubahnya sistem kepercayaan mereka yang semula merupakan kepercayaan-kepercayaan animism, berubah menjadi kepercayaan monotheisme seperti Kristen, Katolik, ataupun Islam.
Bermula dari ekpedisi yang dilakukan oleh bangsa bangsa Eropa untuk menemukan rempah-rempah yang dilakukan oleh orang-orang Spanyol dan Portugis (Alvarovde Saveedra, Joao Fogaca, dan Ynigo Ortiz, Irian mulai sering dikunjungi oleh berbagai macam orang Eropa dengan dengan berbagai macam tujuan. Pemerintah Belanda memulai ekspidisinya untuk mengetahui Irian Barat yang kala itu merupakan daerah jajahan Belanda, dengan mengirimkan kesatuan militer yang di pimpin oleh Kapten J. F. E ten Klooster, yang membawa 80 orang pasukannya ketika mengadakan perjalanan penyelidikan ke daerah sungai Legare, Siriwo dan Warenai dalam tahun 1912. Ekspedisi ini bersifat sekali lewat pada satu daerah tanpa lama-lama menetap didaerah tersebut, sehingga mungkin belum ada banyak interaksi yang mereka lakukan dengan penduduk pribumi Irian pada saat itu.

Selain itu pula ada pula ekpedisi-ekspedisi ilmiah yang diadakan oleh berbagai badan ilmu pengetahuan. Perjalanan penyelidikan ilmiah yang pertama di pimpin oleh Prof. C. E. A. Wichman dan diselengarakan oleh Maatschappij ter Bevordering van het Natuurkunding Onderzoek der Nederlandsche Kolonien. Ekspedisi-ekspedisi ilmiah ini lebih banyak berhubungan dengan penduduk pribumi setempat yang menarik perhatian para sarjana. Para sarjana ini mempelajari cirri-ciri jasmaniah (fisik) serta tata cara kehidupan penduduk pribumi yang mereka jumpai sehingga ekspedisi-ekspedisi ilmiah ini lebih lama menempat di daerah-daerah tertentu daripada ekspedisi militer.
Yang paling dianggap berpengaruh adalah zending, atau penyebaran agama nasrani di Irian Barat. Sejak pertengahan abad ke 19, yaitu tahun 1855, sejumlah penyiar agama nasrani yang senantiasa bertambah jumlahnya menggunakan Irian Barat sebagai tempat pekerjaan mereka. Ini ditenggarai dengan berhasil dikristenisasikannya daerah Irian bagian utara oleh protestan, dan Irian bagian selatan oleh Katolik. Hal ini tentu saja mengubah pola hidup masyarkat pribumi dalam hal kepercayaan. Mereka diajarkan untuk hidup dalam norma-norma kristiani dan meninggalkan kebiasaan lama mereka untuk memuja nenek moyang mereka. Bisa dikatakan golongan penyiar agama inilah yang paling efektif merubah kebudayaan masyarakat pribumi oleh karena intensifitas mereka yang sangat lama dan mendalam dalam berhubungan dengan masyarakat Irian, sehingga dapat mengubah pola kepercayaan mereka.
Disini dapat ditarik sebuah kesmpulan bahwa penyiar agama adalah golongan yang paling efektif dalam merubah struktur kepercayaan dan norma-norma masyarakat pribumi di Irian Barat. Setelah itu, ada juga perubahan yang dilakukan oleh pegawai-pegawai pemerintahan VOC yang tinggal di Irian Barat pada saat itu. Orang-orang ini yang kemudian membentuk sistem kemasyarakatan seperti perkampungan yang dibangun disekitar perumahan pegawai tersebut dalam rangka menjaga keamanan orang-orang Belanda yang notabene saat itu baru tinggal di daerah Irian dan belum mengenal daerah tersebut secara utuh. Mereka juga membuat regulasi hokum yang didasarkan pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana Belanda dan menghapus sistem hukum adat masyarakat setempat. Mereka juga mulai menerapkan system tanam paksa pada masyarakat pribumi di Irian Barat.
Namun tidak semua daerah dapat dikuasai oleh pemerintah Belanda saat itu. Hanya sebagian wilayah yang telah dapat dijangkau oleh fasilitas kendaraan yang ditempati oleh para pegawai VOC tersebut. Dan disanalah para penduduk pribumi banyak mengalami perubahan dalam system kerja, hukum, ataupun agama. Banyak diantara mereka yang mulai terbiasa dengan pola hidup yang dibawa oleh pegawai VOC tersebut. Lain halnya dengan masyarakat yang tak terjangkau oleh tangan-tangan penjajah. Mereka tak sedikitpun terpengaruh dengan perubahan yang telah berlalu cepat dan seakan mereka tetap tenang hidup dalam kehidupan primitif mereka di pedalaman lembah-lembah di Irian Barat. Mereka terkesan terisolir dari dunia luar dan tak tersentuh peradaban di zaman itu.

Sikap Orang Irian Barat Terhadap Orang Kulit Putih
Pada umumnya dapat dikatakan sebagian besar orang Irian Barat menghadapi perubahan zaman yang berlangsung dengan sangat cepat itu, dengan perasaan yang kurang puas. Adapun yang sangat penting yang dapat digarisbawahi adalah, bahwa perasaan kurang puas itu ditujukan kepada pihak yang belum lama yang lalu berkuasa di wilayah itu, adalah pemerintah Belanda pada khususnya dan orang kulit putih pada umumnya. Sebagian besar orang Irian Barat pada dasarnya memang mempunyai sikap benci atau acuh tak acuh kepada bangsa Belanda.
Kesengsaraan yang dirasakan oleh masyarakat pribumi Irian pada saat itu menyebabkan mereka memilih jalan kebatinan dalam rangka pencarian kebahagiaan. Hal ini dikarenakan mereka ingin sejenak melupakan kemiskinan, kesengsaraan yang diakibatkan Belanda pada kehipdupan mereka, Dan mereka mendirikan gerakan gerakan kebatinan seperti yang dilakukan oleh orang Muju dari desa Klapa yang mengajarkan kepada masyarkatnya bahwa suatu saat orang kulit putih itu akan pergi dari tanah Irian. Sikap antipati terhadap orang kulit putih ini diindikasikan menjadi sebuah gerakan politik dalam rangka melawan kolonialisme yang saat itu di lakukan oleh Belanda.
Gerakan-gerakan ini berbasis pada kepercayaan animisme, dimana ritus keagamaan menjadi sangat penting. Bahkan dalam satu upacara, mereka mabuk bersama untuk dapat merasakan sejenak uthopia tentang kebahagiaan yang menjadi tujuan utama mereka. Dan pemimpin mereka disini disimbolkan sebagai pesuruh tuhan untuk mengembalikan Irian menjadi seperti sebelum para penjajah itu datang. Dan pada akhirnya, semua gerakan kebatinan ini mengandung banyak unsur-unsur kepercayaan kepada ilmu gaib yang tergambar dalam dogma-dogma gerakan mereka meskipun bertujuan politis untuk meraih kemerdekaan dari penjajah Belanda.
Gerakan-gerakan ini diindikasikan sebagai tanda bahwa sebenarnya rakyat Irian tidak lagi ingin dikuasai oleh Belanda. Mereka menginginkan kemerdekaan dan kebahagiaan seperti ketika mereka belum dijajah oleh Belanda. Dan hal ini semestinya dapat diambil sikap oleh pemerintah Indonesia untuk mengembalikan Irian Barat pada pangkuan Republik Indonesia. Pengetahuan tentang gejala-gejala kemasyarakatan yang mempunyai latar belakang luas dalam alam pikiran dan kebudayaan suku-suku bangsa penduduk Irian Barat pada khususnya, memang sangat penting, mengingat bahwa pada saat itu akan bertambah erat hubungan antara penduduk pribumi Irian Barat dengan orang-orang Indonesia lainnya. Kalau pengetahuan itu dapat kita gunakan secara bijaksana akan amat menguntungkan kita semuanya dalam rangka pemersatuan negara Republik Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s