Galeri

“Orang Rimba : Sebuah Identitas Yang Terampas”

I. Siapakah itu orang rimba?
Sering kita mendengar tentang istilah suku anak dalam sebagai penduduk asli hutan-hutan pedalaman di Jambi. Namun kita tidak mengetahui bahwa nama suku bangsa tersebut sesungguhnya adalah pemberian pemerintah. Orang rimba adalah istilah yang jarang kita dengar. Namun nama ini adalah nama yang biasa disebut oleh sukubangsa tersebut. Lalu terbenak satu pertanyaan bagi kita, siapakah orang rimba itu?
Orang Rimba, atau biasa disebut dengan Orang Kubu atau Suku Anak Dalam adalah suatu kelompok suku bangsa di Jambi, Sumatera. Mereka digolongkan sebagai sukubangsa minoritas, yaitu golongan sosial yang mempunyai kekuatan lemah sehingga tidaj mampu mempengaruhi sistem sosial masyarakat yang ada di wilayahnya (Suparlan, 2004: 115). Sebagai sukubangsa minoritas, Orang Rimba mengalami perlakuan berbeda dibandingkan dengan suku bangsa lain. Mereka menjadi korban diskriminasi kolektif masyarakat luas yang ada di Jambi. Proses diskriminatif tersebut, misalnya, dapat dilihat dari perlakuan dan pandangan masyarakat Jamabi terhadap orang Rimba.
Masyarakat Jambi mengenal Orang Rimba atau Orang Kubu identik dengan kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan kehidupan yang terisolasi, baik secara geografis maupun secara budaya. Perlakuan diskriminatif tersebut dapat diamati dalam kata-kata umpatan umum yang diucapkan oleh masyarakat Melayu Jambi, seperti “Kubu kau” atau “macam Kubu kau”. Umpatan ini lazim ditujukan kepada seseorang yang dianggap keras kepala atau tidak mau mengikuti aturan, misalnya seseorang ayah mengatakan anaknya dengan umpatan “Kubu” ketika anaknya membandel tak mau mandi sore karena masih ingin bermain dengan temannya. Bahwa Orang Rimba adalah orang yang bandel dan tidak mau mengikuti aturan merupakan pemahaman umum yang ada dalam masyarakat Jambi.
Apa yang terjadi pada Orang Rimba merupakan gambaran nyata perlakuan dominasi sukubangsa mayoritas yang ada di Asia Tenggara terhadap kelompok minoritas sebagaimana yang diungkapkan Lim Thee Ghee dan Alberto G. Gomes. Selama berabad-abad sukubangsa minoritas di Asia Tenggara mengalami proses penaklukan dan dominasi baik oleh kekuatan kolonial maupun oleh kelompok masyarakat lain, misalnya pada kasus pemukiman, proses pemiskinan budaya dan sosial, serta penceraiberaian mereka sebagai akibat tuntutan dunia luar atas pemanfaatan sumber daya alam. Mereka tersingkir dari dunia atau hutannya oleh proses industry yang kadang didukung oleh negara dengan alasan ingin memajukan dan memodernkan mereka (Ghee dan Gomes, 1993: 3).
II. Persebaran Orang Rimba Di Jambi
Secara ekologis, Orang Rimba hidup tersebut tinggal di tiga wilayah berbeda, yaitu di bagian barat Propinsi Jambi (sekitar jalan lintas timur Sumatera), kawasan Taman Nasional (TN) Bukit 12, dan yang tinggal dibagian utara Propinsi Jambi, terutama di Taman Nasional Bukit 30 (berada di perbatasan antara Riau-Jambi). Jumlah keseluruhan Orang Rimba pada tahun 1998 adalah 2669 orang (Sandbukt dan Warsi, 1998: 16).
Berbeda dengan orang-orang Rimba yang ada di bagian utara dan barat Propinsi Jambi, Orang rimba di Bukit 12 sudah dikenal sejak pemerintahan kesultanan Jambi. Mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang menjadi kekuasaan marga Air Hitam dengan pengakuan dalam seloka adat yang berbunyi Ujung Waris Tana Garo, Tana Bejenang Air Hitam, yang berarti ‘daerah ujung waris di Desa Tanah Garo dan daerah milik jenang yaitu Air Hitam’. Seloka adat ini mewajibkan Orang Rimba Bukit 12 bertanggung jawab dan berkewajiban sesuai dengan kedudukannya sebagai warga kekuasaan dari marga Air Hitam, yaitu memenuhi jajah kepada pihak kesultanan Jambi (berajo). Kedudukan ini membuat peran dan fungsi Orang Rimba yang berada di Bukit 12 berbeda dengan Orang Rimba yang berada di bagian utara dan Barat Propinsi Jambi yang dikenali sebagai orang-orang sisa. Sebagai orang-orang sisa, mereka tidak mengenal hokum atau kewajiban yang ada di kesultanan (Tideman, 1938: 15).
Orang Rimba yang hidup di kawasan Bukit 12 berdiam dan mengembara di hutan daratan rendah antar Sungai Batanghari dan Sungai Trambesi. Mereka hidup di antara anak sungai yang ada di kawasan Bukit 12 tersebut. Jumlah mereka sekitar 1046 orang dan dapat digolongkan dalam tiga kelompok sebaran, yaitu Orang Rimba yang berada di Air Hitam, di Makekal dan di Kesajung (Sandbukt dan Warsi, 1998: 16). Pengelompokan ini berdasarkan cakupan wilayah pencarian yang dibatasi oleh sungai di kawasan Bukit 12. Dianatara ketiga kelompok ini, kelompok Air Hitam merupakan masyarakat Orang Rimba yang paling bersentuhan langsung dengan orang luar atau dunia luar melalui berbagai proyek transmigrasi Hitam Hulu dan perkebunan kelapa sawit. Poryek ini tidak hanya menghilangkan sumber daya hutan yang terdapat di daerah dataran dan rawa dekat bukit, tetapi juga mengubah lahan garapan Orang Rimba. Kebanyakan Orang Rimba yang hidup di kawasan Air Hitam melakukan kegiatan berladang di lahan yang tersisa di sekitar perbatasan taman nasional (Sandbukt dan Warsi, 1998: 16).
Sementara itu Orang Rimba di daerah utara Propinsi Jambi terpusat di kawasan Taman Nasional Bukitasional Bukit0. Mereka berasal dari Orang Rimba daerah Kuamang Kuning (perbatasan Jambi-Sumatera Barat), umumnya tinggal di daerah aliran Sungai Batang Hari (Sungai Gelumpang dan Sungai Sumai) dan anak sungai yang mengalir ke Sungai Indragiri di Riau (Sungai Cinaku dan Sungai Peranap). Mereka berjumlah 364 orang dengan 68 KK, terbagi kedalam 10 kelompok yang hidup berpindah-pindah, namun dengan masa tinggal yang lama (Sandbukt dan Warsi, 1998: 16).
III. Dominasi Orang Melayu atas Orang Rimba
Sebagai kelompok sukubangsa minoritas, Orang Rimba mengalami perlakuan yang berbeda. Mereka juga merasakan diri sebagai korban dari diskriminasi kolektif dari masyarakat luas yang ada di Jambi. Proses diskriminatif tersebut misalnya dapat kita lihat dalam perlakuan dan pandangan masyarakat umum di Jambi terhadap Orang Rimba. Oleh masyarakat Jambi, Orang Rimba dikenal sebagai suatu kelompok sukubangsa yang identik dengan kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan kehidupan yang terisolasi, baik secara geografis maupun secara budaya. Bayangan bahwa Orang Rimba adalah orang yang bandel dan tidak mau menuruti aturan yang adalah pemahaman yang nyata ada dalam masyarakat Jambi.
Dalam hal ini Orang Rimba mengalami proses dominasi oleh Orang Melayu, sebagai kelompok sukubangsa mayoritas di Jambi. Proses dominasi ini mereka alami baik secara secara budaya, ekonomi, dan politik, serta dilakukan sejak berabad-abad lamanya. Dan proses dominasi ini juga tercermin dalam struktur sosial yang mengikat kedua kelompok sukubangsa tersebut (Sandbukt 2000:39). Orang-orang Melayu mempekerjakan Orang Rimba untuk mencari sumber daya di hutan dan menyadap karet yang dimiliki oleh mereka. Orang-orang Melayu memanfaatkan kemampuan Orang Rimba tersebut untuk mendapat komoditi sumber daya alam melalui perangkat-perangkat aturan yang mengatur posisi dan tugas masing-masing orang serta kelompok sukubangsa yang bersangkutan. Aturan-aturan ini didasarkan pada prinsip utama kesultanan Melayu Jambi yang berprinsip serah naik jajah turun dan jajah naik penuntung turun. Prinsip pajak yang bertujuan untuk mempertegas alur distribusi barang (komoditas dan pajak) ,baik dari daerah hulu (pedalaman) ke daerah hilir (pesisir) maupun sebaliknya.
Aturan-aturan tersebut diatas kemudian menjadi acuan dimana didalamnya berisi bagaimana hubungan status dan peran sebaiknya dijalankan oleh kedua belah pihak dalam berinterkasi secara sosial. Aturan-aturan tersebut kemudian terserap dalam struktur hubungan antara Orang Rimba dan Orang Melayu yang membentuk polanya, serta terwujud dalam pranata-pranata sosial dan ekonomi yang ada secara mapan. Dalam konteks hubungan antar-sukubangsa tersebut, sifat askriptif kedua kelompok sukubangsa pada akhirnya kemudian membentuk suatu tatanan struktur hubungan yang sesuai dengan status asal tersebut dimana dapat kita pandang sebagai hubungan yang tidak sejajar dan cenderung eksploitatif (Eidheim 1980:43).
Dasar status kedua kelompok sukubangsa ini, Orang Rimba dan Orang Melayu, kemudian menjadi suatu ciri yang sifatnya askriptif yang membentuk hubungan yang ternyata menurut saya sifatnya dominan-minoritas. Dalam artian suatu hubungan yang tidak seimbang dan sejajar. Hubungan antar-sukubangsa sendiri adalah hubungan yang dihasilkan dari adanya hubungan antara orang-orang atau kelompok-kelompok yang berbeda sukubangsanya. Dalam hubungan ini, masing-masing pihak saling diidentifikasi dan mengidentifikasi diri mereka masing-masing satu sama lainnya dengan mengacu pada sukubangsa dan kebudayaan sukubangsanya. (Suparlan 2004:VII).
Nampak misalnya bagaimana mereka memandang rendah kebudayaan Orang Rimba. Keterikatan Orang Kubu terhadap adat tradisinya yang kuat dianggap sebagai salah satu faktor utama yang menyebabkan mengapa Orang Kubu menjadi miskin, bodoh, dan terkebelakang. Tradisi melangun, pola hidup nomaden, dan budaya malas dianggap sebagai pola kebudayaan Orang Kubu yang menghambat pembangunan. Menurut Depsos salah satu ukuran kemajuan kehidupan masyarakat adalah kehidupan yang stabil dimana diwujudkan dalam bentuk pola pemukiman yang menetap. Demikian pula dengan tradisi nomaden Orang Kubu yang berpindah-pindah mencari sumber daya alam yang ada di dalam hutan. Bagi Depsos dengan tradisi seperti ini sulit bagi pemerintah untuk memajukan kehidupan Orang Kubu dimana salah satu dasarnya adalah bagaimana dapat memantapkan mereka dalam pemukiman menetap terlebih dahulu (Sitepu.1993:2-3).
IV. Asimilasi Karena Dominasi Orang Melayu
Dalam proses dominasi tersebut, perlakuan kelompok dominan terhadap kelompok sukubangsa minoritas menunjukkan sikap yang berbeda-beda. Perlakuan yang berbeda-beda ini juga memunculkan respon-respon kelompok sukubangsa minoritas yang berbeda pula (Alberto Gomes 1993:3) Mengutip Louis Wirth, dalam proses hubungan sosial antara dominan-minoritas akan memunculkan respon kelompok minoritas yang berbeda-beda berdasarkan atas perlakuan-perlakuan masyarakat luas sebagai golongan dominan terhadap golongan minoritas (Wirth 1945:347). Salah satunya adalah pilihan untuk mengassimilasi diri terhadap kelompok sukubangsa yang lebih dominan. Mereka akan berusaha mengasimilasikan dirinya (assimilation) menjadi seperti golongan dominan, dengan cara menghilangkan ciri-ciri yang menjadi atribut identitas minoritas dan menggantinya dengan ciri-ciri yang merujuk kepada kelompok dominan;
Dan nampaknya pilihan mengasimilasikan diri (assimilation) menjadi seperti golongan dominan adalah pilihan orang-orang rimba yang memilih untuk bediom yaitu dengan cara menghilangkan ciri-ciri yang menjadi atribut identitas minoritas dan menggantinya dengan ciri-ciri yang merujuk kepada kelompok dominan. Upaya Orang Rimba untuk berubah identitas adalah bagian dari proses asimilisi mereka kepada kebudayaan mayoritas Melayu yang dianggap lebih tinggi. Mereka mencoba menghilangkan atribut-atribut atau ciri-ciri ke-Rimba-annya. Namun alih-alih identitas mereka sebagai Orang Rimba menjadi hilang melebur pada identitas mayoritas, malahan muncul suatu identitas baru Orang Rimba yang mempunyai atribut berbeda dengan sebelumnya. Identitas Orang Rimba yang membawa atribut ”modern” dan ”beradab”, dalam kaca mata masyarakat luas. Mereka sendiri sadar bahwa tidak mungkin sepenuhnya diterima oleh orang luar dan terlebih oleh masyarakat Melayu. Kalau begitu mengapa tidak dimunculkan suatu identitas Orang Rimba yang berbeda. Pengaktifan identitas sukubangsa tersebut membawa implikasi kepada pengeksploitasian dan penggunaan simbol-simbol dan perilaku budaya sesuai dengan situasi yang dihadapi dan dapat dimanipulasi untuk kepentingan-kepentingan ekonomi, politik, dan sosial sang aktor.( Mulyana.2000:156).
Hal ini berbeda misalnya seperti yang dilakukan oleh kelompok Orang Rimba Bukit 12 lainnya dimana mereka memutuskan untuk tetap mempertahankan identitasnya yang lekat kaitannya dengan kehidupan didalam hutan. Baik yang dilakukan secara fisik, dengan menjaga jarak dan tinggal jauh ke dalam hutan, atau melakukan pengucilan secara simbolik seperti yang dilakukan kelompok Tarib dengan tetap menjaga eksistensi simbol-simbol atau atribut Orang Rimba sesuai dengan nenek moyang. Paling tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya tentang kebudayaan Orang Rimba, seperti diwariskan oleh kedua orangtuanya kepadanya. Dengan memerankan identitasnnya dengan baik, Orang Rimba dapat meningkatkan status atau posisi sosialnya dalam masyarakat yang lebih luas.
V. Efek Modernisasi: Orang Rimba Tanpa Hutan
Orang Rimba yang hidup di wilayah barat Propinsi Jambi atau sekitar jalan lintas timur Sumatra adalah contoh kelompok Orang Rimba yang dapat dikategorikan sebagai Orang Rimba yang terlepas dari hutannya karena memang mereka hidup dalam kawasan tanpa hutan. Mereka hidup diantara perkebunan sawit dan perkebunan karet milik para transmigran dan penduduk desa. Hidup mereks cukup mengenaskan jika dibandingkan dengan kelompok Orang Rimba lainnya.Mereka terusir dari tanahnya, seperti kasus Orang Kubu didaerah Batuampar, Kabupaten Batanghari. Mereka diusir oleh PT IKU (Induk Kebun Unggul) keluar meninggalkan lokasi pemukimannya (Independent.26/7/1998).
Sadar tidak sadar, Orang Rimba harus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan alam yang baru. Tidak mengherankan jika mereka mulai kesulitan untuk mencari bahan makanan di hutan dan akhirnya harus terpaksa mencari makanan di perkampungan Melayu (Independent,14/10/1998). Kualitas hidup merekapun juga semakin lama semakin juga menurun. Hal ini nampak misalnya dalam kasus-kasus kelaparan dibeberapa kantong kelompok Orang Kubu (Independent,31/7/1998) atau dalam catatan Bank Dunia tahun 1991 tentang adanya temuan sekelompok Orang Kubu yang menjadi pengemis dijalanan dan mengelendang dipemukiman-pemukiman masyarakat karena hilangnya hutan sebagai tumpuan hidup mereka (Chatterjee,1994).
Berdasarkan Kevin Bohmer, seorang analis Bank Dunia, kawasan hutan di Propinsi Jambi telah banyak mengalami perubahan karena proses deforestrasi (Boehmer 1998:1-2). Berdasarkan catatan Bohmer pada tahun 1970 perubahan lingkungan alam di Propinsi Jambi berubah secara drastis setelah adanya program pembukaan lahan untuk menjadi lahan hutan produksi (HTI), pemukiman transmigrasi, pengembangan pertanian perkebunan, dan proyek peningkatan infrastruktur. Dampak dari kegiatan pembangunan tersebut adalah kebakaran hutan yang tak terkontrol dan pembukaan lahan hutan dilakukan terus-menerus sehingga menyebabkan penurunan kualitas lingkungan di dataran rendah Jambi.
Bisa dibilang kelompok Orang Rimba yang tinggal di bagian barat propinsi Jambi hidup tersebar di sejumlah kawasan bagian dalam antara anak-anak Sungai Batang Hari, Sungai Tembesi, Batang Merangin, dan perbatasan Sumatra Selatan. Berbeda dengan kondisi alam hutan dataran rendah yang ada di propinsi Jambi bagian utara dan kawasan Bukit 12, hutan yang ada dibagian barat Jambi ini telah hilang tergantikan oleh perkebunan sawit, lokasi transmigrasi, dan perkebunan karet masyarakat Melayu. Pola perkebunan karet yang ekspansif turut pula memperburuk Degradasi hutan yang cukup luas mengakibatkan Orang Rimba terdesak hidupnya. Mereka tidak mempunyai pilihan dalam berpencaharian. Bagi mereka yang masih mempunyai lahan hanya mengandalkan kepada hasil karet semata.
Tujuan deforestrasi ini adalah untuk mengajak Orang Rimba yang masih dalam keadaan keterbelakangan, baik itu berupa tempat mereka maupun kebiasaan-kebiasaan lama menjadi lebih baik baik dan menyadarkan mereka ini agar berubah dari kebiasaan yang lama menjadi lebih baik melalui program pengembangan sawit. Depsos melihat sawit adalah salah satu kegiatan pembangunan yang dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Depsos memberikan kontribusi untuk pembinaan dan jadup (jatah hidup) untuk penghuni pemukiman selama setahun, pihak Deptrans berkontribusi untuk pembangunan rumah, dan pihak PT. SAL berkontribusi untuk lahan pemukiman dan kebun sawit yang siap panen.Sarana lain juga dibangun diperkampungan ini yaitu surau dan balai pertemuan. Untuk pembinaan depsos mempekerjakan 2 orang guru agama dikampung ini.
Dan memang nampaknya program “pemberadaban” ini cukup berhasil. Mereka akhirnya bersedia meninggalkan semua atribut-atribut yantg berkenaan dengan dunia Orang Rimba dan menggantikannya dengan atribut-atribut baru. Atribut-atribut baru tersebut antara lain dengan mengganti pola pencarian, dari berburu dan mencari lauk di hutan berganti dengan terlibat dalam perkebunan sawit. Mereka tidak mau dan menabukan diri untuk mencari ubi dihutan atau berburu binatang untuk sekedar makan lauk. Kemudian mengganti pola hidup yang disesuaikan dengan layaknya kehidupan orang desa lainnya. Yang paling kentara dari atribut ini adalah dengan meniru semua atribut-atribut perilaku orang desa umumnya. Mulai dari cara berpakaian, pola kehidupan sehari-hari, pola hidup bermasyarakat, hingga cara mencari hiburan. Jadi tidak heran jika anda menemui banyak ojek Orang Rimba yang berseliweran. Apalagi jika hari pasar didesa setempat tiba. Ojek-ojek Orang Rimba bersaing memperebutkan pelanggan. Sekilas nampaknya aneh. Seperti memutar kilas balik imaji kita tentang profil Orang Rimba yang hidup mati-matian membertahankan hutannya dan mencoba bertahan hidup memelihar adat nenek moyangnya.
VI. Kesimpulan
Moderniasi yang dipaksakan oleh pemerintah membuat kehidupan Orang Rimba semakin terhimpit dan tentunya hal ini dapat menggangu eksistensi mereka sebagai satu sukubangsa. Asimilasi adalah bukti nyata bagaimana Orang Rimba terdominasi oleh kekuatan Orang Melayu Jambi. Deforestrasi yang dilakukan oleh pemerintah menjadi factor kuat tersingkirnya Orang Rimba dari kehidupan arif mereka. Banyak yang diantaranya memilih untuk menjadi “suku yang direstui negara”, yakni keluar dari identitas kekubuan mereka dan ikut budaya Orang Terang atau Orang Melayu. Dari contoh kasus Orang Rimba ini, dapat diambil kesimpulan bahwa negara bukan melindungi sukubangsa minoritas, namun terkesan ingin membunuh identitas mereka secara perlahan dengan jalan modernisasi. Mengutip pernyataan Pasurdi Suparlan “Negara sendiri yang kita harapkan sebagai pengayom semua kelompok sukubangsa yang ada di Indonesia ternyata juga turut serta memarginalisasi kelompok suku-suku bangsa minoritas ini dengan kebijakan-kebijakannya yang tidak berpihak pada mereka. Kelompok sukubangsa minoritas dapat dilihat sebagai suatu golongan sosial yang mempunyai kekuatan yang lemah sehingga tidak mampu untuk mempengaruhi sistem sosial masyarakat yang ada diwilayahnya” (Suparlan 2004:115).

Komentar ditutup.