Galeri

Apa yang Kurang di Wall Street? Antropolog!

Sebuah sudut di bursa saham New York

Krisis ekonomi di Amerika Serikat telah membuat frustrasi banyak orang. Mereka mencoba mencari cara bagaimana keluar dari kemelut yang berkepanjangan ini tetapi tak ada jalan mudah. Sebagian menyalahkan kapitalisme yang makin liar dan tamak, lalu berencana menduduki Wall Street lewat unjuk rasa. Ada yang menyalahkan sistem pendidikan yang dianggap tak lagi cukup kuat mendorong daya saing negara yang dulunya disebut adidaya itu.

Dalam suasana frustrasi dan panik itu, tersebutlah Rick Scott, gubernur negara bagian Florida, yang belum lama ini melansir pernyataan yang kontroversial, membuat telinga banyak orang memerah, termasuk telinga para redaktur majalah bergengsi The Economist. Majalah ini kemudian menurunkan sebuah artikel menggarisbawahi pernyataan Scott di edisi online-nya, 24 Oktober 2011.

Gubernur Florida itu dikutip oleh berbagai media massa mengatakan akan mengurangi alokasi dana bagi rumpun ilmu liberal arts di universitas-universitas di negara itu dan mengalihkannya ke rumpun ilmu sains, teknologi, rekayasa dan matematika. Secara khusus, Scott juga berulang-ulang mengejek antropologi sebagai ilmu yang kurang memberi sumbangan bagi perekonomian.

Pada suatu kesempatan, sebagaimana dikutip oleh The Economist, Scott berkata dalam wawancara radio: “Anda tahu, kita tidak lagi membutuhkan antropolog di negeri ini. Bagus-bagus saja jika ada orang ingin meraih gelar di bidang antropologi, tetapi kita tidak membutuhkan mereka di sini. Saya ingin membelanjakan dana kita untuk mendorong orang mendapatkan gelar di bidang sains, teknologi, rekayasa, matematika sehingga ketika mereka menyelesaikan pendidikan, mereka segera mendapatkan pekerjaan.”

Rick Scott

Pada kesempatan lain, di sebuah forum yang dihadiri kaum bisnis di Tallahassee, ia berkata, “Apakah Anda ingin pajak yang Anda bayar digunakan untuk mendidik orang yang tak kan dapat mendapatkan pekerjaan di bidang antropologi? Saya tidak.”

The Economist tidak menjelaskan kenapa Scott, yang merupakan gubernur dari Partai Republik itu begitu ‘anti’ pada antropologi. Ia sendiri menyandang gelar sarjana muda di bidang administrasi bisnis dan gelar magister di bidang hukum. Apakah ia sedang menyindir ibunda Barack Obama yang antropolog?

Bila kita bertanya kepada Wikipedia, liberal arts menurut ensiklopedia maya ini, mengacu kepada suatu kurikulum yang memberi para mahasiswanya pengetahuan umum (bukan pengetahuan bersifat khusus) yang memampukan mereka mengembangkan kapabilitas intelektual dan berpikir rasional. Ini ‘dilawankan’ dengan disiplin ilmu lain yang bersifat profesional, vokasional dan teknikal, yang kurikulumnya lebih menekankan spesialisasi. Barangkali kalau kita mencoba mengikuti pola berpikir Scott, ia melihat bahwa liberal arts tersebut kurang mempunyai fungsi praktis. Atau dalam pengertian yang umum di Indonesia, liberal arts itu bukan ilmu terapan dan karenanya susah dicarikan link and match-nya dengan user di dunia nyata yakni dunia korporasi dan industri.

Dari sudut pandang pasar tenaga kerja, tentu apa yang dikatakan oleh Scott ada benarnya. Bagaimana pun pendidikan terlalu berharga untuk dimubazirkan bila hanya menghasilkan orang-orang yang tidak dapat diterima pasar. Tidak dapat dipungkiri pula, walau banyak alasan lain yang bersifat idealistik, kebanyakan orang tua memang menyekolahkan anak-anak dengan harapan nantinya dapat bekerja dengan baik dan layak.

Tetapi cara pandang Scott tidak sepenuhnya benar, paling tidak menurut The Economist, karena dalam kenyataan persoalan tidak sesederhana itu. The Economist memilih berseberangan dengan Scott terutama karena sang gubernur telah terlalu banyak menyudutkan antropologi –dan tentu liberal arts pada umumnya— dengan menggenaralisasi samasekali tidak mempunyai sisi terapan, yang dalam hemat The Economist, terlalu menyederhanakan hal.

Majalah itu kemudian mengutip pendapat Michael Crow, presiden Universitas Negeri Arizona yang berkata demikian: “Untuk mengalahkan tantangan yang kompleks di hadapan negara kita dan dunia dewasa ini, dibutuhkan lebih dari sekadar keahlian dalam sains dan teknologi. Kita harus juga mendidik individu-individu mampu memberi partisipasi madani yang berguna, berekspressi secara kreatif dan mempunyai wawasan yang cukup untuk sanggup berkomunikasi secara lintas batas. Potensi para lulusan universitas untuk berhasil secara profesional dan memberikan sumbangan penting bagi perekonomian tergantung pada pendidikan yang isinya lebih dari sekadar kalkulus.”

Lebih lanjut, Crow mengatakan, “Kurikulum yang dirancang untuk merespon permintaan dunia kerja haruslah diimbangi dengan adanya kesempatan bagi para mahasiswa untuk membangun kapasitas mereka dalam berpikir kritis, analitis, kreatif dan juga dalam hal kepemimpinan, yang kesemuanya itu dapat kita pelajari dari spektrum disiplin ilmu yang luas, yang sering juga diasosiasikan dengan liberal arts.”

Gillian Tett

Melengkapi argumen Michael Crow tersebut, The Economist mengajukan dua contoh untuk lebih mengkonkritkan ketidak-validan pendapat Scott. Menurut The Economist, sejumlah analisis terbaik mengenai krisis finansial yang terjadi sepanjang 2007-2008 hingga kekisruhan yang terjadi di Wall Street hari-hari belakangan ini, datang dari analis Financial Times bernama Gillian Tett. Sejak tahun 2005, Tett telah memberi peringatan yang jelas tentang bahayanya utang yang dijamin oleh obligasi dan tentang kemungkinannya menjadi ledakan krisis, seperti sekarang. Dan tahu apa latar belakang pendidikan Gillian Tett? Ia penyandang gelar Ph.D di bidang antropologi. Bandingkan dengan mereka yang berada di belakang terciptanya piranti keuangan seperti yang lazim pada transaksi derivatif yang kompleks itu. Umumnya mereka terdidik dalam disiplin ilmu fisika dan matematika!

Sebuah tulisan yang mengetengahkan profil Gillian Tett, dikutip pula oleh The Economist sebagai berikut:

Tett memulai mengamati dengan seksama perihal perkreditan kira-kira lima tahun lalu. “Setiap orang (saat itu) mengarahkan perhatian pada Citibank dan bicara tentang M & A (merger dan akuisisi) dan pasar modal, bicara tentang hal-hal glamour dan status bergengsinya Citibank. Saya masuk ke sebuah sudut yang dengan penuh gairah saya yakini dimana telah terjadi suatu hal yang revolusioner tetapi terabaikan. Dan saya mencoba menggambarkan secara nyata apa yang sedang terjadi.”
Tetapi waktu itu tidak ada yang sudi mendengar. “Semua orang memicingkan mata. Bukan hanya tim kami, bukan hanya saya, banyak orang telah mengingatkan bahaya yang akan tiba, walau pun saya sendiri tidak mengharapkan bahaya yang datang itu memang sebesar yang terjadi sekarang.”

Tett bicara dengan kesabaran yang penuh tetapi juga dengan antusiasme seorang ‘penggambar dunia masa depan,’ suatu hal yang mungkin didapatkannya dari belajar antropologi sosial ketika kuliah di Cambridge dulu. “Saya mulai berpikir bahwa antropologi merupakan latar belakang yang brilian untuk memahami sains,” kata dia.”Pertama, kita dilatih untuk melihat masyarakat atau budaya yang bekerja secara holistik sehingga kita dapat melihat bagaimana semua hal bergerak satu sama lain. Dan kebanyakan orang di Citibank tidak melihat hal itu. Mereka demikian terspesialisasi, demikian sibuk, sehingga mereka hanya melihat pada hal sempit yang jadi bagian tugasnya. Dan satu alasan mengapa kita kini terperangkap pada ekonomi yang berantakan ini ialah karena mereka begitu sibuknya dalam hal-hal kecil sehingga mereka gagal total memahami bagaimana hal-hal kecil itu berinteraksi dengan keseluruhan masyarakat.”

“Di sisi lain, jika Anda datang dengan latar belakang antropologi, Anda akan selalu mencoba meletakkan soal keuangan dalam konteks budaya. Para bankir gemar membayangkan uang dan motif mencari keuangan sebagai hal yang universal. Mereka menganggap hal itu sudah darisononya begitu, sesuatu yang given dan sangat tidak personal. Padahal tidak. Apa yang dilakukan oleh manusia di dunia keuangan semuanya merupakan budaya dan interaksi.”

Contoh lain yang dikemukakan oleh The Economist adalah Joris Luyendijk, wartawan Belanda berlatar belakang antropologi yang tahun lalu melansir sebuah buku kecil yang menganalisis budaya suku di parlemen Belanda dan bagaimana media di negeri itu mengungkapkannya. Luyendijk juga sedang membuat studi tentang Citibank, dewasa ini.

Dengan kedua contoh ini The Economist ingin mengatakan bahwa studi tentang perilaku manusia yang sangat kompleks tetap sangat berguna dalam perekonomian. Antropologi memberikan pendekatan yang lebih teliti dan analisis yang lebih rendah kadar egosentrisnya. Hal seperti ini semakin relevan dalam persoalan yang kini dihadapi dunia, sehingga gubernur seperti Scott juga barangkali perlu mempelajarinya.

ciputat, 28 oktober 2011
© eben ezer siadari
http://www.writingforlife.net

Sumber: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/10/28/apa-yang-kurang-di-wall-street-antropolog/

2 responses to “Apa yang Kurang di Wall Street? Antropolog!

  1. mantap sekali ulasannya, hidup antropolog!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s