Galeri

Genjer – Genjer (Folksong of Banyuwangi People)

Apakah itu genjer?

Image Image

Ini yang harus terjelaskan secara jelas agar kita tak separuh-separuh memahaminya. Genjer (dibaca gènjèr) atau paku rawan (Limnocharis flava) adalah sejenis tumbuhan rawa yang banyak dijumpai di sawah atau perairan dangkal. Biasanya ditemukan bersama-sama dengan eceng gondok. Genjer adalah sumber sayuran “orang miskin”, yang dimakan orang desa apabila tidak ada sayuran lain yang dapat dipanen. Dalam bahasa internasional dikenal sebagai limnocharis, sawah-flower rush, sawah-lettuce, velvetleaf, yellow bur-head, atau cebolla de chucho. Nama “paku rawan” agak menyesatkan karena genjer sama sekali bukan anggota tumbuhan paku.

Terna tahunan yang dapat mencapai tinggi setengah meter ini mudah ditemukan di perairan dangkal seperti sawah atau rawa; rimpang tebal dan tegak, terbenam dalam lumpur; dauntegak atau miring, tidak mengapung (berbeda dari eceng gondok), tangkainya panjang dan berlubang, helainya bervariasi bentuknya; mahkota bunga berwarna kuning dengan diameter 1.5cm, kelopak bunga hijau.

Tumbuhan ini dapat menjadi gulma sawah yang serius jika tidak ditangani segera. Pemanfaatannya dapat membantu mengendalikan populasinya. Walaupun biasanya tidak intensif dibudidayakan, perbanyakan dapat dilakukan secara vegetatifwalaupun bijinya pun dapat ditanam. Tumbuhan ini berbunga sepanjang tahun.

Itu tadi mengenai tumbuhannya. Lalu apakah itu lagu Genjer – Genjer?

Perannya sebagai makanan rakyat miskin digambarkan dalam lagu populer berbahasa Osing yang diciptakan oleh seniman asal Banyuwangi, Muhammad Arief, pada tahun 1940-an, Genjer-Genjer. Para sekitar tahun 1942, berkembang lagu Kesenian Angklung yang terkenal berjudul “Genjer-Genjer”. Syair lagi ini diciptakan oelh M. Arif, seorang seniman pemukul alat instrumen Angklung. Berdasarkan keterangan teman sejawat almarhum Arif, lagu Genjer-Genjer itu diangkat dari lagu dolanan yang berjudul “Tong Alak Gentak”. Lagu rakyat yang hidup di Banyuwangi itu, kemudian diberi syiar baru seperti dalam lagu genjer-genjer. Syair lagu Genjer-Genjer dimaksudkan sebagai sindiran atas masa pendudukan Jepang ke Indonesia. Pada saat itu, kondisi rakyat semakin sesangsara dibanding sebelumnya. Bahkan ‘genjer’ (Limnocharis flava) tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa sebelumnya dikosumsi itik, namun menjadi santapan yang lezat akibat tidak mampu membeli daging. Menurut Suripan Sadi Hutomo (1990: 10), upaya yang dilakukan M Arif sesuai dengan fungsi Sastra Lisan, yaitu sebagai kritik sosial, menyidir penguasa dan alat perjuangan.

Setelah kemerdekaan Indonesia, lagu “Genjer-genjer” menjadi sangat populer setelah banyak dibawakan penyanyi-penyanyi dan disiarkan di radioIndonesia. Penyanyi yang paling dikenal dalam membawakan lagu ini adalah Lilis Suryani dan Bing Slamet. Sangking terkenalnya bahkan kemudian muncul pengakuan dari Jawa Tengah, bahwa lagu Genjer-Genjer ciptaan Ki Narto Sabdo seorang dalang kondang. Dalam sebuah tulisannya Hersri Setiawan, memberikan penjelasan tentang asal-muasal hingga lagu Genjer-Genjer menjadi terkenal.

Orde Baru: Salah Intepretasi Atau Hegemoni Rezim?

Selama rezim Orde Baru, lagu ini menjadi sangat “haram” dibawakan. Bahkan yang membawakan akan dituduh sebagai antek-antek PKI. Mungkin hal ini tidaklah salah pada saat rezim itu berkuasa, oleh karena hegemoni kekuasaan yang di pegang oleh Soeharto saat itu. Peristiwa Gerakan 30 Septemberpada tahun 1965yang melibatkan PKImembuat rezim Orde Baruyang anti-komunismemelarang disebarluaskannya lagu ini. Menurut versi TNI, para anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat menyanyikan lagu ini ketika para jendral yang diculik diinterogasi dan disiksa.

Ini merupakan bagaimana kekuatan dari hegemoni politik bisa mendangkal pengetahuan akan hal sebuah karya seni. PKI dan TNI berebut versi, pada versi PKI, ini lagu perjuangan mereka, dan pada versi TNI, ini merupakan lagu PKI yang “haram” untuk diperdengarkan pada masa Orde Baru. Yaa.. Lagu ini menjadi korban propaganda politik dan kekuasaan saat itu. Kedua belah pihak belum bisa melihat secara mendalam, sesungguhnya lagu ini ekspresi kebebasan bagi kaum miskin, karena makan saja pada waktu itu sudah sulit. Lagu ini sesungguhnya adalah lagu rakyat, bukan lagu bernuansa politik, jika kita melihatnya dari sudut pandang humanisme.

Sayapun tidak menyalahkan PKI yang mengangkat ini sebagai lagu perjuangan mereka. Namun yang saya sesalkan pada masa Orba, mereka meng-under-estimate-kan lagu ini, dan terkait dengan PKI yang mereka gambarkan kejam. Ini sungguh pembodohan sejarah yang disebarkan oleh seorang jendral besar Soeharto. Mestinya ia melihat kembali latarbelakang pembuatan lagu ini, siapa penciptanya, dan kenapa lagu ini sangat dekat dengan kaum miskin?! Mungkin dari sana pak Harto dapat memahami makna kerakyatan yang sesungguhnya, bukan kerakyatan-senjata (re: TNI) yang pada masa Orba ia pegang.

Yaa.. pak Harto pun telah mati membusuk didalam tanah, dan pengadilan pun telah tak lagi dapat menyentuhnya. Jadi mungkin kita harus memfokuskan diri untuk melihat lagu ini sebagai benda warisan budaya, yang telah menjadi bagian dari kehidupan rakyat Banyuwangi pada era 40an. Sejarah memang dapat dibelokkan sesuai rezim, namun apakah sebuah lagu rakyat harus pula menjadi korbannya?

Lirik lagu

Versi asli

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emak’e thole teko-teko mbubuti genjer
Emak’e thole teko-teko mbubuti genjer
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tolah-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar
Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar
Emak’e jebeng podho tuku nggowo welasah
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Setengah mateng dientas yo dienggo iwak
Setengah mateng dientas yo dienggo iwak
Sego sak piring sambel jeruk ring pelonco
Genjer-genjer dipangan musuhe sego

Terjemahan Bahasa Indonesia

Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Ibu si bocah datang memunguti genjer
Ibu si bocah datang memunguti genjer
Dapat sebakul dia berpaling begitu saja tanpa melihat ke belakang
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Ditata berjajar diikat dibeberkan di bawah
Ditata berjajar diikat dibeberkan di bawah
Ibu si gadis membeli genjer sambil membawa wadah-anyaman-bambu
Genjer-genjer sekarang akan dimasak

Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Nasi sepiring sambal jeruk di dipan
Genjer-genjer dimakan bersama nasi

Salam Rakyat Merdesa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s