Galeri

Apartemen: Wujud Dehumanisasi Masyarakat Perkotaan

Apartemen merupakan wujud baru pemukiman peradaban era modern. Dimana modernitas mengajarkan kita untuk selalu berkembang maju, mengkonsumsi sesuatu yang di anggap “layak” secara fisik. Hal ini terlihat pula pada pola pemukiman yang sedang menjadi trend dikalangan masyarakat elit perkotaan, yakni pola pemukiman apartemen. Jika masyarakat pada umumnya melihat hal ini sebagai hal yang sudah wajar oleh karena ini merupakan tanda dari kemajuan Kota Jakarta, namun tidak bagi saya secara pribadi. Saya melihat hal ini justru sebagai kemunduran bagi kehidupan sosio-kultural masyarakat Kota Jakarta. Ini semua akibat dari Globalisasi yang telah mengcengkram kehidupan Kota Jakarta. Yang kemudian berimbas pada perubahan pola perilaku masyarakatnya.

Dampak globalisasi yang kentara terlihat di Jakarta adalah makin banyaknya konsumsi pada masyarakat. Mulai dari konsumsi kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan hingga konsumsi barang mewah dan jasa. Banyak hal-hal yang dikorbankan dari tindakan manusia Jakarta yang konsumtif ini, misalnya ruang terbuka hijau yang harus digusur untuk dijadikan jalan raya atau pusat-pusat hiburan dan perbelanjaan. Tindakan konsumtif makin diperparah dengan tindakan fetish, Jean Baudrillard menganalogikan konsumsi pada masyarakat masa kini dengan bahasa dan sistem tanda masyarakat primitif dimana manusia sepanjang masa membutuhkan suatu simbol untuk dipuja atau disembah. Masyarakat sekarang memiliki kultus-kultus sendiri seperti terhadap kemasan benda-benda, citra (image), televisi, serta terhadap konsep kemajuan (progress) dan pertumbuhan (growth).

Hal ini terbukti dengan hadirnya apartemen yang kemudian menjadi momok bagi kehidupan perumahan “normal” pada kehidupan masyarakat Jakarta. Pengusaha developer keturunan Tionghoa maupun pribumi berlomba-lomba membangun wujud baru pemukiman yang bagi mereka layak huni dan membuat prestise seseorang dapat terlihat dengan menempati pemukiman tersebut. Berbagai media televisi sekarang ramai memberitakan mengenai perumahan elit kota yang akan meningkatkan citra masayarakat penduduk jakarta jika menempatinya. Lalu yang menjadi pertanyaan, dimana lagi ruang untuk masyarakat Jakarta bersosialisasi?

Benar saja, sekarang ini masyarakat Jakarta yang bestrata kelas atas sedang mengalami dehumanisasi. Jika kita melihat kembali apa yang telah dijelaskan oleh Marx, Proses dehumanisasi sebagaimana dikatakan oleh sosiolog Max Weber (1864-1920), secara lambat namun pasti, menggerogoti masyarakat kita. Industrialisasi yang memegang teguh prinsip-prinsip rasionalisasi telah melahirkan disenchantment of the world. Proses lunturnya daya tarik dunia karena semua yang ada dalam kehidupan bumi dapat dihitung secara rasional. Akibatnya, terjadilah penurunan kualitas kehidupan manusia (dehumanisasi), karena segala hal yang tadinya bersifat subjektif dapat diubah menjadi objektif, kualitatif menjadi kuantitatif. Dalam hal ini, kita melihat bahwa apartemen sebagi wujud baru pemukiman yang layak bagi masayarakat elit perkotaan, membuat masyarakat elit kota Jakarta hanya akan berorientasi pada hal-hal yang sifatnya baik secara kuantitas (Harga menentukan kualitas pemukiman), tidak lagi melihat logika awal, yakni kualitas, dimana pemukiman yang berkualitas tidak dipengaruhi sama sekali oleh besaran harga, namun justru dari sentuhan-sentuhan kehidupan sosio-kultural bernama “pergaulan”.

Mengapa mereka tidak lagi dapat bergaul secara sosial-budaya? Bayangkan, dalam sebuah apartemen mewah “agung podomoro madison park” yang berlokasi di Jakarta Barat, bagaimana lantai-lantai bertingkat itu kemudian membuat para penghuninya tidak lagi melihat sekelilingnya dalam hal interaksi. Mereka sudah terbiasa dan terprogam layaknya robot, untuk menikmati fasilitas yang diciptakan dengan membayar semua agunan yang ditawarkan. Dan tentunya hal ini akan membuat kehidupan mereka menjadi lebih individualitis, karena kepentingan pribadi mereka terasa sudah terpenuhi tanpa lagi membutuhkan interaksi dengan tetangga lantai atas maupun bawah. Sangat tidak manusiawi menurut pendapat pribadi saya.

Yang lebih pahit lagi, kemewahan-kemewahan ini terus mengancam kehidupan normal masayarakat jakarta, dengan mulai berlakunya penggusuran rumah-rumah warga secara perlahan dan bertahan menhadapi kapitalisme developer perumahan elit (baca: apartemen). James L. Watson dalam tulisannya berjudul “Globalization in Asia” mengutip Malcolm Waters mengenai pengertian globalisasi, menurut Waters sendiri globalisasi dilihat sebagai sebuah proses dimana kendala geografis atas tataran sosial dan budaya menyusut, sebagai konsekuensinya, orang menjadi semakin sadar atas hilangnya batas tersebut.Pada tataran yang lebih populer, globalisme atau globalisasi dihubungkan dengan gagasan yang dibawa / didorong oleh semangat kapitalis dan ditunjang oleh teknologi elektronik dan digital, yang pada akhirnya akan menghancurkan tradisi lokal dan menciptakan homogenisasi, world culture.

Kita akan melihat sebentar lagi terciptalah kehidupan robotic industrial, yang semua bersifat homogen, modern, dan dehumanisasi. Semua ini akan terwujud jika saja, negara ini tidak mampu lagi membendung kekuatan kapitalisme global yang kini tengah mencam kehidupan masyarakatnya, melalui propaganda kemewahan. Nilai-nilai dan norma yang dahulu terjalin dan terjaga oleh karena interaksi yang terjalin di masyarakat, nantinya akan semakin tidak berarti lagi, dan hanya akan berganti dengan sikap individualistis dan alienisasi kehidupan, yang semua berorientasi pada kehidupan peribadi. Tidak akan ada lagi kemampuan untuk sosialisasi. Hal ini tentunya menjadi perhatian kita bersama, khususnya pemerintah untuk memperhitungkan sebuah ironi dari tipuan bernama “modernisasi”. Mari kita kembali menuntut kinerja pmemerintah kota dalam hal pembangunan pemukiman Kota Jakarta, yang telah memberi ruang pada Kapitalisme yang notabene tak beradab.

Referensi

Marx, Karl. 1844. Human Requirement and Divisoin of Labour.

Suarez-Orozco, Marcelo M. and Desiree Baolian Qin-Hillard. 2004. Globalization; Culture and Education in the New Millennium. Berkeley: University of California Press.

Sutrisno, Mudji., dan Hendar Puranto. 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

 
 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s