Galeri

NII (Wujud Lain Imaji Nasionalisme di Indonesia)

Mohamad Wieldan Akbar

Antropologi Sosial

Pendahuluan

Kemunculan Negara Islam Indonesia yang didahulukan oleh sebuah peristiwa Pemberontakan diberbagai daerah di Indonesia. Di Jawa Barat, Sekarmadji Marijan Kartosuwiryo mendirikan Darul Islam (DI) dengan tujuan menentang penjajah Belanda di Indonesia. Akan tetapi, setelah makin kuat, Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 17 Agustus 1949 dan tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). Gerakan DI/TII juga menyebar ke Jawa Tengah, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Gerakan ini semakin masiv dan menimbulkan kegelisahan tersendiri bagi eksistensi NKRI, sehingga pada Pada tanggal 4 juni 1962, Kartosuwiryo berhasil ditanggap oleh pasukan Siliwangi di Gunung Geber, Majalaya, Jawa Barat. Akhirnya Kartosuwiryo dijatuhi hukuman mati 16 Agustus 1962.

Lalu pada era akhir tahun 2000-an, tepatnya pada tahun 2007, muncul kasus berdirinya pondok pesantren Az Zayitun yang merupakan tempat berlangsungnya kegiatan (neo) Negara Islam Indonesia. Lalu kemudian kasus-kasus terorisme yang belakangan ditengarai dilakukan oleh orang-orang NII. Enam dasawarsa telah lewat, sejak didirikannya, kehancurannya hingga penerusan gerakannya di seantero negeri, NII tetap menggeliat hidup. Berbagai gearakan mereka dirasa cukup meresahkan masyarakat luas oleh karena perekrutannya yang menghalalkan segala cara, termasuk brain washing bagi calon anggotanya.

Menjadi penting untuk bertanya mengapa gerakan ini sampai rela menggalang massa besar-besaran, dengan terus melakukan perekrutan, penggalangan dana dan pembentukan basis-basis kekuatan. Esai ini berusaha menggambarkan imaji nasionalisme dari ogranisasi gerakan Negara Islam Indonesia, yang dimana sejak enam dasarwarsa lalu telah menunjukan eksistensinya sebagai separatis dari NKRI dengan nasionalisme “pancasila”. Dengan merujuk kembali pada peristiwa pemberontakan DI/TII pada tahun 1949, penulis berusaha melihat gambaran ideologi NII yang menjadi imaji nasionalisme a la mereka selama ini.

Permasalahan

Betapapun berbahayanya organisasi gerakan ini bagi NKRI pada tahun 1949 dan hingga saat ini tetap dianggap sebagai organisasi yang illegal di negara ini, akan tetapi NII merupakan satu fenomena warga negara yang memiliki imaji “lain” mengenai nasionalisme Indonesia. Mereka tidak mendasarkan diri mereka kepada Pancasila yang selama ini dianggap sakral dan dipuja oleh kalangan nasionalis seperti Bung Karno, Bung Hata, Syahrir, dsb, akan tetapi bersandarkan pada sentimen religius, yakni Islam. Imaji mengenai tegaknya khilafah Islam di Indonesia yang di bangun oleh Kartosoewiryo pada tahun 1949 memberikan semangat peregerakan (neo) NII pada tahun 2000-an. Nasionalisme pada akhirnya dimaknai dengan melihat Islam & Al-quran sebagai basis negara impian mereka.

Secara garis besar, gerakan NII terbagi menjadi dua garis pemikiran besar yaitu fundamentalis dan pragmatis. NII fundamentalis adalah kelompok yang lebih mengedepankan ajaran Islam ketat (Salafi jihadi) dalam pola perjuangannya. Kelompok ini sangat keras memegang teguh ideologi dan prinsipnya. Sedangkan NII pragmatis menginginkan berdirinya negara Islam di Indonesia dengan menghalalkan segala macam cara dalam prosesnya, tanpa mengindahkan nilai-nilai keislaman itu sendiri, termasuk bekerjasama dengan siapa saja yang membantu programnya, terlepas dari perbedaan ideologi maupun agama. Adapun perbedaan pemikiran ini tetaplah mengacu pada satu cita-cita berdirinya Negara Islam yang berdaulat di tanah Indonesia. Islamic view yang menjadi basis perjuangan organisasi ini, yang kemudian berwujud pemberontakan pada tahun 1949.

Kemunculan NII kini setelah kehancurannya tahun 1962, masih menyisakan misteri yang belum terungkap. Apakah ini merupakan terusan perjuangan ideologis atau hanya oknum-oknum yang menggunakan nama NII untuk membuat keresahan di masyarakat. Karena sejauh ini berita-berita yang beredar di masyarakat menggambarkan dampak yang diberikan justru negatif, sehingga semakin memberikan stigma buruk pada gerakan NII secara khusus dan gerakan Islam secara umum. Terlepas dari permasalahan orisinil tidaknya peregrakan (neo) NII para era sekarang ini, background pemahaman mereka mengenai nasionalisme islam menjadi topik yang menggelitik untuk dibahas lebih dalam dibagian pembahasan. Bagaimana nasionalisme dipahami dengan point view yang berbeda dengan nasionalisme pancasila menjadi pertanyaan besar dalam esai ini.

Pembahasan

Dalam kasus nasional NII, kita dapat melihat bagaimana organisasi ini memiliki imaji akan berdirinya negara kekhalifahan Islam di Indonesia.  Konstruksi nasionalisme pada (neo) NII di era 2000-an ini jika dilandaskan pada teori “Triadic Structure of Nationalist Rhetoric” (Matthew levinger dan Paula Franklin: 2001). Dimana nasionalisme dijelaksan dengan melihat tiga aspek, yakni melalui kejayaan masa lalu (glorious past), kemunduran masa kini (degraded present) dan impian ideal di masa depan (Utopian future). Jika digambarkan maka akan berbentuk seperti ini:

Glorius Past  —> Degraded Present  —> Uthopian Future

Pada aspek kejayaan masa lalu, kita dapat melihat bahwa, Kartosoewiyo sebagai tokoh utama dalam organisasi gerakan ini, merupakan imaji kejayaan masa lalu bagi organisasi (neo) NII di era kini. Organisasi ini melandaskan cita-cita perjuangannya kepada nostalgia perjuangan Katrosoewiryo dkk di tahun 1949. Kejayaan DI/TII atau NII dimasa lalu yang dibangun lewat pemberontakan DI/TII di nusantara, menjadi imaji bagi organisasi (neo) NII bagi pembangunan paham nasionalisme “Islam” pada organisasi mereka. Kejayaan masa lalu menjadi penting untuk membangun konstruksi nasionalisme pada organisasi mereka.

            Pada aspek kemunduran dimasa kini, (neo) NII mengkritisi kehidupan masyarakat “Pancasila” Indonesia yang dinilai mereka telah gagal membawa pada kemakmuran dan hanya menciptakan kerusakan diberbagai aspek, seperti ekonomi, politik, sosial-budaya, dan terutama moral (agama). Mereka kemudian menseparatiskan diri dari nasionalisme a la Pancasila dan merekonstruksi ulang nasionalisme Islam dalam. Organisasi (neo) NII pada masa kini merasakan bahwa kehidupan berpancasila masyarakat Indonesia pada masa kini telah mengalami kegagalan diberbagai aspek kehidupan, sehingga perlu untuk menghidupkan kembali rasa kebangsaan yang dilandaskan oleh Islam dan Al-Quran, seperti yang dicita-citakan oleh Kartosoewiryo pada era 40-an silam.

            Lalu pada aspek terakhir kita melihat bahwa paham Islam /(neo) NII melandaskan diri mereka pada sebuah impan mengenai tataran masyarakat Islam yang ideal dimasa depan. Mereka percaya, dengan berdirinya Darul Islam atau Negara Islam Indonesia, maka permasalahan ekonomi, politik, sosial-budaya, serta moral di Indonesia dapat segera terbenahi. Akidah Islamiyah dan Al-Quran sebagai landasan mereka menjadi utopia paling ideal sebagai landasan Negara Islam Indonesia. Steven Grosby (2011), melihat terdapat kecenderungan bahwa melalui agama, individu memformulasikan tujuan dari keberadaanya; kerap kali relasi dari komunitasnya terhadap komunitas lain; dan karenanya, tempat dari individu dan komunitasnya dalam persepsi tatanan alam semesta. Pembenaran tatanan kehidupan yang benar adalah universal, sebagaimana ditunjukkan oleh keyakinan pada satu Ilah (Tuhan).

            Dari ketiga aspek ini kita melihat bahwa konstruksi nasionalisme a la NII sebenarnya bukan merupakan hal yang baru tercipta, oleh karena telah menyandarkan diri mereka pada cita-cita luhung Kartosoewiryo pada era 40-an. Keadaan masa kini juga turut mempengaruhi hidupnya paham Nasionalisme Islam oleh NII. Lalu kedua hal itu yang kemudian mengembangkan utopian future sebagai nasionalisme “khas” organisasi mereka, yang diyakini dapat membenahi tataran masyarakat di Indonesia.

Hukum Islam Hanya dapat dijalankan di Negara Islam dengan pemerintahan Islam (Mabadi Salasah) – Doktrin NII

Pancasila yang dalam hal ini telah dianggap gagal menyejahterakan masyarkat Indonesia, oleh sekelompok komunitas bernama  NII dimanfaatkan sebagai keadaan “kemunduran masa kini” dan menjadikan Pancasila seolah “musuh” dalam hal paham nasionalisme mereka. Anderson (1981) menyebutkan bahwa budaya, agama, dan sejarah dinasti bisa menjadi dasar pembentukan bangsa atau masyarakat imaji (imagined community). Kolonialisme yang dating dengan budaya, bahasa, dan agama berbeda dengan mudah dapat meyakinkan bangsa yang dijajah untuk menjadi satu entitas yang berbeda karena mereka memiliki akar budaya, kepercayaan, bahasa yang berbeda dari sosok penjajah mereka. Dalam hal ini, penjajah (Indonesia) dengan paham (Pancasila) berbeda kontras dengan paham (Islam) mereka, sehingga perlu untuk dijadikan landasan perlawanan mereka dan pembentukan komunitas imaji mereka (NII). Jika pada era 40-an Kartosoewiryo memantapkan pemberontakannya dengan melihat kegagalan Pancasila menghalau Belanda dalam agresi militernya, kini NII mendasarkan dirinya pada kegagalan Pancasila menyejahterakan kehidupan masyarakatnya.

Penutup

Pada bagian terakhir ini, penulis berusaha menggambarkan bagaimana kehadiran (neo) NII ditengah-tengah masyarakat di tahun 2007 melalui basis “pesantren Az Zayitun” merupakan gejala hadirnya bentuk nasionalisme lain yang ada pada masyarakat Indonesia yang sangat berbeda dengan nasionalisme bangsa Indonesia pada umumnya. Kehadiran mereka  merupakan wujud dari pemahaman akan hal nasionalisme yang dimiliki oleh suatu komunitas yang berbeda dari komunitas imaji bernama “Masyarakat Indonesia”.

            Dalam menggambarkan bagaimana nasionalisme itu terbentuk pada masyarakat organisasi NII penulis berusaha melihat bagaimana NII hadir dengan nasionalismenya melalui konstruksi masa silam, melihatnya pada kehidupan masa kini, kemudian mengimajinasikan dalam utopia masa depan. Penggambaran nasionalisme ini mungkin hanya dilihat dari rekonstruksinya, dan masih memilki kelemahan dalam analisa. Akan tetapi jika kita melihatnya dengan mendasarkan diri pada konstruksi “nasionalisme”, kita dapat merunutkan kembali sebab-musabab hadirnya nasionalisme pada komunitas NII ditengah-tengah kehidupan masyarakat Pancasila.

            Untuk melihat sebuah nasionalisme NII yang dalam hal ini merupakan bentuk rasa kebangsaan yang lain dari kehidupan masyarakat Indonesia, perlu juga untuk melihat kembali  sejarah dari perkembangan gerakan mereka sehingga kita dapat melihat evolusi ideologi dan nasionalisme pada (neo) NII pada masa kini. Meskipun terdengar ganjil untuk member istilah nasionalisme pada ideologi mereka, oleh karena mereka hanya segelintir orang yang berkumpul dalam masyarakat NII, akan tetapi jika kita menilik pada daya pandang mereka mengenai rasa kebangsaan yang dapat diwujudkan melalui Negara Islam Indonesia, maka telah dapat memenuhi kategori nasionalisme mereka yang melawan mainstream utama nasionalisme masyarakat Indonesia pada umumnya. Fenomena ini cukup menarik jika kita melihat bahwa, didalam mayoritas nasonalisme masyarakat Indonesia, masih dapat ditemui bentuk lain nasionalisme pada komunitas-komunitas imaji di Indonesia.

Daftar Pustaka

Referensi Buku dan Jurnal

Anderson, Benedict. (1983). Imagined Community: Reflection on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.

Grosby, Steven. (2011). Sejarah Nasionalisme: Asal Usul Bangsa dan Tanah Air (diterjemhkan oleh Teguh Wahyu). Jakarta: Pustaka Pelajar.

Levinger, Matthew dan Paula Franklin. (2001). Myth and Mobilitsation: The Tradic Structure  of Nationalist Rhetoric. Whasington: ASEN.

Referensi Internet

http://politik.kompasiana.com/2011/05/03/nasionalisme-nii/. (diakses pada 7 Mei 2012 pukul 12:00:18)

http://nasional.kompas.com/read/2011/05/03/03583451/NKRI.Versus.NII. (diakses pada 7 Mei 2012 pukul 12:30:06)

http://nii-crisis-center.com/home/?option=com_content&view=article&id=214 (diakses pada 7 Mei 2012 pukul 12:45:10)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s