Galeri

Review Buku Ayah Anak Beda Warna

Buku ini berisi mengenai kisah etnografis seorang putra Saroengallo, yang berusaha mempertanyakan sebuah peristiwa adat, yakni upacara rambu solo’ untuk sang ayah. Banyak yang ia pertanyakan, seperti Haruskah tradisi terus dipertahankan jika hal itu tidak sesuai lagi dengan zaman, atau membebani generasi penerus tradisi tersebut? Tradisi atau adat apakah yang perlu untuk dipertahankan? Apakah gotong royong benar-benar ada, ataukah itu hanya tindakan yang bersifat timbal balik (reciprocal) murni yang penuh perhitungan?

Dimensi kultural dan ekonomi


Buku ini secara naratif dan bertutur mengisahkan pergulatan yang dialami Tino dan keluarga bukan hanya melelahkan secara psikis, tetapi juga melibatkan ekonomi. Dalam kata lain, kematian orang Toraja, apalagi seorang bangsawan dan tokoh masyarakat seperti ayah Tino, selain memiliki dimensi kultural sekaligus mempunyai dimensi ekonomis. Dan biaya keseluruhan ritual pemakaman berikut tetek bengeknya menjadi tanggungan keluarga yang ditinggalkan.

Proses pemakaman tidak pernah sepi dari rapat-rapat adat. Tidak sepi dari jumlah orang yang terlibat. Rapat adat bukan untuk mendengarkan tingkat kesulitan keluarga yang ditinggalkan, tetapi lebih untuk mengedepankan adat dan keluarga mengikuti apa yang telah menjadi ”kehendak” adat. Jadi, persiapan dan pembicaraan serta rancangan yang sudah dilakukan di Jakarta, di mana ayah Tino dan keluarganya tinggal, bukan menjadi rujukan. Keputusan adat yang berlaku.

Pada dimensi ekonomi, Tino menyebut angka-angka sebagai wujud betapa fantastisnya biaya ritual adat. Angka-angka yang ditulisnya di halaman 156 hanyalah sebagian kecil dari jumlah yang fantastis. Coba kita dengarkan apa kata Tino Saroengallo mengenai angka-angka itu:

Dalam perhitungan kasar, untuk membeli dua kerbau, kami memerlukan dana sebesar Rp 28.500.000. Biaya perjalanan mengantar jenazah sudah menghabiskan dana Rp 38.000.000. Kalau semula Tandi menyatakan maksimum anak ke-5 menyumbang Rp 50.000.000, maka hal itu jelas tidak mungkin lagi. Akhirnya angka sumbangan dinaikkan menjadi Rp 90.000.000 untuk lima orang anak atau masing-masing Rp 18.000.000. Dari jumlah itu, teoritis kami hanya mampu menyumbang sekitar Rp 20.000.000 untuk persiapan dan pelaksanaan upacara.

Dalam berkisah Tino sering bergerak menggunakan kata ”saya” untuk menyebut dirinya. Namun, kadang beralih pada kata ”kami” untuk menunjukkan bahwa bukan hanya dirinya yang berada pada satu situasi tertentu. Nama-nama selain dirinya disebutkan sebagaimana adanya sehingga terdapat tidak sedikit nama dalam buku ini. Selain menyebut nama ibu kandungnya yang telah bercerai, Tino juga menyebut nama istri kedua ayahnya yang biasa dipanggilnya tante.

Dalam ”kisah adat” yang diceritakan, Tino Saroengallo tak mampu ”melawan” apalagi mengubah adat. Apa yang pernah ia pikirkan: lebih baik ayahnya dikuburkan di Jakarta. Simpel gampang dan tidak mahal, hanyalah pikiran belaka. Kuasa adat yang menentukan dan Tino serta saudara-saudaranya tidak kuasa menolaknya. Bahkan, kata Tino, kalau dihitung-hitung, utangnya baru akan lunas pada tahun 2014 (hal 335).

Poltik Keluarga

 Almond dan Verba (1984 menyatakan pendapatnya mengenai budayadalam kaitannya dengan politik sebagai suatu sikap orientasi yang khas dari suatu masyarakat terhadap sistem politik. Budaya politik adalah salah aspek dari nilai-nilai yang terdiri atas pengetahuan, adat istiadat, tahayul dan mitos dalam suatupopulasi tertentu. Kesemuanya dikenal dan diakui sebagian besar masyarakat yang memberikan rasionalisasi untuk menolak atau menerima nilai-nilai atau norma lain. Sehingga bisa dikatakan bahwa politik juga telah menelusuk kedunia agama,kegiatan ekonomi, sosial; kehidupan pribadi dan sosial secara luas dan memberikan corak suatu masyarakat dalam mengoperasionalisasikan caranya dalam menghadapi suatu masalah-masalah politik, semisal masalah legitimasi, pengaturan kekuasaan, proses pembuatan kebijakan pemerintah, dinamika partai politik, perilaku aparatnegara serta gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah.
Instrumen adat dalam hal ini mengatur masyarakat adat Tongkonan Kesu, untuk menjalankan upacara adat keluarga Saroengallo agar sesuai dengan adat. Legitimasi keukasaan yang dimilki oleh kelompok tetua adat dengan leluasa menggenggam ketidaktahuan keluarga Tino yang ia sebut sebagai Toraja kota, sehingga pada akhirnya diadakan pesta rambu solo’ sesuai dengan ketentuan adat yang mewah. Norma-norma kota ditolak, hal yang merupakan ciri khas dari instrumen kebudayaan dalam kehidupan politik masyarakat Toraja.
Adat ini demikian kuat, sehingga konon banyak masyarakat Toraja yang harus menjual sawah, tanah atau harta lain yang dimiliki untuk melaksanakan adat tersebut, karena jika tidak, akan dikucilkan oleh keluarga besar. Demikian pula penulis buku ini, ia terpaksa harus menjual sebgian tanah milik ayahnya, karena dana yang ia miliki bersama keempat saudaranya tidak cukup untuk membiayai upacara yang sangat mahal, yang mencapai lebih dari satu miliar rupiah.  Saroengalo memang menulis buku ini untuk menyampaikan kritik dan kemarahannya terhadap adat dan keluarga besarnya, namun demikian, banyak pengetahuan yang dapat kita peroleh tentang adat istiadat Toraja, misalnya peran keluarga besar, pembagian kasta yang menentukan jenis upacara pemakaman seseorang, jenis-jenis kerbau untuk upacara, perbedaan dengan adat di Bali, dan rincian upacara itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s